alexametrics
29.7 C
Tarakan
Wednesday, August 17, 2022

Tahun Ini, Hanya 3 Kasus Penyelundupan yang Diungkap

TARAKAN – Sejak pandemi Covid-19 mulai masuk ke Indonesia pada Maret lalu, pengungkapan kasus penyelundupan di Balai Karantina Pertanian (BKP) Kelas II Tarakan terjadi penurunan.

Hal tersebut dapat terlihat dari perbandingan data pada tahun 2019 dengan 2020, dimana pada tahun 2019 ada lima pengungkapan kasus dengan jumlah barang bukti yang cukup banyak. Sementara pada tahun 2020 hanya ada tiga pengungkapan kasus, yakni daging kerbau beku, sosis ayam dan tanduk rusa, serta barang buktinya tidak sebanyak pada tahun 2019.

Kepala BKP Kelas II Tarakan, Ahmad Alfaraby melalui Koordinator Fungsional Karantina Tumbuhan/POPT Ahli Muda, Indri Komalasari mengatakan, meski terjadi penurunan jumlah pengungkapan kasus, pihaknya memastikan pengawasan tetap dilakukan termasuk di Sebatik, Nunukan yang berbatasan langsung dengan Malaysia.

“Pengawasan tetap kita maksimalkan, tetap mematuhi protokol kesehatan (prokes), seperti menggunakan masker, menjaga jarak dan mencuci tangan menggunakan sabu, adapun hal ini kita lakukan untuk mengikuti adaptasi baru dan sebagai upaya tidak ada penyebaran Covid-19 dari pengawasan yang kita lakukan,” tuturnya, Senin (7/12).

Dirinya menjelaskan, pengawasan yang dilakukan BKP Kelas II Tarakan selama ini lebih mengutamakan pemahaman kepada masyarakat. Pihaknya selalu mengimbau tentang bahaya membawa makanan yang dimungkinkan menjadi media pembawa hama penyakit.

Baca Juga :  Lahan Pangkalan Udara AL Masih Disurvei

“Jadi kita tidak langsung melakukan penindakan, tetapi melakukan sosialisasi terlebih dahulu kepada masyarakat agar paham,” ujarnya.

Adapun sebelum pandemi Covid-19, ada kapal penumpang yang melayani pelayaran Tarakan-Tawau, Malaysia. Namun, sejak Malaysia memberlakukan lockdown seluruh jalur seperti pesawat dan kapal ke Malaysia juga ditutup sementara.

Tahun ini, BKP Tarakan menerima limpahan pengungkapan daging merek Alana illegal dari Pangkalan Angkatan Laut (Lantamal) XIII sebanyak dua kali. Berbeda di tahun 2019 lalu pengungkapan kasus untuk daging kerbau saja mencapai 3.908 kg dan menurun di tahun ini hanya sebanyak 1.600 kg, semuanya berasal dari Tawau, Malaysia.

“Selama orang yang membawa komoditas pertanian dan daging tidak bisa menunjukkan dokumen maka bisa ditolak dan dikembalikan. Adapun dalam penyelidikan, BKP Kelas II Tarakan memiliki penyidik sendiri dan bisa menerima limpahan tangkapan barang illegal, sesuai MoU antara Polri, TNI AL, TNI AD dan Karantina Pertanian,” bebernya.

Dirinya menjelaskan bahwa Pelabuhan Malundung Tarakan, sebenarnya dapat melakukan ekspor impor langsung. Namun, khusus ekspor impor, yang dibatasi pemerintah pusat seperti umbi lapis dan buah-buahan. (jnr/eza)

Baca Juga :  Belum Turun, Harga PCR di Tarakan Masih Rp 525 Ribu

 

Laporan Penangkapan BKP Kelas II Tarakan Tahun 2019

No Media Volume Asal Tujuan Alasan

Pembawa Jumlah Satuan Penangkapan

1 Tanduk Rusa 33 Buah Malaysia Nunukan Tidak memiliki seritifkat

Kesehatan dari negara asal

2 Daging Kerbau 3.908 Kg Malaysia Nunukan Tidak memiliki seritifkat

Beku Kesehatan dari negara asal

3 Ayam Filipina 17 Ekor Malaysia Sebatik Tidak memiliki seritifkat

Kesehatan dari negara asal

4 Burung Tekukur 6 Ekor Malaysia Sebatik Tidak memiliki seritifkat

Kesehatan dari negara asal

5 Burung Jalak 2 Ekor Malaysia Sebatik Tidak memiliki seritifkat

Kerbau Kesehatan dari negara asal

 

Laporan Penangkapan BKP Kelas II Tarakan Tahun 2020

No Media Volume Asal Tujuan Alasan

Pembawa Jumlah Satuan Penangkapan

1 Daging Kerbau 1.600 Kg Malaysia Tarakan Tidak memiliki seritifkat

Beku Kesehatan dari negara asal

2 Sosis Ayam 10 Kg Malaysia Tarakan Tidak memiliki seritifkat

Kesehatan dari negara asal

3 Tanduk Rusa 50 Kg Malaysia Nunukan Tidak memiliki seritifkat

Kesehatan dari negara asal

TARAKAN – Sejak pandemi Covid-19 mulai masuk ke Indonesia pada Maret lalu, pengungkapan kasus penyelundupan di Balai Karantina Pertanian (BKP) Kelas II Tarakan terjadi penurunan.

Hal tersebut dapat terlihat dari perbandingan data pada tahun 2019 dengan 2020, dimana pada tahun 2019 ada lima pengungkapan kasus dengan jumlah barang bukti yang cukup banyak. Sementara pada tahun 2020 hanya ada tiga pengungkapan kasus, yakni daging kerbau beku, sosis ayam dan tanduk rusa, serta barang buktinya tidak sebanyak pada tahun 2019.

Kepala BKP Kelas II Tarakan, Ahmad Alfaraby melalui Koordinator Fungsional Karantina Tumbuhan/POPT Ahli Muda, Indri Komalasari mengatakan, meski terjadi penurunan jumlah pengungkapan kasus, pihaknya memastikan pengawasan tetap dilakukan termasuk di Sebatik, Nunukan yang berbatasan langsung dengan Malaysia.

“Pengawasan tetap kita maksimalkan, tetap mematuhi protokol kesehatan (prokes), seperti menggunakan masker, menjaga jarak dan mencuci tangan menggunakan sabu, adapun hal ini kita lakukan untuk mengikuti adaptasi baru dan sebagai upaya tidak ada penyebaran Covid-19 dari pengawasan yang kita lakukan,” tuturnya, Senin (7/12).

Dirinya menjelaskan, pengawasan yang dilakukan BKP Kelas II Tarakan selama ini lebih mengutamakan pemahaman kepada masyarakat. Pihaknya selalu mengimbau tentang bahaya membawa makanan yang dimungkinkan menjadi media pembawa hama penyakit.

Baca Juga :  Lahan Pangkalan Udara AL Masih Disurvei

“Jadi kita tidak langsung melakukan penindakan, tetapi melakukan sosialisasi terlebih dahulu kepada masyarakat agar paham,” ujarnya.

Adapun sebelum pandemi Covid-19, ada kapal penumpang yang melayani pelayaran Tarakan-Tawau, Malaysia. Namun, sejak Malaysia memberlakukan lockdown seluruh jalur seperti pesawat dan kapal ke Malaysia juga ditutup sementara.

Tahun ini, BKP Tarakan menerima limpahan pengungkapan daging merek Alana illegal dari Pangkalan Angkatan Laut (Lantamal) XIII sebanyak dua kali. Berbeda di tahun 2019 lalu pengungkapan kasus untuk daging kerbau saja mencapai 3.908 kg dan menurun di tahun ini hanya sebanyak 1.600 kg, semuanya berasal dari Tawau, Malaysia.

“Selama orang yang membawa komoditas pertanian dan daging tidak bisa menunjukkan dokumen maka bisa ditolak dan dikembalikan. Adapun dalam penyelidikan, BKP Kelas II Tarakan memiliki penyidik sendiri dan bisa menerima limpahan tangkapan barang illegal, sesuai MoU antara Polri, TNI AL, TNI AD dan Karantina Pertanian,” bebernya.

Dirinya menjelaskan bahwa Pelabuhan Malundung Tarakan, sebenarnya dapat melakukan ekspor impor langsung. Namun, khusus ekspor impor, yang dibatasi pemerintah pusat seperti umbi lapis dan buah-buahan. (jnr/eza)

Baca Juga :  Memori Banding Herman Tawau Dikirim ke PT

 

Laporan Penangkapan BKP Kelas II Tarakan Tahun 2019

No Media Volume Asal Tujuan Alasan

Pembawa Jumlah Satuan Penangkapan

1 Tanduk Rusa 33 Buah Malaysia Nunukan Tidak memiliki seritifkat

Kesehatan dari negara asal

2 Daging Kerbau 3.908 Kg Malaysia Nunukan Tidak memiliki seritifkat

Beku Kesehatan dari negara asal

3 Ayam Filipina 17 Ekor Malaysia Sebatik Tidak memiliki seritifkat

Kesehatan dari negara asal

4 Burung Tekukur 6 Ekor Malaysia Sebatik Tidak memiliki seritifkat

Kesehatan dari negara asal

5 Burung Jalak 2 Ekor Malaysia Sebatik Tidak memiliki seritifkat

Kerbau Kesehatan dari negara asal

 

Laporan Penangkapan BKP Kelas II Tarakan Tahun 2020

No Media Volume Asal Tujuan Alasan

Pembawa Jumlah Satuan Penangkapan

1 Daging Kerbau 1.600 Kg Malaysia Tarakan Tidak memiliki seritifkat

Beku Kesehatan dari negara asal

2 Sosis Ayam 10 Kg Malaysia Tarakan Tidak memiliki seritifkat

Kesehatan dari negara asal

3 Tanduk Rusa 50 Kg Malaysia Nunukan Tidak memiliki seritifkat

Kesehatan dari negara asal

Most Read

Artikel Terbaru

/