alexametrics
26 C
Tarakan
Monday, August 8, 2022

Menang Hitung Cepat Pilgub Kaltara, Zainal-Yansen Ajak Warga Bersatu

SEJUMLAH lembaga survei merilis hasil perhitungan cepat sementara Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur (Pilgub) Kaltara 2020. Cagub-Cawagub Kaltara nomor urut 3, Drs. H. Zainal Arifin Paliwang – Dr. Yansen TP, M.Si, (Ziyap) mengungguli dua pasangan calon lainnya.

Data sementara yang dirilis KPU melalui situs pilkada2020.kpu.go.id juga menampilkan keunggulan Ziyap hingga pukul 21.26 WITA tadi malam. Ketua Tim Koalisi Parpol Ziyap, Norhayati Andris dalam jumpa pers bersama Tim Koalisi Partai Politik dan Relawan Ziyap di Tarakan Plaza Hotel, mengatakan pihaknya kini tengah menunggu perhitungan yang dilakukan Komisi Pemilihan Umum (KPU).

“Sebagai ketua koalisi Ziyap, saya mengucapkan terimakasih kepada seluruh rekan-rekan partai koalisi, relawan yang telah berjuang untuk memenangkan Ziyap. Quick count saat ini di angka 98,2 persen dan hasil Ziyap 45,11 persen,” ungkap Norhayati.

Norhayati juga mengucapkan terima kasih kepada dua paslon lainnya, terkhusus kepada H. Udin Hianggio dan Dr. H. Irianto Lambrie selama kepemimpinannya di Kaltara. Ia pun mengajak semua pihak untuk bersatu dan tak lagi berkubu-kubu.

Juru Bicara Ziyap, Ibnu Saud mengatakan beberapa hari ke depan, pihaknya berencana untuk berkomunikasi dengan Irianto dan Udin, sebab kompetisi Pilgub telah berakhir.

“Semua yang terjadi ini dinamika demokrasi, itu sudah biasa dan akhirnya rakyat yang menentukan pilihan. Kami berkomitmen siap menang dan kalah, pada hari ini kami menunggu perhitungan dari KPU, walaupun kami sudah diunggulkan di atas 10 persen dari paslon lain. Tapi kami tetap menunggu dengan sabar, apa pun hasilnya kami siap menerima,” ujar politisi Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) ini.

Sekretaris Ziyap, Muddain menambahkan Ziyap akan mengawal janjinya. “Atas nama tim pemenangan, saya ingin mengajak paslon 1 dan 2 agar daat bergandengan tangan membangun Kaltara ke depannya,” singkat Politisi Partai Demokrat ini.

Cagub Kaltara terpilih, Zainal mengatakan akan terus mengawal hasil hingga akhir. “Saya tidak menyangka bisa mendapatkan hasil sebanyak itu, karena lawan kami petahana,” ujar Zainal.

Namun, dalam hal ini Zainal bersyukur akan masyarakat Kaltara yang dianggap dapat memilih dengan hati. “Mulai hari ini sudah tidak ada lagi yang namanya nomor 1, 2 dan 3 karena kita sudah jadi satu di dalam rumah kita di Kaltara. Kita harus nyaman, aman dan sejahtera,” bebernya.

Zainal juga menyampaikan tidak akan menjadi pemimpin yang anti kritik, sebab kritik merupakan tanda sayang dan perhatian dari masyarakat. “Pertandingan apa pun, pasti ada kalah dan menang. Makanya kami mengucapkan banyak terima kasih kepada masyarakat Kaltara yang sudah memberi kepercayaan kepada Ziyap untuk memimpin Kaltara,” tuturnya.

Bersamaan hal tersebut, Zainal mengatakan bahwa pihaknya telah menerima ucapan selamat dari paslon nomor 1 dan 2 melalui sejumlah pemberitaan media. “Mudah-mudahan dalam waktu dekat kami bisa melakukan silaturahmi dengan paslon lain, dalam proses pemilihan biasa ada kerikil kecil, tapi tidak ada lagi dendam dan rasa marah karena itulah politik,” ujarnya.

Zainal juga merumuskan program kerja 100 hari bersama tim ahli dan partai pendukungnya menuntaskan janji politiknya nanti. “Nanti kita lihat mana yang prioritas dan diutamakan, sesuai kebutuhan masyarakat Kaltara. Apa yang sudah kami janjikan itu yang kami prioritaskan,” pungkasnya. 

JALANNYA PENCOBLOSAN

Jika melihat hasil Pilgub di Kaltara misalnya, Ziyap cukup mendominasi, bahkan unggul jauh dibanding dua paslon lainnya. Beberapa tempat pemungutan suara (TPS) yang dipantau Radar Tarakan diketahui dimenangkan olah Ziyap.

Zainal bersama sang istri mencoblos TPS 13 Karang Rejo, Tarakan Tengah. Suara Ziyap 231 dari 307 pemilih di TPS ini. Sebelum pencoblosan, Zainal mengaku sangat optimistis akan meraup suara 49 hingga 52 persen se-Kaltara.

“Zainal yang saat sudah jadi gubernur atau belum jadi gubernur, tidak pernah melihat tempat dan dengan siapa berhadapan. Saya tidak akan berubah dan memang bawaan saya sudah seperti ini,” ujarnya. 

Baca Juga :  Terancam Tak Bisa Memilih

PASIEN COVID-19 MEMILIH VIA TELEPON

Pasien terkonfirmasi positif Covid-19 tetap menyalurkan hak pilihnya pada Pilgub Kaltara 2020.

Anggota KPU Tarakan Divisi Perencanaan dan Data, Jumaidah mengatakan, petugas tetap melayani pasien sakit, baik yang rawat inap biasa maupun pasien Covid-19. “Itu terdata, dengan data yang diberikan rumah sakit lengkap dengan photokopi kartu tanda penduduk (KTP) yang diberikan pihak rumah sakit,” terangnya kepada awak media, usai mengawasi pemilihan di RSUD Tarakan, Rabu (9/12) kemarin.

Proses pemungutan suara di rumah sakit, anggota kelompok penyelenggara pemungutan suara (KPPS) mendatangi satu per satu pasien yang dirawat inap biasa, dari kamar ke kamar.

Sedangkan untuk pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit, tepatnya di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tarakan, dilayani oleh petugas dari TPS 02, Kelurahan Kampung Satu. Sementara pasien rawat inap biasa dilayani TPS 01, Kelurahan Kampung Satu.

Dijelaskan Jumaidah, sebanyak 30 pasien Covid-19 yang ada di RSUD Tarakan. Adapun mekanisme pencoblosan bagi pasien terkonfirmasi positif Covid-19 ini dilakukan oleh pendamping, atas persetujuan dan pilihan pasangan calon (paslon) dari pasien tersebut. “Ada pendamping oleh orang yang dipercaya untuk mencobloas, tapi dengan persetujuan dan pilihan dari pasien tersebut. Sejauh ini tidak ada komplain dari pasien positif, karena mereka juga mengerti tidak bisa memilih langsung,” lanjutnya.

Orang yang dimaksud pendamping tersebut merupakan tenaga medis. Sedangkan untuk komunikasi dengan pasien terkonfirmasi, dilakukan melalui sambungan telepon. “Jadi satu per satu ditelepon dan ditanya pilihannya nomor berapa, kemudian dicobloskan oleh pendamping tersebut dan itu menjadi rahasia si pasien dan yang mendampingi,” bebernya.

Mekanisme pemilihan ini guna mengantisipasi tambahan kasus Covid-19 atau klaster Pemilihan Gubernur (Pilgub) Kalimantan Utara (Kaltara) 2020. “Jadi tidak bersentuhan langsung. Kita mengantisipasi itu sudah jauh hari, mulai dari rekrutmen KPPS, protokol kesehatan yang ketat di TPS, bahkan tidak menghilangkan hak pilih tapi tetap dengan protokol kesehatan,” tutupnya.

662 WARGA BINAAN MENCOBLOS

Di Lembaga Permasyarakat (Lapas) Kelas II-A Tarakan berjalan dengan penerapan protokoler kesehatan (prokes) yang ketat. Meskipun Pilkada tahun ini hampir semua pemilih merupakan warga binaan dan tidak ada pemilih dari luar lapas, namun petugas KPPS tetap memperketat prokes.

Diketahui, terdapat 662  pemilih warga binaan di Lapas Kelas II-A Tarakan yang memberikan hak pilihnya pada Pilgub. Terdapat dua TPS di dalam Lapas, dari jumlah daftar pemilih tetap (DPT) sebanyak 313 orang di TPS 17, sebanyak 304 orang memberikan hak pilihnya. Kemudian di TPS 16 ada 349 DPT dan pemilih yang mencoblos sebanyak 273 orang.

Kepala Lapas Kelas II-A Tarakan, Yosef Benyamin Yembise mengatakan, dari data yang dimiliki pihaknya bahwa dalam pilkada kali ini tingkat partisipasi warga binaan meningkat. Dirinya pun mengapresiasi terhadap tingginya tingkat partisipasi warga binaan yang memberikan hak suaranya. Bahkan, KPPS juga memastikan pemungutan suara berjalan lancar dan menerapkan prokes. “Masih ada juga warga binaan kita yang tidak memilih karena tidak memiliki KTP,” katanya.

Dibeberkan Yosep, beberapa warga binaan yang tidak memiliki KTP lantaran ada yang berada dari luar Tarakan. Sehingga saat dilakukan perekaman KTP elektronik di dalam Lapas, banyak warga binaan yang datanya tidak ada dan ada yang memiliki data ganda. “Dari 1.087 penghuni, tidak semua bisa menjalankan pencoblosan karena ada syarat yang tidak terpenuhi,” bebernya.

Terhadap warga binaan di Lapas Kelas II-A Tarakan, dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Tarakan sudah melakukan jemput bola untuk untuk melakukan perekaman data biometrik. Terdapat 400 warga binaan saja yang dapat melakukan perekaman dan mendapat KTP.  “Yang penting adalah untuk pemenuhan hak mereka, meski tidak semua bisa melakukannya,” imbuhnya.

Baca Juga :  Harga Komoditi Mulai Naik, Wali Kota Bilang Begini

Sementara itu, Ketua KPPS 17 dalam Lapas, Nanang Rujiansyah mengatakan, antusias warga binaan di dalam Lapas cukup baik. Ia memastikan warga binaan yang memberikan hak suara pun diketahui tanpa paksaan dan pihaknya hanya memberikan imbauan untuk menggunakan hak suaranya. “Kita yakin, semua hak para pemilih digunakan sebaiknya,” ujarnya.

“Di dalam TPS kita siapkan 6 kursi di dalam dan jarak sesuai protokol kesehatan. Intinya, kita benar-benar prokes kita ikuti,” tutupnya.

MASIH ADA YANG TAK GUNAKAN HAK PILIH

Kendati demikian, pada sejumlah TPS, tingkat partisipasi justru masih jauh dari yang diharapkan. Pandemi Covid-19 diduga menjadi salah satu alasan, masih ada pemilih yang enggan menggunakan hak pilihnya.

Ketua KPPS 12, Kelurahan Pamusian, Usman mengatakan, dari 401 DPT di TPS 12, hanya 233 orang yang menyalurkan hak pilih. “Saat kita mendistribusikan C-6 di RT 14 dan RT 15, banyak warga yang sudah mengatakan tidak akan hadir ke TPS, salah satu alasannya karena pandemi Covid-19,” ungkapnya, Rabu (9/12).

Alasan tersebut diperkuat dengan adanya peningkatan kasus di Kelurahan Pamusian yang menjadikan warga enggan ke TPS. “Padahal kita sudah sosialisasikan, namun itu kembali ke masyarakat, karena memang kondisinya di sini terjadi peningkatan yang signifikan, sehingga ada kekhawatiran untuk mendatangi TPS,” ucapnya.

Adapun di TPS 12 Kelurahan Pamusian tempat Calon Gubernur Kaltara, H. Udin Hianggio, paslon nomor urut 1 U2OK berhasil unggul jauh dari paslon lainnya dengan mendapatkan 125 suara. “Kalau U2OK 125 suara, Iraw 38 suara dan Ziyap 64 suara,” ungkapnya.

“Kita juga melakukan jemput bola mendatangi warga yang tidak bisa ke TPS karena sakit atau sedang melakukan isolasi mandiri, untuk yang isolasi mandiri, dari rencana 7 orang, hanya 5 orang saja yang memberikan hak suaranya, sementara 2 orang lainnya menolak memberikan hak suaranya,” ungkapnya.

Masih adanya warga yang enggan ke TPS juga diungkapkan Ketua KPPS 13, Kelurahan Selumit Pantai, Rahmat Hidayat dimana hampir setengah warga yang masuk dalam DPT tidak mendatangi TPS untuk memberikan hak suaranya. “Hanya setengahnya saja yang memberikan hak suara, setengahnya tidak memberikan hak suara, padahal kita jauh-jauh sudah mensosialsiasikannya,” bebernya.

Ada beberapa alasan yang membuat warga enggan datang ke TPS, salah satunya karena pandemi Covid-19. “Selain Covid-19, ada juga faktor lain yakni kondisi cuaca, memang sejak pagi hujan deras mengguyur Kota Tarakan,” ujarnya.

Adapun di TPS 13 Kelurahan Selumit Pantai, ada 166 warga yang memberikan hak suaranya. 160 suara di antaranya sah dan sisanya 6 suara dinyatakan tidak sah. “Untuk yang unggul di TPS ini  adalah paslon nomor urut 2 Iraw dengan 71 suara disusul paslon nomor urut 3 Ziyap dengan 51 suara dan terakhir paslon nomor urut 1 U2OK dengan 38 suara,” ucapnya.

Salah satunya warga RT 11 Kelurahan Selumit Pantai, Indri Apriani yang memberikan hak suaranya sebagai bentuk partisipasi dalam pilkada tahun ini. “Ini merupakan kali ketiga saya ikut mencoblos, meski kondisinya saat ini pandemi Covid-19, tidak membuat kita tidak memberikan hak suara, karena suara ini menjadi penentu Kaltara untuk 5 tahun ke depannya,” bebernya.

Dirinya mengakui sedikit khawatir dengan kondisi saat ini, mengingat Tarakan saat ini masih terjadi peningkatan kasus Covid-19, sehingga sempat berpikir untuk tidak memberikan hak suara. “Sempat kepikiran untuk itu (tidak memberikan hak suara), namun saya berpikir ulang lagi, suara saya ini bisa menjadi penentu siapa pemimpin Kaltara untuk 5 tahun kedepan, jadi saya beranikan diri ke TPS,” pungkasnya. (shy/*/one/jnr/lim)

SEJUMLAH lembaga survei merilis hasil perhitungan cepat sementara Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur (Pilgub) Kaltara 2020. Cagub-Cawagub Kaltara nomor urut 3, Drs. H. Zainal Arifin Paliwang – Dr. Yansen TP, M.Si, (Ziyap) mengungguli dua pasangan calon lainnya.

Data sementara yang dirilis KPU melalui situs pilkada2020.kpu.go.id juga menampilkan keunggulan Ziyap hingga pukul 21.26 WITA tadi malam. Ketua Tim Koalisi Parpol Ziyap, Norhayati Andris dalam jumpa pers bersama Tim Koalisi Partai Politik dan Relawan Ziyap di Tarakan Plaza Hotel, mengatakan pihaknya kini tengah menunggu perhitungan yang dilakukan Komisi Pemilihan Umum (KPU).

“Sebagai ketua koalisi Ziyap, saya mengucapkan terimakasih kepada seluruh rekan-rekan partai koalisi, relawan yang telah berjuang untuk memenangkan Ziyap. Quick count saat ini di angka 98,2 persen dan hasil Ziyap 45,11 persen,” ungkap Norhayati.

Norhayati juga mengucapkan terima kasih kepada dua paslon lainnya, terkhusus kepada H. Udin Hianggio dan Dr. H. Irianto Lambrie selama kepemimpinannya di Kaltara. Ia pun mengajak semua pihak untuk bersatu dan tak lagi berkubu-kubu.

Juru Bicara Ziyap, Ibnu Saud mengatakan beberapa hari ke depan, pihaknya berencana untuk berkomunikasi dengan Irianto dan Udin, sebab kompetisi Pilgub telah berakhir.

“Semua yang terjadi ini dinamika demokrasi, itu sudah biasa dan akhirnya rakyat yang menentukan pilihan. Kami berkomitmen siap menang dan kalah, pada hari ini kami menunggu perhitungan dari KPU, walaupun kami sudah diunggulkan di atas 10 persen dari paslon lain. Tapi kami tetap menunggu dengan sabar, apa pun hasilnya kami siap menerima,” ujar politisi Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) ini.

Sekretaris Ziyap, Muddain menambahkan Ziyap akan mengawal janjinya. “Atas nama tim pemenangan, saya ingin mengajak paslon 1 dan 2 agar daat bergandengan tangan membangun Kaltara ke depannya,” singkat Politisi Partai Demokrat ini.

Cagub Kaltara terpilih, Zainal mengatakan akan terus mengawal hasil hingga akhir. “Saya tidak menyangka bisa mendapatkan hasil sebanyak itu, karena lawan kami petahana,” ujar Zainal.

Namun, dalam hal ini Zainal bersyukur akan masyarakat Kaltara yang dianggap dapat memilih dengan hati. “Mulai hari ini sudah tidak ada lagi yang namanya nomor 1, 2 dan 3 karena kita sudah jadi satu di dalam rumah kita di Kaltara. Kita harus nyaman, aman dan sejahtera,” bebernya.

Zainal juga menyampaikan tidak akan menjadi pemimpin yang anti kritik, sebab kritik merupakan tanda sayang dan perhatian dari masyarakat. “Pertandingan apa pun, pasti ada kalah dan menang. Makanya kami mengucapkan banyak terima kasih kepada masyarakat Kaltara yang sudah memberi kepercayaan kepada Ziyap untuk memimpin Kaltara,” tuturnya.

Bersamaan hal tersebut, Zainal mengatakan bahwa pihaknya telah menerima ucapan selamat dari paslon nomor 1 dan 2 melalui sejumlah pemberitaan media. “Mudah-mudahan dalam waktu dekat kami bisa melakukan silaturahmi dengan paslon lain, dalam proses pemilihan biasa ada kerikil kecil, tapi tidak ada lagi dendam dan rasa marah karena itulah politik,” ujarnya.

Zainal juga merumuskan program kerja 100 hari bersama tim ahli dan partai pendukungnya menuntaskan janji politiknya nanti. “Nanti kita lihat mana yang prioritas dan diutamakan, sesuai kebutuhan masyarakat Kaltara. Apa yang sudah kami janjikan itu yang kami prioritaskan,” pungkasnya. 

JALANNYA PENCOBLOSAN

Jika melihat hasil Pilgub di Kaltara misalnya, Ziyap cukup mendominasi, bahkan unggul jauh dibanding dua paslon lainnya. Beberapa tempat pemungutan suara (TPS) yang dipantau Radar Tarakan diketahui dimenangkan olah Ziyap.

Zainal bersama sang istri mencoblos TPS 13 Karang Rejo, Tarakan Tengah. Suara Ziyap 231 dari 307 pemilih di TPS ini. Sebelum pencoblosan, Zainal mengaku sangat optimistis akan meraup suara 49 hingga 52 persen se-Kaltara.

“Zainal yang saat sudah jadi gubernur atau belum jadi gubernur, tidak pernah melihat tempat dan dengan siapa berhadapan. Saya tidak akan berubah dan memang bawaan saya sudah seperti ini,” ujarnya. 

Baca Juga :  Bagikan 40 Ribu Masker

PASIEN COVID-19 MEMILIH VIA TELEPON

Pasien terkonfirmasi positif Covid-19 tetap menyalurkan hak pilihnya pada Pilgub Kaltara 2020.

Anggota KPU Tarakan Divisi Perencanaan dan Data, Jumaidah mengatakan, petugas tetap melayani pasien sakit, baik yang rawat inap biasa maupun pasien Covid-19. “Itu terdata, dengan data yang diberikan rumah sakit lengkap dengan photokopi kartu tanda penduduk (KTP) yang diberikan pihak rumah sakit,” terangnya kepada awak media, usai mengawasi pemilihan di RSUD Tarakan, Rabu (9/12) kemarin.

Proses pemungutan suara di rumah sakit, anggota kelompok penyelenggara pemungutan suara (KPPS) mendatangi satu per satu pasien yang dirawat inap biasa, dari kamar ke kamar.

Sedangkan untuk pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit, tepatnya di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tarakan, dilayani oleh petugas dari TPS 02, Kelurahan Kampung Satu. Sementara pasien rawat inap biasa dilayani TPS 01, Kelurahan Kampung Satu.

Dijelaskan Jumaidah, sebanyak 30 pasien Covid-19 yang ada di RSUD Tarakan. Adapun mekanisme pencoblosan bagi pasien terkonfirmasi positif Covid-19 ini dilakukan oleh pendamping, atas persetujuan dan pilihan pasangan calon (paslon) dari pasien tersebut. “Ada pendamping oleh orang yang dipercaya untuk mencobloas, tapi dengan persetujuan dan pilihan dari pasien tersebut. Sejauh ini tidak ada komplain dari pasien positif, karena mereka juga mengerti tidak bisa memilih langsung,” lanjutnya.

Orang yang dimaksud pendamping tersebut merupakan tenaga medis. Sedangkan untuk komunikasi dengan pasien terkonfirmasi, dilakukan melalui sambungan telepon. “Jadi satu per satu ditelepon dan ditanya pilihannya nomor berapa, kemudian dicobloskan oleh pendamping tersebut dan itu menjadi rahasia si pasien dan yang mendampingi,” bebernya.

Mekanisme pemilihan ini guna mengantisipasi tambahan kasus Covid-19 atau klaster Pemilihan Gubernur (Pilgub) Kalimantan Utara (Kaltara) 2020. “Jadi tidak bersentuhan langsung. Kita mengantisipasi itu sudah jauh hari, mulai dari rekrutmen KPPS, protokol kesehatan yang ketat di TPS, bahkan tidak menghilangkan hak pilih tapi tetap dengan protokol kesehatan,” tutupnya.

662 WARGA BINAAN MENCOBLOS

Di Lembaga Permasyarakat (Lapas) Kelas II-A Tarakan berjalan dengan penerapan protokoler kesehatan (prokes) yang ketat. Meskipun Pilkada tahun ini hampir semua pemilih merupakan warga binaan dan tidak ada pemilih dari luar lapas, namun petugas KPPS tetap memperketat prokes.

Diketahui, terdapat 662  pemilih warga binaan di Lapas Kelas II-A Tarakan yang memberikan hak pilihnya pada Pilgub. Terdapat dua TPS di dalam Lapas, dari jumlah daftar pemilih tetap (DPT) sebanyak 313 orang di TPS 17, sebanyak 304 orang memberikan hak pilihnya. Kemudian di TPS 16 ada 349 DPT dan pemilih yang mencoblos sebanyak 273 orang.

Kepala Lapas Kelas II-A Tarakan, Yosef Benyamin Yembise mengatakan, dari data yang dimiliki pihaknya bahwa dalam pilkada kali ini tingkat partisipasi warga binaan meningkat. Dirinya pun mengapresiasi terhadap tingginya tingkat partisipasi warga binaan yang memberikan hak suaranya. Bahkan, KPPS juga memastikan pemungutan suara berjalan lancar dan menerapkan prokes. “Masih ada juga warga binaan kita yang tidak memilih karena tidak memiliki KTP,” katanya.

Dibeberkan Yosep, beberapa warga binaan yang tidak memiliki KTP lantaran ada yang berada dari luar Tarakan. Sehingga saat dilakukan perekaman KTP elektronik di dalam Lapas, banyak warga binaan yang datanya tidak ada dan ada yang memiliki data ganda. “Dari 1.087 penghuni, tidak semua bisa menjalankan pencoblosan karena ada syarat yang tidak terpenuhi,” bebernya.

Terhadap warga binaan di Lapas Kelas II-A Tarakan, dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Tarakan sudah melakukan jemput bola untuk untuk melakukan perekaman data biometrik. Terdapat 400 warga binaan saja yang dapat melakukan perekaman dan mendapat KTP.  “Yang penting adalah untuk pemenuhan hak mereka, meski tidak semua bisa melakukannya,” imbuhnya.

Baca Juga :  Jangan ‘Tergiur’ di Wilayah Perbatasan

Sementara itu, Ketua KPPS 17 dalam Lapas, Nanang Rujiansyah mengatakan, antusias warga binaan di dalam Lapas cukup baik. Ia memastikan warga binaan yang memberikan hak suara pun diketahui tanpa paksaan dan pihaknya hanya memberikan imbauan untuk menggunakan hak suaranya. “Kita yakin, semua hak para pemilih digunakan sebaiknya,” ujarnya.

“Di dalam TPS kita siapkan 6 kursi di dalam dan jarak sesuai protokol kesehatan. Intinya, kita benar-benar prokes kita ikuti,” tutupnya.

MASIH ADA YANG TAK GUNAKAN HAK PILIH

Kendati demikian, pada sejumlah TPS, tingkat partisipasi justru masih jauh dari yang diharapkan. Pandemi Covid-19 diduga menjadi salah satu alasan, masih ada pemilih yang enggan menggunakan hak pilihnya.

Ketua KPPS 12, Kelurahan Pamusian, Usman mengatakan, dari 401 DPT di TPS 12, hanya 233 orang yang menyalurkan hak pilih. “Saat kita mendistribusikan C-6 di RT 14 dan RT 15, banyak warga yang sudah mengatakan tidak akan hadir ke TPS, salah satu alasannya karena pandemi Covid-19,” ungkapnya, Rabu (9/12).

Alasan tersebut diperkuat dengan adanya peningkatan kasus di Kelurahan Pamusian yang menjadikan warga enggan ke TPS. “Padahal kita sudah sosialisasikan, namun itu kembali ke masyarakat, karena memang kondisinya di sini terjadi peningkatan yang signifikan, sehingga ada kekhawatiran untuk mendatangi TPS,” ucapnya.

Adapun di TPS 12 Kelurahan Pamusian tempat Calon Gubernur Kaltara, H. Udin Hianggio, paslon nomor urut 1 U2OK berhasil unggul jauh dari paslon lainnya dengan mendapatkan 125 suara. “Kalau U2OK 125 suara, Iraw 38 suara dan Ziyap 64 suara,” ungkapnya.

“Kita juga melakukan jemput bola mendatangi warga yang tidak bisa ke TPS karena sakit atau sedang melakukan isolasi mandiri, untuk yang isolasi mandiri, dari rencana 7 orang, hanya 5 orang saja yang memberikan hak suaranya, sementara 2 orang lainnya menolak memberikan hak suaranya,” ungkapnya.

Masih adanya warga yang enggan ke TPS juga diungkapkan Ketua KPPS 13, Kelurahan Selumit Pantai, Rahmat Hidayat dimana hampir setengah warga yang masuk dalam DPT tidak mendatangi TPS untuk memberikan hak suaranya. “Hanya setengahnya saja yang memberikan hak suara, setengahnya tidak memberikan hak suara, padahal kita jauh-jauh sudah mensosialsiasikannya,” bebernya.

Ada beberapa alasan yang membuat warga enggan datang ke TPS, salah satunya karena pandemi Covid-19. “Selain Covid-19, ada juga faktor lain yakni kondisi cuaca, memang sejak pagi hujan deras mengguyur Kota Tarakan,” ujarnya.

Adapun di TPS 13 Kelurahan Selumit Pantai, ada 166 warga yang memberikan hak suaranya. 160 suara di antaranya sah dan sisanya 6 suara dinyatakan tidak sah. “Untuk yang unggul di TPS ini  adalah paslon nomor urut 2 Iraw dengan 71 suara disusul paslon nomor urut 3 Ziyap dengan 51 suara dan terakhir paslon nomor urut 1 U2OK dengan 38 suara,” ucapnya.

Salah satunya warga RT 11 Kelurahan Selumit Pantai, Indri Apriani yang memberikan hak suaranya sebagai bentuk partisipasi dalam pilkada tahun ini. “Ini merupakan kali ketiga saya ikut mencoblos, meski kondisinya saat ini pandemi Covid-19, tidak membuat kita tidak memberikan hak suara, karena suara ini menjadi penentu Kaltara untuk 5 tahun ke depannya,” bebernya.

Dirinya mengakui sedikit khawatir dengan kondisi saat ini, mengingat Tarakan saat ini masih terjadi peningkatan kasus Covid-19, sehingga sempat berpikir untuk tidak memberikan hak suara. “Sempat kepikiran untuk itu (tidak memberikan hak suara), namun saya berpikir ulang lagi, suara saya ini bisa menjadi penentu siapa pemimpin Kaltara untuk 5 tahun kedepan, jadi saya beranikan diri ke TPS,” pungkasnya. (shy/*/one/jnr/lim)

Most Read

Artikel Terbaru

/