alexametrics
30.7 C
Tarakan
Friday, August 19, 2022

Siapakah Kandidat yang akan Anda Pilih Nanti? (Bagian-2)

Sudah siapkah Anda memilih? Lima hari lagi, kita ke tempat pemungutan suara (TPS), tepatnya Rabu (9/12) pekan depan. Pastikan nama paslon sudah dikantongi dan siap dicoblos. Khusus Pilgub, Radar Tarakan mewawancarai sejumlah calon.

LISAWAN YOSEPH LOBO 

PASANGAN Calon Gubernur dan Calon Wakil Gubernur Kalimantan Utara (Kaltara) nomor urut tiga, Drs. H. Zainal Arifin Paliwang, S.H, M.Hum, berpasangan dengan Dr. Yansen TP, M.Si. Paslon ini akrab disapa dengan sebutan Ziyap, menawarkan ingin membawa dan mengubah wajah provinsi termuda ini, dengan menyejahterakan masyarakat Kaltara. Namun sebelum itu, seperti apa sosoknya?

Radar Tarakan berkesempatan mengobrol langsung dengan Calon Wakil Gubernur (Wagub) Kaltara, dengan nama lengkap Dr. Yansen Tipa Padan, M.Si, di tengah padatnya aktivitas, beberapa pekan lalu.

Pria kelahiran Pa’ UpanKrayan Selatan, pada 14 Januari 1960 silam ini, dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang bersahaja. Orang tuanya merupakan guru, pada zaman Belanda dahulu.

Cita-citanya ‘hanya ingin’ menjadi orang besar, namun sarat akan makna. Ya, apa pun yang ia kerjakan, dapat memberikan manfaat yang besar. “Untuk mengerjakan sesuatu, butuh kesempatan. Nah, kesempatan ini bisa melalui apa saja, salah satunya jabatan. Saya tidak pernah menargetkan mau jadi bupati, ataukah gubernur. Tapi perjalanan hidup pasti mengarah pada tingkatan pengalaman, pengetahuan, kemampuan, saya jalani semua,” katanya kepada Radar Tarakan, pada 12 November 2020 lalu.

Membawa dampak besar tersebut, pastinya tidak terlepas dari wawasan. Tidak heran, soal pendidikan berada di tempat utama dalam keluarganya. Seperti peribahasa yang mengatakan ‘tuntutlah ilmu setinggi langit’, pria berkulit putih ini menyelesaikan Program Doktor Ilmu Administrasi (S-3) pada Universitas Brawijaya Malang, Jawa Timur, tepatnya 2011 silam. Menurutnya orang berpendidikan, juga diikuti dengan perilaku yang baik. “Kalau berbuat sesuatu harus ada dasarnya, pengetahuan luas banyak hal yang bisa kita lakukan. Orang tua saya disiplin akan pendidikan, sekolahlah setinggi-tingginya, tidak bisa jadi apa-apa kalau tidak punya pengetahuan,” lanjutnya.

Singkat cerita, pertama kali ia terjun ke dunia perpolitikan pada 1976 silam. Kala itu usianya baru menginjak 16 tahun. Masih di zaman Orde Baru, ia turut andil dalam kegiatan kampanye.

Kemudian pada 1982, ia sudah memiliki kartu tanda anggota (KTA) Partai Golongan Karya (Golkar). Ia juga aktif dalam Dewan Pertimbangan (Wantim) Partai Golkar, Kalimantan Timur (Kaltim) pada masanya. Banyak belajar dari para sesepuh kader Golkar di Kaltim. “Itu saya masih terbilang anak-anak untuk urusan politik, waktu itu di Tarakan. Saya juga aktif di Wantim Golkar, di situ saya belajar dari para-para tokoh partai di Kaltim, orang-orang terdahulu di Partai Golkar seperti Pak Awang Faroek Ishak,” kenangnya.

Baca Juga :  Pengunjung KKMB dan Pantai Amal Meningkat

Dia cukup tertarik dengan perpolitikan, yang ‘mungkin’ dipandang negatif dan menakutkan bagi sebagian orang. Namun sebelum itu, ia banyak bergabung dalam sejumlah organisasi, yang dimulai sejak 2003 hingga 2019.

Sudah merasakan asam manisnya berorganisasi, ingin terlepas dari zona nyaman. Tak menyurutkan keinginannya untuk mengenal perpolitikan. Yansen termasuk tipe orang yang senang belajar dan mengenal hal baru, untuk memberikan dampak besar bagi orang sekitarnya.

“Saya terjun ke dunia politik itu karena ketertarikan. Saya aktif di berbagai organisasi, dan saya orang yang suka belajar dan merasakan banyak hal. Saya belajar berdebat, diskusi dari dalam keluarga,” katanya.

Hampir 30 tahun ia memegang posisi sebagai pemimpin. Berawal dari camat Mentarang, pada 1993 hingga 1996 silam. Kemudian camat Krayan Hilir, camat Peso. Ia juga pernah menjadi kepala kantor, sekretaris kabupaten Malinau, staf ahli hingga mengantarnya menjadi bupati Malinau dua periode. Yakni sejak 2011 hingga 2016, kembali terpilih untuk masa jabatan 2016 hingga 2021. “Jadi saya sudah merasa cukup, mungkin ada pengabdian lain pada aspek pemberdayaan, pembinaan ke masyarakat. Tapi kita tidak bisa kendalikan masa depan kita, karena ada Tuhan yang menentukan arah kita. Keputusan saya tidak terjun dalam jabatan lagi, ternyata saya didorong ke arah yang saya tidak bisa mengelak,” tuturnya.

Pertimbangan ini juga didasarkan pada pandangannya yang melihat pembangunan Kaltara ini, belum sepenuhnya menyelesaikan visi misinya untuk menyejahterakan rakyat.

“Mohon maaf saja, pemerintah ada kebanggaan-kebanggaan, saya pikir itu bukan sesuatu yang mendasar pada sebuah pembangunan. Kenapa? Karena pemerintah memang berjalan. Kalau ada prestasi seperti WTP itu yang bisa tercapai, tapi persoalannya apakah capaian pemerintah itu paralel atau beriringan dengan kepentingan rakyat?” katanya.

Menurutnya tujuan utama Kaltara adalah menyejahterakan masyarakat. Meski pemerintah bekerja, lantas tidak memberikan dampak bagi masyarakat, makan akan sia-sia. “Kalau pemerintah bekerja, tapi tidak ada dampak untuk rakyat, maka pekerjaan pemerintah itu tidak maksimal,” tambahnya.

Baca Juga :  Adik, Keponakan, Awak Redaksi, dan Pimpinan Hilang

Dengan alasan tersebut, melalui Ziyap mengubah Kaltara untuk sejahterakan masyarakat, yang masih jauh dari harapan dari provinsi muda ini.

Sebelumnya pemekaran Kaltara dari Kaltim pada 22 April 2013 lalu bertujuan untuk kesejahteraan rakyat di utara Kalimantan. “Jadi pemerintah bisa lebih fokus dan rakyat bisa menikmati pembangunan. Itu harapan kita,” katanya.

Menurutnya, jika berbicara soal pembangunan di perkotaan, jelas banyak pencapaian yang sudah didapatkan. Namun bagaimana dengan pedalaman, dan perbatasan sekalipun? Masih banyak desa atau pedalaman yang jauh dari kata ‘tersentuh’.

“Hampir 90 persen desa tidak tersenuth. Alasannya dekat dengan ibu kota, tapi tidak merasakan dampak provinsi baru ini. Jadi saya pikir ini tidak bisa ditangani pemerintah, bangga dengan pencapaian, tapi rakyat tidak diperhatikan,” lanjutnya.

Menjadi bagian dari masyarakat Kaltara, ia cukup merasa prihatin dengan pembangunan yang tidak merata ini. Ia ingin terlibat langsung dalam penataan Kaltara ke arah yang lebih baik lagi. “Akhirnya ada kerinduan untuk Kaltara lebih sejahtera. Ya harus terlibat, makanya saya putuskan untuk maju karena dorongan situasi kondisi Kaltara tidak ditangani dengan baik,” jelasnya.

Lantas apa yang harus diubah pada wajah Kaltara saat ini? Dikatakannya dimulai dari cara kerja pemerintah. Sebelum memajukan wilayah, ada tugas dan tanggung jawab yang harus diselesaikan. Mulai dari pekerjaan, penghasilan, kemampuan dan produksi di tengah masyarakat. Dengan begitu, kebutuhan masyarakat bisa terpenuhi.

“Jangan berpikir maju-maju tapi tidak ada yang maju. Yang maju itu orang, bukan wilayah. Tapi ke depan itu adalah kemudahan, ada fasilitas, ada produk dan kemampuan rakyat mengelola pembangunan,” bebernya.

Kemudian, strategi pembangunan di Kaltara, yang tidak merata dan berkeadilan. Ini menjadi tugas utama untuk pemerintah untuk meningkatkan pendidikan, tingkat kemampuan bekerja hingga penghasilan.  “Jangan hanya mengatakan banyak dibangun gedung. Tidak usah bangun gedung, kalau kita alokasikan anggaran. Tapi bagaimana kita mengubah wajah masyarakat, bagaimana tingkat pendidikan, tingkat kemampuan bekerja, tingkat penghasilan, itu yang harus dipikirkan. Nah ini yang akhirnya membuat saya ingin terjun ke lapangan, harus kita ubah itu,” tutupnya. (*/bersambung/lim)

 

Bersama Ziyap Mengubah Wajah Kaltara

Sudah siapkah Anda memilih? Lima hari lagi, kita ke tempat pemungutan suara (TPS), tepatnya Rabu (9/12) pekan depan. Pastikan nama paslon sudah dikantongi dan siap dicoblos. Khusus Pilgub, Radar Tarakan mewawancarai sejumlah calon.

LISAWAN YOSEPH LOBO 

PASANGAN Calon Gubernur dan Calon Wakil Gubernur Kalimantan Utara (Kaltara) nomor urut tiga, Drs. H. Zainal Arifin Paliwang, S.H, M.Hum, berpasangan dengan Dr. Yansen TP, M.Si. Paslon ini akrab disapa dengan sebutan Ziyap, menawarkan ingin membawa dan mengubah wajah provinsi termuda ini, dengan menyejahterakan masyarakat Kaltara. Namun sebelum itu, seperti apa sosoknya?

Radar Tarakan berkesempatan mengobrol langsung dengan Calon Wakil Gubernur (Wagub) Kaltara, dengan nama lengkap Dr. Yansen Tipa Padan, M.Si, di tengah padatnya aktivitas, beberapa pekan lalu.

Pria kelahiran Pa’ UpanKrayan Selatan, pada 14 Januari 1960 silam ini, dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang bersahaja. Orang tuanya merupakan guru, pada zaman Belanda dahulu.

Cita-citanya ‘hanya ingin’ menjadi orang besar, namun sarat akan makna. Ya, apa pun yang ia kerjakan, dapat memberikan manfaat yang besar. “Untuk mengerjakan sesuatu, butuh kesempatan. Nah, kesempatan ini bisa melalui apa saja, salah satunya jabatan. Saya tidak pernah menargetkan mau jadi bupati, ataukah gubernur. Tapi perjalanan hidup pasti mengarah pada tingkatan pengalaman, pengetahuan, kemampuan, saya jalani semua,” katanya kepada Radar Tarakan, pada 12 November 2020 lalu.

Membawa dampak besar tersebut, pastinya tidak terlepas dari wawasan. Tidak heran, soal pendidikan berada di tempat utama dalam keluarganya. Seperti peribahasa yang mengatakan ‘tuntutlah ilmu setinggi langit’, pria berkulit putih ini menyelesaikan Program Doktor Ilmu Administrasi (S-3) pada Universitas Brawijaya Malang, Jawa Timur, tepatnya 2011 silam. Menurutnya orang berpendidikan, juga diikuti dengan perilaku yang baik. “Kalau berbuat sesuatu harus ada dasarnya, pengetahuan luas banyak hal yang bisa kita lakukan. Orang tua saya disiplin akan pendidikan, sekolahlah setinggi-tingginya, tidak bisa jadi apa-apa kalau tidak punya pengetahuan,” lanjutnya.

Singkat cerita, pertama kali ia terjun ke dunia perpolitikan pada 1976 silam. Kala itu usianya baru menginjak 16 tahun. Masih di zaman Orde Baru, ia turut andil dalam kegiatan kampanye.

Kemudian pada 1982, ia sudah memiliki kartu tanda anggota (KTA) Partai Golongan Karya (Golkar). Ia juga aktif dalam Dewan Pertimbangan (Wantim) Partai Golkar, Kalimantan Timur (Kaltim) pada masanya. Banyak belajar dari para sesepuh kader Golkar di Kaltim. “Itu saya masih terbilang anak-anak untuk urusan politik, waktu itu di Tarakan. Saya juga aktif di Wantim Golkar, di situ saya belajar dari para-para tokoh partai di Kaltim, orang-orang terdahulu di Partai Golkar seperti Pak Awang Faroek Ishak,” kenangnya.

Baca Juga :  Jalan Becek Butuh Pengaspalan

Dia cukup tertarik dengan perpolitikan, yang ‘mungkin’ dipandang negatif dan menakutkan bagi sebagian orang. Namun sebelum itu, ia banyak bergabung dalam sejumlah organisasi, yang dimulai sejak 2003 hingga 2019.

Sudah merasakan asam manisnya berorganisasi, ingin terlepas dari zona nyaman. Tak menyurutkan keinginannya untuk mengenal perpolitikan. Yansen termasuk tipe orang yang senang belajar dan mengenal hal baru, untuk memberikan dampak besar bagi orang sekitarnya.

“Saya terjun ke dunia politik itu karena ketertarikan. Saya aktif di berbagai organisasi, dan saya orang yang suka belajar dan merasakan banyak hal. Saya belajar berdebat, diskusi dari dalam keluarga,” katanya.

Hampir 30 tahun ia memegang posisi sebagai pemimpin. Berawal dari camat Mentarang, pada 1993 hingga 1996 silam. Kemudian camat Krayan Hilir, camat Peso. Ia juga pernah menjadi kepala kantor, sekretaris kabupaten Malinau, staf ahli hingga mengantarnya menjadi bupati Malinau dua periode. Yakni sejak 2011 hingga 2016, kembali terpilih untuk masa jabatan 2016 hingga 2021. “Jadi saya sudah merasa cukup, mungkin ada pengabdian lain pada aspek pemberdayaan, pembinaan ke masyarakat. Tapi kita tidak bisa kendalikan masa depan kita, karena ada Tuhan yang menentukan arah kita. Keputusan saya tidak terjun dalam jabatan lagi, ternyata saya didorong ke arah yang saya tidak bisa mengelak,” tuturnya.

Pertimbangan ini juga didasarkan pada pandangannya yang melihat pembangunan Kaltara ini, belum sepenuhnya menyelesaikan visi misinya untuk menyejahterakan rakyat.

“Mohon maaf saja, pemerintah ada kebanggaan-kebanggaan, saya pikir itu bukan sesuatu yang mendasar pada sebuah pembangunan. Kenapa? Karena pemerintah memang berjalan. Kalau ada prestasi seperti WTP itu yang bisa tercapai, tapi persoalannya apakah capaian pemerintah itu paralel atau beriringan dengan kepentingan rakyat?” katanya.

Menurutnya tujuan utama Kaltara adalah menyejahterakan masyarakat. Meski pemerintah bekerja, lantas tidak memberikan dampak bagi masyarakat, makan akan sia-sia. “Kalau pemerintah bekerja, tapi tidak ada dampak untuk rakyat, maka pekerjaan pemerintah itu tidak maksimal,” tambahnya.

Baca Juga :  PLTA di Kaltara Ini Akan Menjadi yang Terbesar di Indonesia

Dengan alasan tersebut, melalui Ziyap mengubah Kaltara untuk sejahterakan masyarakat, yang masih jauh dari harapan dari provinsi muda ini.

Sebelumnya pemekaran Kaltara dari Kaltim pada 22 April 2013 lalu bertujuan untuk kesejahteraan rakyat di utara Kalimantan. “Jadi pemerintah bisa lebih fokus dan rakyat bisa menikmati pembangunan. Itu harapan kita,” katanya.

Menurutnya, jika berbicara soal pembangunan di perkotaan, jelas banyak pencapaian yang sudah didapatkan. Namun bagaimana dengan pedalaman, dan perbatasan sekalipun? Masih banyak desa atau pedalaman yang jauh dari kata ‘tersentuh’.

“Hampir 90 persen desa tidak tersenuth. Alasannya dekat dengan ibu kota, tapi tidak merasakan dampak provinsi baru ini. Jadi saya pikir ini tidak bisa ditangani pemerintah, bangga dengan pencapaian, tapi rakyat tidak diperhatikan,” lanjutnya.

Menjadi bagian dari masyarakat Kaltara, ia cukup merasa prihatin dengan pembangunan yang tidak merata ini. Ia ingin terlibat langsung dalam penataan Kaltara ke arah yang lebih baik lagi. “Akhirnya ada kerinduan untuk Kaltara lebih sejahtera. Ya harus terlibat, makanya saya putuskan untuk maju karena dorongan situasi kondisi Kaltara tidak ditangani dengan baik,” jelasnya.

Lantas apa yang harus diubah pada wajah Kaltara saat ini? Dikatakannya dimulai dari cara kerja pemerintah. Sebelum memajukan wilayah, ada tugas dan tanggung jawab yang harus diselesaikan. Mulai dari pekerjaan, penghasilan, kemampuan dan produksi di tengah masyarakat. Dengan begitu, kebutuhan masyarakat bisa terpenuhi.

“Jangan berpikir maju-maju tapi tidak ada yang maju. Yang maju itu orang, bukan wilayah. Tapi ke depan itu adalah kemudahan, ada fasilitas, ada produk dan kemampuan rakyat mengelola pembangunan,” bebernya.

Kemudian, strategi pembangunan di Kaltara, yang tidak merata dan berkeadilan. Ini menjadi tugas utama untuk pemerintah untuk meningkatkan pendidikan, tingkat kemampuan bekerja hingga penghasilan.  “Jangan hanya mengatakan banyak dibangun gedung. Tidak usah bangun gedung, kalau kita alokasikan anggaran. Tapi bagaimana kita mengubah wajah masyarakat, bagaimana tingkat pendidikan, tingkat kemampuan bekerja, tingkat penghasilan, itu yang harus dipikirkan. Nah ini yang akhirnya membuat saya ingin terjun ke lapangan, harus kita ubah itu,” tutupnya. (*/bersambung/lim)

 

Bersama Ziyap Mengubah Wajah Kaltara

Most Read

Hipsindo Ingatkan Utang Pemkot

Hujan, Hotspot Diredam

Artikel Terbaru

/