alexametrics
28.7 C
Tarakan
Friday, August 19, 2022

Tabung Gas 3 Kg Masih Susah Didapat di Tarakan, Apa Sih Masalahnya

TARAKAN – Sejumlah warga masih kesulitan untuk mendapatkan liquefied petroleum gas (LPG) atau elpiji 3 kg, kalaupun ada harganya yang di atas harga eceran tertinggi (HET). Seperti yang diungkapkan Indri, warga Kelurahan Selumit. “Iya biasanya kalau dibagi di tingkat RT masih harga HET Rp 16 ribu, tapi namanya kamimasak tiap hari pastinya cepat habis, kalau habis ini kami harus mencari lagi di tempat lain,” ungkapnya, Selasa (1/12).

Adapun dirinya harus mengeluarkan uang lebih dari HET untuk mendapatkan elpiji 3 kg, yakni Rp 20 ribu hingga Rp 50 ribu. Alasan penjualnya tidak lain karena barang langka. “Alasannya begitu, namanya kami butuh, mau tidak mau kami beli biar dapur bisa tetap berasap,” ujarnya.

Sementara itu salah satu pemilik rumah makan di daerah Kelurahan Selumit Pantai, Yanti mengungkapkan dirinya sangat kesulitan untuk mendapatkan elpiji 3 kg untuk kegiatan usahanya, sehingga dia terpaksa membeli dengan harga mahal.

“Iya beberapa kali saya membeli dari orang yang datang menawarkan kepada, tapi harganya mahal, saya pernah beli dengan harga Rp 70 ribu,” ungkapnya.

Tidak adanya pilihan lain agar usahanya tetap jalan, dirinya terpaksa membeli elpiji 3 kg tersebut meskipun harganya mahal. Dirinya berharap hal ini bisa ditindaklanjuti oleh pihak terkait. “Namanya tidak ada pilihan lain, mau bagaimana lagi, saya harapkan pihak terkait bisa mengatasi hal ini,” ucapnya.

Baca Juga :  Kampanyekan Cara Menggunakan Life Jacket

Hal senada juga diungkapkan salah satu pelaku UMKM yang berada di Jalan Gajah Mada, Firman. Dirinya juga terpaksa mengeluarkan uang lebih untuk membeli elpiji 3 kg. “Bukan lagi menjadi rahasia umum, ada pihak-pihak yang memang mencari keuntungan dari elpiji 3 kg, jadi kami yang pelaku UMKM ini jadi kena imbasnya,” ucapnya.

Dirinya menilai perlu ada tindakan tegas bagi oknum-oknum yang memainkan harga elpiji 3 menjadi di atas HET. “Saya rasa semua sudah tahu hal ini, jadi kita harapkan ada tindakan tegas saja biar persoalan ini tidak berlarut-larut,” pungkasnya.

 

OKNUM LAPAK DAGANG TENGAH MALAM

Wali Kota Tarakan, dr. Khairul, M.Kes, mengatakan bahwa selama 2 minggu tabung gas mengalami kelangkaan karena adanya hambatan dalam transportasi dari Balikpapan ke Tarakan. Hal ini menjadi kendala yang dihadapi setiap tahun.

Saat ini Tarakan memiliki SPBE dan telah selesai proses pembangunannya, namun tinggal meminta Pertamina Balikpapan untuk menyetujui pembukaan SPBE di Tarakan. Untuk itu, pihaknya meminta Pertamina Tarakan agar dapat mempercepat proses pengoperasian SPBE Tarakan. Sebab jika tidak dilakukan, maka permasalahan ini akan terjadi setiap tahun.

“Pokoknya kalau sudah ombak besar, pengiriman tabung ini selalu terkendala. Semoga SPBE cepat dibangun, sehingga kita bisa memperbaiki secara pelan-pelan,” tuturnya.

Tak hanya itu, dalam hal pendistribusian tabung gas LPG tidak diperkenankan untuk diberikan kepada masyarakat yang sudah mendapatkan saluran gas bumi, kecuali jika memiliki UMKM sebab tidak memungkinkan untuk membawa gas rumah tangga kemana-mana.

Baca Juga :  Piodalan, Umat Hindu Harapkan Pandemi Berakhir

“Jadi yang membutuhkan itu adalah UMKM yang membutuhkan gas LPG 3 kilogram,” ujarnya.

Sedang, HET tabung gas LPG telah berlaku. Namun Khairul mengakui tentang antara HET dan nilai jual di pasar memiliki perbandingan yang cukup signifikan, sehingga dalam hal ini Khairul meminta agar Disdakop membuat kartu kepada masyarakat yang dianggap berhak.

Sementara itu, Ketua RT 12 Kelurahan Pantai Amal Tarakan, Aminah mengatakan bahwa harga LPG di Pantai Amal mencapai Rp 20 ribu per tabung. Namun pihaknya pernah mendapatkan harga Rp 85 ribu per tabung.

“Ada yang bawa dari kota pas tengah malam jam 8 atau 9 ke sini (Amal). Mereka bawa banyak untuk diecerkan seharga Rp 85 ribu,” ungkap wanita berhijab ini.

Saat ini, perolehan tabung gas LPG dinilai Aminah cukup sulit untuk didapatkan. Hal ini sudah terjadi sejak dua minggu lalu, sehingga pihaknya mengandalkan minyak tanah dan kayu sebagai bahan bakar untuk memasak.

“Kalau dipangkalan Rp 20 rb. Pangkalan satunya Rp 25 ribu. Tapi ada pengecer yang jual mahal, tapi tetap dibeli karena susahnya minyak tanah,” pungkasnya. (jnr/shy/lim)

TARAKAN – Sejumlah warga masih kesulitan untuk mendapatkan liquefied petroleum gas (LPG) atau elpiji 3 kg, kalaupun ada harganya yang di atas harga eceran tertinggi (HET). Seperti yang diungkapkan Indri, warga Kelurahan Selumit. “Iya biasanya kalau dibagi di tingkat RT masih harga HET Rp 16 ribu, tapi namanya kamimasak tiap hari pastinya cepat habis, kalau habis ini kami harus mencari lagi di tempat lain,” ungkapnya, Selasa (1/12).

Adapun dirinya harus mengeluarkan uang lebih dari HET untuk mendapatkan elpiji 3 kg, yakni Rp 20 ribu hingga Rp 50 ribu. Alasan penjualnya tidak lain karena barang langka. “Alasannya begitu, namanya kami butuh, mau tidak mau kami beli biar dapur bisa tetap berasap,” ujarnya.

Sementara itu salah satu pemilik rumah makan di daerah Kelurahan Selumit Pantai, Yanti mengungkapkan dirinya sangat kesulitan untuk mendapatkan elpiji 3 kg untuk kegiatan usahanya, sehingga dia terpaksa membeli dengan harga mahal.

“Iya beberapa kali saya membeli dari orang yang datang menawarkan kepada, tapi harganya mahal, saya pernah beli dengan harga Rp 70 ribu,” ungkapnya.

Tidak adanya pilihan lain agar usahanya tetap jalan, dirinya terpaksa membeli elpiji 3 kg tersebut meskipun harganya mahal. Dirinya berharap hal ini bisa ditindaklanjuti oleh pihak terkait. “Namanya tidak ada pilihan lain, mau bagaimana lagi, saya harapkan pihak terkait bisa mengatasi hal ini,” ucapnya.

Baca Juga :  Piodalan, Umat Hindu Harapkan Pandemi Berakhir

Hal senada juga diungkapkan salah satu pelaku UMKM yang berada di Jalan Gajah Mada, Firman. Dirinya juga terpaksa mengeluarkan uang lebih untuk membeli elpiji 3 kg. “Bukan lagi menjadi rahasia umum, ada pihak-pihak yang memang mencari keuntungan dari elpiji 3 kg, jadi kami yang pelaku UMKM ini jadi kena imbasnya,” ucapnya.

Dirinya menilai perlu ada tindakan tegas bagi oknum-oknum yang memainkan harga elpiji 3 menjadi di atas HET. “Saya rasa semua sudah tahu hal ini, jadi kita harapkan ada tindakan tegas saja biar persoalan ini tidak berlarut-larut,” pungkasnya.

 

OKNUM LAPAK DAGANG TENGAH MALAM

Wali Kota Tarakan, dr. Khairul, M.Kes, mengatakan bahwa selama 2 minggu tabung gas mengalami kelangkaan karena adanya hambatan dalam transportasi dari Balikpapan ke Tarakan. Hal ini menjadi kendala yang dihadapi setiap tahun.

Saat ini Tarakan memiliki SPBE dan telah selesai proses pembangunannya, namun tinggal meminta Pertamina Balikpapan untuk menyetujui pembukaan SPBE di Tarakan. Untuk itu, pihaknya meminta Pertamina Tarakan agar dapat mempercepat proses pengoperasian SPBE Tarakan. Sebab jika tidak dilakukan, maka permasalahan ini akan terjadi setiap tahun.

“Pokoknya kalau sudah ombak besar, pengiriman tabung ini selalu terkendala. Semoga SPBE cepat dibangun, sehingga kita bisa memperbaiki secara pelan-pelan,” tuturnya.

Tak hanya itu, dalam hal pendistribusian tabung gas LPG tidak diperkenankan untuk diberikan kepada masyarakat yang sudah mendapatkan saluran gas bumi, kecuali jika memiliki UMKM sebab tidak memungkinkan untuk membawa gas rumah tangga kemana-mana.

Baca Juga :  Belum Turun, Harga PCR di Tarakan Masih Rp 525 Ribu

“Jadi yang membutuhkan itu adalah UMKM yang membutuhkan gas LPG 3 kilogram,” ujarnya.

Sedang, HET tabung gas LPG telah berlaku. Namun Khairul mengakui tentang antara HET dan nilai jual di pasar memiliki perbandingan yang cukup signifikan, sehingga dalam hal ini Khairul meminta agar Disdakop membuat kartu kepada masyarakat yang dianggap berhak.

Sementara itu, Ketua RT 12 Kelurahan Pantai Amal Tarakan, Aminah mengatakan bahwa harga LPG di Pantai Amal mencapai Rp 20 ribu per tabung. Namun pihaknya pernah mendapatkan harga Rp 85 ribu per tabung.

“Ada yang bawa dari kota pas tengah malam jam 8 atau 9 ke sini (Amal). Mereka bawa banyak untuk diecerkan seharga Rp 85 ribu,” ungkap wanita berhijab ini.

Saat ini, perolehan tabung gas LPG dinilai Aminah cukup sulit untuk didapatkan. Hal ini sudah terjadi sejak dua minggu lalu, sehingga pihaknya mengandalkan minyak tanah dan kayu sebagai bahan bakar untuk memasak.

“Kalau dipangkalan Rp 20 rb. Pangkalan satunya Rp 25 ribu. Tapi ada pengecer yang jual mahal, tapi tetap dibeli karena susahnya minyak tanah,” pungkasnya. (jnr/shy/lim)

Most Read

Artikel Terbaru

/