alexametrics
26 C
Tarakan
Monday, August 8, 2022

Siapakah Kandidat yang akan Anda Pilih Nanti? (Bagian-1)

Sudah siapkah anda memilih? Tujuh hari lagi kita ke Tempat Pemungutan Suara (TPS), tepatnya Rabu (9/12) pekan depan. Pastikan nama pasangan calon (paslon), baik bupati dan wakil bupati, maupun gubernur dan wakil gubernur sudah ‘dikantongi’ dan siap dicoblos.

LISAWAN YOSEPH LOBO

CALON Gubernur Kalimantan Kaltara (Kaltara) nomor urut dua datang dari paslon Dr. H. Irianto Lambrie dan H. Irwan Sabri. Siapa yang tidak kenal dengan petahana yang disematkan dengan sebutan IRAW ini?

Mengenal lebih dekat, Dr. H. Irianto Lambrie. Irianto dibesarkan dari latarbelakang orang tua yang berprofesi sebagai tenaga didik alias guru.

Tidak heran, pria kelahiran Rantau, Tapin, Kalimantan Selatan, pada 18 Desember 1958 silam ini selalu menjadi lulusan terbaik dalam bidang akademik.

Irianto menyelesaikan gelar doktor ilmu ekonomi alias S-3, program studi Ekonomi Pembangunan Fakultas Pascasarjana Universitas Airlangga, Surabaya pada 2010 lalu. “Sejak lulus SD sampai perguruan tinggi, saya selalu jadi lulusan terbaik. Itu tidak kebanggan semata, tapi karena kita belajar. Saya bersyukur dibesarkan dari keluarga guru, sehingga bisa belajar dengan baik,” tutur pria berusia 61 tahun ini.

Kariernya dimulai saat ia masih menimba ilmu di perguruan tinggi. Pada 1979 hingga 1994, ia sebagai Asisten Dosen Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman.

Diusia yang terbilang muda kala itu, tepatnya 25 tahun pada 1983 silam, ia juga sudah menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Sosok Irianto juga pernah tergabung dalam counterpart tenaga ahli UnitedNations Industrial Development Organization (UNIDO), pada 1983 hingga 1984.

Ia juga pernah memegang berbagai jabatan, entah itu sebagai dosen, kepala bidang, kepala dinas, hingga gubernur. Aktif, semasa mudanya juga ia tergabung dalam 25 organisasi yang pernah diikutinya. Irianto terkenal senang berbaur dengan siapa saja, hingga lintas negara. “Yang banyak mendukung karier di pemerintahan sejak saya kuliah. Saya bersyukur memiliki banyak sahabat, mulai dari Aceh sampai Papua saya punya teman. Bahkan orang asing, seperti Singapura, Malaysia, Rusia, Tiongkok, Jepang,” katanya.

Irianto juga tidak segan bergaul dengan para senior. Bak mengumpulkan pundi-pundi, ia justru banyak mengumpulkan dan belajar dari pengalaman para seniornya. “Saya berteman dengan senior, yang usianya di atas saya. Saya dengan Pak Awang Faroek selisih 10 tahun, dengan Pak Achmad Amin juga selisih 10 tahun. Saya banyak belajar pengalaman dan jadi penggemar,” lanjutnya.

“Maka saya mengajarkan ke anak muda, belajarlah bergaul dengan lintas bangsa, suku dan budaya. Banyak pengalaman dan bergaul, itu salah satu pintu kesuksesan kita. Paling tidak kita kreativitas dan inovasi,” sambungnya.

Selain membaca, Irianto juga memiliki hobi menulis. Di tahun 1980-an, ia bersama Awang Faroek, yang merupakan Pembantu Rektor III Kemahasiswaan Universitas Mulawarman kala itu, mendirikan surat kabar kampus.

Baca Juga :  Sudah Dilarang, Buruh Bertahan di Dermaga

Ia pun kerap menyumbangkan tulisan-tulisannya ke Kaltim Post, dan Suara Kaltim. Menurutnya, kemampuan menulis itu bisa membangun intelektual. “Dulu saya jadi wartawan kampus. Kemudian saya lulus pada tahun 1982, itu lulusan terbaik dan termasuk cepat juga,” ucapnya.

Singkat cerita, penjabat gubernur Kaltara pertama kali dipegang Irianto, sejak Kaltara resmi berdiri pada 22 April 2013 lalu. Kemudian berdasarkan hasil pemilihan umum 2015, dimenangkan oleh Irianto Lambrie, yang berpasangan dengan Udin Hianggio.

Meski terbilang provinsi termuda, di bawah kepemimpinannya ia berhasil membawa Kaltara ‘berdiri’ sejajar dengan provinsi lainnya.  “Alhamdulillahkita sudah melebihi banyak hal dari provinsi lain. Mulai dari tata kelola keuangan, pelayanan perizinan. Itu dibuktikan dalam berbagai penghargaan atas pencapaian kita. Baik dari kementerian maupun independen. Seperti pembangunan infrastruktur, dua kali berturut-turut kita dapat penghargaan dari majalah tempo,” bebernya.

Bentuk kesuksesan lainnya, Pemerintah Provinsi Kaltara kembali meraih opini Wajar tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (RI), atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) Provinsi Kaltara Tahun Anggaran 2019, yang merupakan keenam kalinya. “Alhamdulillahenam tahun ini kita dapat opini terbaik, dan itu harus dipertahankan,” katanya.

Tak sampai di situ, dalam Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) Kaltara mencatat nilai terbaik, yang sebelumnya sebesar 81,07 pada 2018  menjadi 83,45 untuk IDI 2019. “Selama 5 tahun ini IDI kaltara selalu masuk 5 besar nasional. Tentu ini bekerja sama dengan banyak pihak, tapi leadership itu penting dalam mengatur hingga tujuan-tujuan tercapai. Bukan berarti saya hebat, tapi kita mampu melakukan upaya di internal pemerintahan kita meskipun ada yang tidak sempurna,” lanjutnya.

Meski Kaltara baru berusia tujuh tahun, Indeks Pembangunan Manusia (IPM)-nya sudah sangat baik. Menurut catatan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) yang mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) 2019, IPM Provinsi Kaltara adalah tertinggi kedua di regional Kalimantan. “Pertama itu Kaltim dengan nilai 76, kemudian Kaltara 71 mau mendekati 72. Meski masih sedikit di bawah nasional, tapi kita mampu mengalahkan Kalsel, Kalteng. Maka saya mengajak anak muda, kita bisa bersaing dengan siapa saja, kita bisa membangun keunggulan, meningkatkan kualitas manusia,” jelasnya.

Kemudian dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat, Kaltara berada di posisi ke-6, berdasarkan data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) 2019. Dengan capaian angka harapan hidup 72,54. Angka ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya, 72,5.

Posisi Kaltara ini mengungguli Bali yang berada di posisi ketujuh dengan angka harapan hidup sebesar 72,00. Lalu Riau berada di posisi kedelapan dengan angka harapan hidup sebesar 71,67. Diikuti Sulawesi Utara mencatat angka harapan hidup sebesar 71,63 dan Jawa Timur yang mencatatkan angka 71,22. “Kita masuk dalam 10 terbaik. Kita diurutan ke-enam dari 34 provinsi. Itu menggambarkan pelayanan kesehatan sudah bagus, sikap perilaku masyarakat,” ucapnya.

Baca Juga :  Tak Ada Jaminan PLN Sampai Kapan Padam

Dari sisi kemakmuran, Kaltara berada di posisi keempat dengan Produk Domestik Bruto (PDRB) per Kapita sebesar USD 8.100, setelah DKI Jakarta, Kalimantan Timur dan Riau. “Pertama DKI Jakarta itu sekitar USD 12 ribu, Kaltim USD 11 ribu, Riau USD 8.200, baru Kaltara,” katanya.

Sementara itu, Irwan Sabri yang merupakan pasangan dari Irianto Lambrie ini, mewakili suara kaum milenial. Sebelumnya Irwan Sabri memperoleh suara terbanyak dalam pemilihan legislatif (pileg) dan termud kala itu.

Pada pileg 2014 lalu, pria kelahiran Tarakan, 7 Desember 1988 ini meraih lebih dua ribuan suara. Kemudian pada Pileg 2019 naik dua kali lipat atau sebanyak empat ribuan suara. Hal ini membuatnya cukup disegani di kancah perpolitikan Nunukan hingga sampai sekarang.

Sebelum terjun ke dunia politik, Irwan Sabri bercita-cita ingin menjadi seorang dokter, namun tak bisa ia teruskan. “2013 saya sempat lanjut kuliah di Unhas, Makassar. Tiba-tiba ada panggilan dari toko masyarakat, toko pemuda dan teman-teman di Nunukan untuk maju mewakili pemuda di legislatif Nunukan. Sehingga saya putuskan untuk mengabdi dan menjadi contoh bagi anak muda untuk membangun daerah,” katanya.

Singkat cerita, melihat kinerja Gubernur Kaltara, Irianto Lambrie, yang cukup sukses membangun Kaltara dari nol, ia ikut tergerak dan ingin berpasangan dalam menyelesaikan program-program ke depan. “Saya melihat selama beliau (Irianto) menjabat selama satu periode ini dan dua tahun PJ, mulai dari anggaran nol rupiah hingga saat ini, alhamdulillahkinerja membangun Kaltara sangat maju dan itu terbentuk dari gubernur pertama,” jelasnya.

“Beliau mengajak saya, dan saya sampaikan niat baik ini ke orang tua dan para tokoh-tokoh, bismillah saya maju mendampingi Pak Irianto,” sambungnya.

Usia bukan suatu halangan untuk ikut terlibat dalam kancah politik. Menurutnya kaum milenial di Kaltara memiliki banyak gagasan, ide dan berinovasi. “Mau menyampaikan aspirasi agak sungkan. Di sinilah saya hadir, mau menunjukkan bahwa pemuda harus berani tampil, berbuat baik untuk membangun Kaltara. Alhamdulillahsekarang ada beberapa anak muda di Kaltara dari masing-masing kabupaten/kota, duduk mewakili rakyat,” katanya.

“Saya maju di Pilgub ingin memperlihatkan ke anak muda, menjadi kepala daerah atau membangun daerah, bukan usia yang menentukan kita,” tukasnya. (*/bersambung/lim)

 

 

 

Sudah siapkah anda memilih? Tujuh hari lagi kita ke Tempat Pemungutan Suara (TPS), tepatnya Rabu (9/12) pekan depan. Pastikan nama pasangan calon (paslon), baik bupati dan wakil bupati, maupun gubernur dan wakil gubernur sudah ‘dikantongi’ dan siap dicoblos.

LISAWAN YOSEPH LOBO

CALON Gubernur Kalimantan Kaltara (Kaltara) nomor urut dua datang dari paslon Dr. H. Irianto Lambrie dan H. Irwan Sabri. Siapa yang tidak kenal dengan petahana yang disematkan dengan sebutan IRAW ini?

Mengenal lebih dekat, Dr. H. Irianto Lambrie. Irianto dibesarkan dari latarbelakang orang tua yang berprofesi sebagai tenaga didik alias guru.

Tidak heran, pria kelahiran Rantau, Tapin, Kalimantan Selatan, pada 18 Desember 1958 silam ini selalu menjadi lulusan terbaik dalam bidang akademik.

Irianto menyelesaikan gelar doktor ilmu ekonomi alias S-3, program studi Ekonomi Pembangunan Fakultas Pascasarjana Universitas Airlangga, Surabaya pada 2010 lalu. “Sejak lulus SD sampai perguruan tinggi, saya selalu jadi lulusan terbaik. Itu tidak kebanggan semata, tapi karena kita belajar. Saya bersyukur dibesarkan dari keluarga guru, sehingga bisa belajar dengan baik,” tutur pria berusia 61 tahun ini.

Kariernya dimulai saat ia masih menimba ilmu di perguruan tinggi. Pada 1979 hingga 1994, ia sebagai Asisten Dosen Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman.

Diusia yang terbilang muda kala itu, tepatnya 25 tahun pada 1983 silam, ia juga sudah menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Sosok Irianto juga pernah tergabung dalam counterpart tenaga ahli UnitedNations Industrial Development Organization (UNIDO), pada 1983 hingga 1984.

Ia juga pernah memegang berbagai jabatan, entah itu sebagai dosen, kepala bidang, kepala dinas, hingga gubernur. Aktif, semasa mudanya juga ia tergabung dalam 25 organisasi yang pernah diikutinya. Irianto terkenal senang berbaur dengan siapa saja, hingga lintas negara. “Yang banyak mendukung karier di pemerintahan sejak saya kuliah. Saya bersyukur memiliki banyak sahabat, mulai dari Aceh sampai Papua saya punya teman. Bahkan orang asing, seperti Singapura, Malaysia, Rusia, Tiongkok, Jepang,” katanya.

Irianto juga tidak segan bergaul dengan para senior. Bak mengumpulkan pundi-pundi, ia justru banyak mengumpulkan dan belajar dari pengalaman para seniornya. “Saya berteman dengan senior, yang usianya di atas saya. Saya dengan Pak Awang Faroek selisih 10 tahun, dengan Pak Achmad Amin juga selisih 10 tahun. Saya banyak belajar pengalaman dan jadi penggemar,” lanjutnya.

“Maka saya mengajarkan ke anak muda, belajarlah bergaul dengan lintas bangsa, suku dan budaya. Banyak pengalaman dan bergaul, itu salah satu pintu kesuksesan kita. Paling tidak kita kreativitas dan inovasi,” sambungnya.

Selain membaca, Irianto juga memiliki hobi menulis. Di tahun 1980-an, ia bersama Awang Faroek, yang merupakan Pembantu Rektor III Kemahasiswaan Universitas Mulawarman kala itu, mendirikan surat kabar kampus.

Baca Juga :  18 Bal Sabu-Sabu Dikirim Pakai Ikan

Ia pun kerap menyumbangkan tulisan-tulisannya ke Kaltim Post, dan Suara Kaltim. Menurutnya, kemampuan menulis itu bisa membangun intelektual. “Dulu saya jadi wartawan kampus. Kemudian saya lulus pada tahun 1982, itu lulusan terbaik dan termasuk cepat juga,” ucapnya.

Singkat cerita, penjabat gubernur Kaltara pertama kali dipegang Irianto, sejak Kaltara resmi berdiri pada 22 April 2013 lalu. Kemudian berdasarkan hasil pemilihan umum 2015, dimenangkan oleh Irianto Lambrie, yang berpasangan dengan Udin Hianggio.

Meski terbilang provinsi termuda, di bawah kepemimpinannya ia berhasil membawa Kaltara ‘berdiri’ sejajar dengan provinsi lainnya.  “Alhamdulillahkita sudah melebihi banyak hal dari provinsi lain. Mulai dari tata kelola keuangan, pelayanan perizinan. Itu dibuktikan dalam berbagai penghargaan atas pencapaian kita. Baik dari kementerian maupun independen. Seperti pembangunan infrastruktur, dua kali berturut-turut kita dapat penghargaan dari majalah tempo,” bebernya.

Bentuk kesuksesan lainnya, Pemerintah Provinsi Kaltara kembali meraih opini Wajar tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (RI), atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) Provinsi Kaltara Tahun Anggaran 2019, yang merupakan keenam kalinya. “Alhamdulillahenam tahun ini kita dapat opini terbaik, dan itu harus dipertahankan,” katanya.

Tak sampai di situ, dalam Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) Kaltara mencatat nilai terbaik, yang sebelumnya sebesar 81,07 pada 2018  menjadi 83,45 untuk IDI 2019. “Selama 5 tahun ini IDI kaltara selalu masuk 5 besar nasional. Tentu ini bekerja sama dengan banyak pihak, tapi leadership itu penting dalam mengatur hingga tujuan-tujuan tercapai. Bukan berarti saya hebat, tapi kita mampu melakukan upaya di internal pemerintahan kita meskipun ada yang tidak sempurna,” lanjutnya.

Meski Kaltara baru berusia tujuh tahun, Indeks Pembangunan Manusia (IPM)-nya sudah sangat baik. Menurut catatan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) yang mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) 2019, IPM Provinsi Kaltara adalah tertinggi kedua di regional Kalimantan. “Pertama itu Kaltim dengan nilai 76, kemudian Kaltara 71 mau mendekati 72. Meski masih sedikit di bawah nasional, tapi kita mampu mengalahkan Kalsel, Kalteng. Maka saya mengajak anak muda, kita bisa bersaing dengan siapa saja, kita bisa membangun keunggulan, meningkatkan kualitas manusia,” jelasnya.

Kemudian dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat, Kaltara berada di posisi ke-6, berdasarkan data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) 2019. Dengan capaian angka harapan hidup 72,54. Angka ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya, 72,5.

Posisi Kaltara ini mengungguli Bali yang berada di posisi ketujuh dengan angka harapan hidup sebesar 72,00. Lalu Riau berada di posisi kedelapan dengan angka harapan hidup sebesar 71,67. Diikuti Sulawesi Utara mencatat angka harapan hidup sebesar 71,63 dan Jawa Timur yang mencatatkan angka 71,22. “Kita masuk dalam 10 terbaik. Kita diurutan ke-enam dari 34 provinsi. Itu menggambarkan pelayanan kesehatan sudah bagus, sikap perilaku masyarakat,” ucapnya.

Baca Juga :  Pemprov Kaltara Bakal Siapkan Regulasi Pengelolaan Dana CSR

Dari sisi kemakmuran, Kaltara berada di posisi keempat dengan Produk Domestik Bruto (PDRB) per Kapita sebesar USD 8.100, setelah DKI Jakarta, Kalimantan Timur dan Riau. “Pertama DKI Jakarta itu sekitar USD 12 ribu, Kaltim USD 11 ribu, Riau USD 8.200, baru Kaltara,” katanya.

Sementara itu, Irwan Sabri yang merupakan pasangan dari Irianto Lambrie ini, mewakili suara kaum milenial. Sebelumnya Irwan Sabri memperoleh suara terbanyak dalam pemilihan legislatif (pileg) dan termud kala itu.

Pada pileg 2014 lalu, pria kelahiran Tarakan, 7 Desember 1988 ini meraih lebih dua ribuan suara. Kemudian pada Pileg 2019 naik dua kali lipat atau sebanyak empat ribuan suara. Hal ini membuatnya cukup disegani di kancah perpolitikan Nunukan hingga sampai sekarang.

Sebelum terjun ke dunia politik, Irwan Sabri bercita-cita ingin menjadi seorang dokter, namun tak bisa ia teruskan. “2013 saya sempat lanjut kuliah di Unhas, Makassar. Tiba-tiba ada panggilan dari toko masyarakat, toko pemuda dan teman-teman di Nunukan untuk maju mewakili pemuda di legislatif Nunukan. Sehingga saya putuskan untuk mengabdi dan menjadi contoh bagi anak muda untuk membangun daerah,” katanya.

Singkat cerita, melihat kinerja Gubernur Kaltara, Irianto Lambrie, yang cukup sukses membangun Kaltara dari nol, ia ikut tergerak dan ingin berpasangan dalam menyelesaikan program-program ke depan. “Saya melihat selama beliau (Irianto) menjabat selama satu periode ini dan dua tahun PJ, mulai dari anggaran nol rupiah hingga saat ini, alhamdulillahkinerja membangun Kaltara sangat maju dan itu terbentuk dari gubernur pertama,” jelasnya.

“Beliau mengajak saya, dan saya sampaikan niat baik ini ke orang tua dan para tokoh-tokoh, bismillah saya maju mendampingi Pak Irianto,” sambungnya.

Usia bukan suatu halangan untuk ikut terlibat dalam kancah politik. Menurutnya kaum milenial di Kaltara memiliki banyak gagasan, ide dan berinovasi. “Mau menyampaikan aspirasi agak sungkan. Di sinilah saya hadir, mau menunjukkan bahwa pemuda harus berani tampil, berbuat baik untuk membangun Kaltara. Alhamdulillahsekarang ada beberapa anak muda di Kaltara dari masing-masing kabupaten/kota, duduk mewakili rakyat,” katanya.

“Saya maju di Pilgub ingin memperlihatkan ke anak muda, menjadi kepala daerah atau membangun daerah, bukan usia yang menentukan kita,” tukasnya. (*/bersambung/lim)

 

 

 

Most Read

Resep Es Oyen

Laga Perdana, Malinau Menang Telak

Artikel Terbaru

/