alexametrics
26 C
Tarakan
Monday, August 8, 2022

Covid-19 di Tarakan Meledak Lagi, Belum Ada Peraturan ke Arah PSBB (Lagi)

TARAKAN – Perkembangan kasus konfirmasi positif Covid-19 ‘meledak’. Di awal Desember ini, kasus bertambah sebanyak 60 orang yang dinyatakan positif, Rabu (2/12). Angka ini ‘memecah rekor’ selama perkembangan kasus Covid-19 di Tarakan, yang dimulai sejak akhir Maret lalu. Dari pantauan Radar Tarakan, lonjakan kasus tertinggi dimulai sejak pelonggaran pembatasan sosial berskala besar (PSBB) sekira akhir Juni lalu.

Apalagi dalam November, dalam sepekan terjadi penambahan kasus yang signifikan (lihat grafis). Warga yang terpapar Covid-19 sudah menyebar di 20 kelurahan. Hingga saat ini Tarakan masih dengan status zona merah.

Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Tarakan, dr. Devi Ika Indriarti, M.Kes, mengatakan tambahan 60 orang yang dinyatakan positif kemarin masih dari kontak erat klaster perkantoran atau instansi, kelompok, pelaku perjalanan. Adapula yang melakukan rapid test dengan hasil reaktif, ditindaklanjuti dengan pemeriksaan swab. Ataupun inisiatif melakukan swab mandiri.

“Tidak hanya kontak erat dengan keluarga. Tapi bisa jadi sudah tersebar ke masyarakat lain, seperti rekan kerja. Apakah itu kontak erat atau pelaku perjalanan, masih ada juga klaster perkantoran, kelompok atau komunitas,” terangnya.

Diakunya kontak erat ini sulit dikendalikan, lantaran tidak bisa diketahui pasti siapa saja yang sudah terpapar Covid-19. Apalagi saat ini banyak yang terkonfirmasi tanpa menunjukkan gejala. “Gugus Tugas sudah maksimal. Kami melakukan perawatan dan pemantauan, mengingat jumlah pasien yang diawasi cukup tinggi, juga kewalahan,” katanya.

Ditegaskannya dalam pengendalian dan pencegahan Covid-19 ini, tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah semata. Melainkan masyarakat turut andil dalam melakukan pencegahan, melalui protokol kesehatan. Minimal melakukan 3M. Yakni memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak.

“Upaya pemerintah tidak bisa berdiri sendiri, tapi bersinergi dengan upaya masyarakat,” katanya.

Tingginya angka pasien positif yang dirawat dan dipantau, yakni 392 orang per 2 Desember, Gugus Tugas memilah kasus yang tanpa gejala maupun gejala ringan dapat melakukan isolasi mandiri.

Hal ini juga dengan mempertimbangkan kapasitas ruang isolasi di rumah sakit rujukan penanganan Covid-19. Yakni kapasitas di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tarakan sekitar 56 bed. Sementara di Rumah Sakit Umum Kota Tarakan (RSUKT) terdapat 47 bed yang disiapkan.

Baca Juga :  Persaingan Ketat di Semifinal

“Kami lakukan skala prioritas. Sesuai juknis yang gejala ringan dan tanpa gejala bisa isolasi mandiri. Tapi dengan pemantauan yang ketat. Tapi butuh kesadaran diri sendiri juga, agar patuh protokol kesehatan karena petugas tidak bisa awasi selama 24 jam,” jelasnya.

Diperparah dengan jumlah tambahan kasus dan pasien sembuh yang jauh berbeda. Gugus tugas juga menyampaikan sebanyak 18 orang yang dinyatakan sembuh dari Covid-19. Tetapi angka ini sangat kecil dibandingkan dengan tambahan kasus yang mencapai 60 orang.

“Meskipun ada pasien sembuh tapi perbandingan angkanya jauh berbeda,” tuturnya.

Lantas apakah Pemerintah Kota (Pemkot) Tarakan akan kembali memberlakukan PSBB? Dia mengatakan kebijakan tersebut berdasarkan pertimbangan Wali Kota Tarakan, dr. Khairul, M.Kes, yang dikoordinasikan ke pusat.

“Ini keputusan Pak Wali. Bisa saja dilakukan lagi (PSBB), tapi tetap saja dilihat lagi,” katanya. Masyarakat ditekankan diminta meningkatkan kewaspadaan dengan mematuhi protokol kesehatan. Minimal memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak.

Khusus bagi pelaku perjalanan dari luar kota, segera melakukan isolasi mandiri selama 14 hari. Bila mengharuskan segera beraktivitas, dapat melakukan pemeriksaan swab mandiri.

“Yang kedua, masyarakat harus patuh protokol kesehatan. Kalau ada keluhan jangan ke mana-mana tapi hubungi puskesmas terdekat,” imbaunya.

 

RILIS SATGAS KALTARA

Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Kalimantan Utara (Kaltara) membenarkan kasus tambahan di Tarakan.

Jumlah kasus konfirmasi positif di Tarakan ini sebagian besar dari total tambahan konfirmasi positif di Kaltara yang berjumlah 69 kasus. Untuk 10 kasus lainnya tersebar di dua kabupaten, yakni Nunukan 4 kasus dan Bulungan 6 kasus.

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Kaltara, Agust Suwandy mengatakan, 59 kasus konfirmasi positif di Tarakan itu terbagi 4 kelompok, yakni transmisi lokal, kontak erat, klaster rumah sakit (RS), dan pelaku perjalanan.

“Untuk yang transmisi lokal itu 20 orang dengan rincian 14 laki-laki berinisial AS (25), RH (30), AR (34), AHM (32), MA (31), DPS (35), MY (53), ATAS (50), DM (70), MS (44), FR (30), RH (92), HR (26), dan TA (33),” beber Agust kepada Radar Tarakan saat dikonfirmasi, Rabu (2/12).

Sementara 6 orang lainnya perempuan dengan inisial MMP (31), MD (53), NS (33), SH (57), RT (45) dan NKR (40). Kemudian 3 orang dari klaster RS dengan inisial AS (32) laki-laki, APP (25) perempuan, NH (43) laki-laki. Lalu seorang pelaku perjalanan berinisial SM (42) berjenis kelamin perempuan.

Baca Juga :  Tingkat Fatalitas Kecelakaan Menurun

Sementara yang kontak erat berjumlah 35 orang dengan rincian 13 laki-laki dengan inisial KMA (8), MKR (11), MAA (15), MIR (24), MIA (44), MM (37), SR (61), DIK (34), SH (29), GD (10), GS (29), ZAR (6) dan BS (62). Serta 22 perempuan dengan inisial JR (50), MR (56), JS (52), SH (64), AMW (40), SNS (36), RA (23), ANS (19), RAP (13), HZ (29), SS (38), AJ (11), EYP (33), EH (22), AD (12), FM (36), NA (35), FT (58), ST (26), AY (34), DM (31), dan AD (56).

“Kemudian yang 4 kasus di Nunukan terdiri dari SL (49) perempuan pelaku perjalanan dari Surabaya, HM (62) laki-laki pelaku perjalanan dari Tanjung Selor, HR (40) laki-laki pelaku perjalanan dari Tarakan, dan MR (35) perempuan pelaku perjalanan dari Tarakan,” tuturnya.

Berikutnya 6 kasus di Bulungan itu terdiri dari 5 transmisi lokal dengan inisial DR (27) laki-laki, AE (57) perempuan, NM (24) laki-laki, OB (34) laki-laki, dan AD (28) perempuan. Serta seorang laki-laki berstatus kontak erat dengan inisial ML (55). Dengan begitu, maka total yang terkonfirmasi positif di Kaltara menjadi 1.592 kasus.

Sementara yang dinyatakan sembuh kemarin sebanyak 21 orang dengan rincian 17 orang di Tarakan, 2 orang di Bulungan, dan 2 orang di Nunukan. Jadi, total yang sembuh di provinsi termuda Indonesia ini naik menjadi 1.028 orang. Kemudian yang meninggal berjumlah 18 orang. “Sedangkan yang masih dirawat di Kaltara berjumlah 546 orang, dengan rincian 391 orang di Tarakan, 111 orang di Bulungan, 17 orang di Malinau, 15 orang di Tana Tidung, dan 12 di Nunukan,” sebutnya.

Pastinya, berbagai upaya masih terus dilakukan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltara untuk memutus rantai penularan Covid-19, salah satunya dengan menerapkan Pergub nomor 33 tahun 2020 tentang Pedoman Adaptasi Kebiasaan Baru dan Penerapan Disiplin Menuju Masyarakat Kaltara Produktif dan Aman Covid-19. (*/one/iwk/lim)

TARAKAN – Perkembangan kasus konfirmasi positif Covid-19 ‘meledak’. Di awal Desember ini, kasus bertambah sebanyak 60 orang yang dinyatakan positif, Rabu (2/12). Angka ini ‘memecah rekor’ selama perkembangan kasus Covid-19 di Tarakan, yang dimulai sejak akhir Maret lalu. Dari pantauan Radar Tarakan, lonjakan kasus tertinggi dimulai sejak pelonggaran pembatasan sosial berskala besar (PSBB) sekira akhir Juni lalu.

Apalagi dalam November, dalam sepekan terjadi penambahan kasus yang signifikan (lihat grafis). Warga yang terpapar Covid-19 sudah menyebar di 20 kelurahan. Hingga saat ini Tarakan masih dengan status zona merah.

Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Tarakan, dr. Devi Ika Indriarti, M.Kes, mengatakan tambahan 60 orang yang dinyatakan positif kemarin masih dari kontak erat klaster perkantoran atau instansi, kelompok, pelaku perjalanan. Adapula yang melakukan rapid test dengan hasil reaktif, ditindaklanjuti dengan pemeriksaan swab. Ataupun inisiatif melakukan swab mandiri.

“Tidak hanya kontak erat dengan keluarga. Tapi bisa jadi sudah tersebar ke masyarakat lain, seperti rekan kerja. Apakah itu kontak erat atau pelaku perjalanan, masih ada juga klaster perkantoran, kelompok atau komunitas,” terangnya.

Diakunya kontak erat ini sulit dikendalikan, lantaran tidak bisa diketahui pasti siapa saja yang sudah terpapar Covid-19. Apalagi saat ini banyak yang terkonfirmasi tanpa menunjukkan gejala. “Gugus Tugas sudah maksimal. Kami melakukan perawatan dan pemantauan, mengingat jumlah pasien yang diawasi cukup tinggi, juga kewalahan,” katanya.

Ditegaskannya dalam pengendalian dan pencegahan Covid-19 ini, tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah semata. Melainkan masyarakat turut andil dalam melakukan pencegahan, melalui protokol kesehatan. Minimal melakukan 3M. Yakni memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak.

“Upaya pemerintah tidak bisa berdiri sendiri, tapi bersinergi dengan upaya masyarakat,” katanya.

Tingginya angka pasien positif yang dirawat dan dipantau, yakni 392 orang per 2 Desember, Gugus Tugas memilah kasus yang tanpa gejala maupun gejala ringan dapat melakukan isolasi mandiri.

Hal ini juga dengan mempertimbangkan kapasitas ruang isolasi di rumah sakit rujukan penanganan Covid-19. Yakni kapasitas di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tarakan sekitar 56 bed. Sementara di Rumah Sakit Umum Kota Tarakan (RSUKT) terdapat 47 bed yang disiapkan.

Baca Juga :  Pembangunan Asrama Haji Transit Tertunda

“Kami lakukan skala prioritas. Sesuai juknis yang gejala ringan dan tanpa gejala bisa isolasi mandiri. Tapi dengan pemantauan yang ketat. Tapi butuh kesadaran diri sendiri juga, agar patuh protokol kesehatan karena petugas tidak bisa awasi selama 24 jam,” jelasnya.

Diperparah dengan jumlah tambahan kasus dan pasien sembuh yang jauh berbeda. Gugus tugas juga menyampaikan sebanyak 18 orang yang dinyatakan sembuh dari Covid-19. Tetapi angka ini sangat kecil dibandingkan dengan tambahan kasus yang mencapai 60 orang.

“Meskipun ada pasien sembuh tapi perbandingan angkanya jauh berbeda,” tuturnya.

Lantas apakah Pemerintah Kota (Pemkot) Tarakan akan kembali memberlakukan PSBB? Dia mengatakan kebijakan tersebut berdasarkan pertimbangan Wali Kota Tarakan, dr. Khairul, M.Kes, yang dikoordinasikan ke pusat.

“Ini keputusan Pak Wali. Bisa saja dilakukan lagi (PSBB), tapi tetap saja dilihat lagi,” katanya. Masyarakat ditekankan diminta meningkatkan kewaspadaan dengan mematuhi protokol kesehatan. Minimal memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak.

Khusus bagi pelaku perjalanan dari luar kota, segera melakukan isolasi mandiri selama 14 hari. Bila mengharuskan segera beraktivitas, dapat melakukan pemeriksaan swab mandiri.

“Yang kedua, masyarakat harus patuh protokol kesehatan. Kalau ada keluhan jangan ke mana-mana tapi hubungi puskesmas terdekat,” imbaunya.

 

RILIS SATGAS KALTARA

Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Kalimantan Utara (Kaltara) membenarkan kasus tambahan di Tarakan.

Jumlah kasus konfirmasi positif di Tarakan ini sebagian besar dari total tambahan konfirmasi positif di Kaltara yang berjumlah 69 kasus. Untuk 10 kasus lainnya tersebar di dua kabupaten, yakni Nunukan 4 kasus dan Bulungan 6 kasus.

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Kaltara, Agust Suwandy mengatakan, 59 kasus konfirmasi positif di Tarakan itu terbagi 4 kelompok, yakni transmisi lokal, kontak erat, klaster rumah sakit (RS), dan pelaku perjalanan.

“Untuk yang transmisi lokal itu 20 orang dengan rincian 14 laki-laki berinisial AS (25), RH (30), AR (34), AHM (32), MA (31), DPS (35), MY (53), ATAS (50), DM (70), MS (44), FR (30), RH (92), HR (26), dan TA (33),” beber Agust kepada Radar Tarakan saat dikonfirmasi, Rabu (2/12).

Sementara 6 orang lainnya perempuan dengan inisial MMP (31), MD (53), NS (33), SH (57), RT (45) dan NKR (40). Kemudian 3 orang dari klaster RS dengan inisial AS (32) laki-laki, APP (25) perempuan, NH (43) laki-laki. Lalu seorang pelaku perjalanan berinisial SM (42) berjenis kelamin perempuan.

Baca Juga :  Uang Senilai Rp 100 Rela Dibeli Seharga Rp 700 ribu

Sementara yang kontak erat berjumlah 35 orang dengan rincian 13 laki-laki dengan inisial KMA (8), MKR (11), MAA (15), MIR (24), MIA (44), MM (37), SR (61), DIK (34), SH (29), GD (10), GS (29), ZAR (6) dan BS (62). Serta 22 perempuan dengan inisial JR (50), MR (56), JS (52), SH (64), AMW (40), SNS (36), RA (23), ANS (19), RAP (13), HZ (29), SS (38), AJ (11), EYP (33), EH (22), AD (12), FM (36), NA (35), FT (58), ST (26), AY (34), DM (31), dan AD (56).

“Kemudian yang 4 kasus di Nunukan terdiri dari SL (49) perempuan pelaku perjalanan dari Surabaya, HM (62) laki-laki pelaku perjalanan dari Tanjung Selor, HR (40) laki-laki pelaku perjalanan dari Tarakan, dan MR (35) perempuan pelaku perjalanan dari Tarakan,” tuturnya.

Berikutnya 6 kasus di Bulungan itu terdiri dari 5 transmisi lokal dengan inisial DR (27) laki-laki, AE (57) perempuan, NM (24) laki-laki, OB (34) laki-laki, dan AD (28) perempuan. Serta seorang laki-laki berstatus kontak erat dengan inisial ML (55). Dengan begitu, maka total yang terkonfirmasi positif di Kaltara menjadi 1.592 kasus.

Sementara yang dinyatakan sembuh kemarin sebanyak 21 orang dengan rincian 17 orang di Tarakan, 2 orang di Bulungan, dan 2 orang di Nunukan. Jadi, total yang sembuh di provinsi termuda Indonesia ini naik menjadi 1.028 orang. Kemudian yang meninggal berjumlah 18 orang. “Sedangkan yang masih dirawat di Kaltara berjumlah 546 orang, dengan rincian 391 orang di Tarakan, 111 orang di Bulungan, 17 orang di Malinau, 15 orang di Tana Tidung, dan 12 di Nunukan,” sebutnya.

Pastinya, berbagai upaya masih terus dilakukan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltara untuk memutus rantai penularan Covid-19, salah satunya dengan menerapkan Pergub nomor 33 tahun 2020 tentang Pedoman Adaptasi Kebiasaan Baru dan Penerapan Disiplin Menuju Masyarakat Kaltara Produktif dan Aman Covid-19. (*/one/iwk/lim)

Most Read

Tulandi Mengaku Sempat Kesulitan

Harus Sesuai Misi Wali Kota

Rutan Masih Lebihi Kapasitas

Artikel Terbaru

/