alexametrics
30.7 C
Tarakan
Friday, August 19, 2022

Antre Gas Melon, Bawa Kartu Keluarga

TANA TIDUNG – Instruksi pemerintah terkait kewajiban membawa Kartu Keluarga (KK) bagi yang berhak mendapatkan Liquified Petroleoum Gas (LPG) 3 kg akhirnya perlahan-lahan mulai diterapkan.

Seperti yang terlihat di salah satu pangkalan LPG 3 kg  di Kecamatan Sesayap. Tampak warga yang hendak membeli gas melon-sebutan lain LPG, membawa KK. Namun demikian, walaupun pemberlakukan KK sudah diterapkan, warga masih terlihat antre. Hal ini disebabkan kelangkaan yang dirasakan sejumlah warga. “Hujan atau panas, kami antre. LPG 3 kg agak susah dicari. Harus antre kalau beli di pangkalan,” ujar Nini (32) Warga Tideng Pale saat terlihat sedang antre gas LPG.

Untuk mendapat LPG, Nini membawa fotokopi KK yang harus ditunjukkan ke petugas pangkalan saat membeli LPG. “Kalau tidak ada KK kita tidak dilayani, dan juga setiap orang hanya bisa mendapatkan satu tabung gas 3 Kg saja,” ujarnya. Meski demikian, pada penerapannya ternyata tak semua warga mengetahui kebijakan baru tersebut. Seperti diakui Luri (45), warga Sesayap. Ia mengakui tak tahu-menahu soal kewajiban membawa fotokopi KK.

Baca Juga :  Legalisir Dokumen Didominasi Pelamar CPNS

“Ya kalau harus menyerahkan fotokopi KK juga menyusahkan. Saya jauh, di tempat tinggal. Kalau harus kembali lagi ke rumah untuk fotokopi KK, nanti sampai sini belum tentu masih ada gasnya,” kata dia.

Sementara itu pemilik pangkalan LPG yang berada di Jalan Jenderal Sudirman, Risma mengakui, pemberlakuan membawa KK tersebut sudah mulai diterapkan di pangkalannya. Lanjutnya dari fotokopi KK yang dibawa pembeli pun, ia kumpulkan untuk data laporan pembeliannya. Selain itu, nama dalam KK tersebut ia catat. “Jadi bisa ketahuan kalau datang dua kali dengan KK yang sama, tidak saya jual lagi,” jelas  Risma, Jumat (28/12).

Terpisah, diungkapkan Sekretaris Disperindagkop KTT, Ibrahim, aturan tersebut, lanjutnya baru berjalan berapa pekan terakhir. Sebelumnya, ia sempat menerapkan aturan membawa fotokopi KTP bagi pembeli. Namun ternyata dengan KTP masih mudah dicurangi dan kurang efektif. Mengingat dalam satu rumah terdapat 3-5 KTP. “Kalau KK hanya satu, jadi tidak bisa dicurangi. Soalnya sekarang ini banyak pengecer yang pintar,” ujarnya.

Baca Juga :  BLT Diklaim Warga Tidak Merata

Persyaratan menyerahkan fotokopi KK tersebut untuk memastikan bahwa satu keluarga hanya mendapatkan satu tabung saja. Namun sepertinya persyaratan itu kurang tersosialisasikan. Setelah terjadi kegelisahan pengantre, pihak Disperindagkop lalu mengubah persyaratan. 

“Kalau cuma KTP, bisa saja nanti dalam satu keluarga ngambil dua atau tiga tabung. Namun melihat kondisi banyak yang tidak lengkap persyaratannya akhirnya kami perbolehkan menggunakan potokopi KTP saja,” kata Ibrahim. (*/rko/zia)

 

 

 

TANA TIDUNG – Instruksi pemerintah terkait kewajiban membawa Kartu Keluarga (KK) bagi yang berhak mendapatkan Liquified Petroleoum Gas (LPG) 3 kg akhirnya perlahan-lahan mulai diterapkan.

Seperti yang terlihat di salah satu pangkalan LPG 3 kg  di Kecamatan Sesayap. Tampak warga yang hendak membeli gas melon-sebutan lain LPG, membawa KK. Namun demikian, walaupun pemberlakukan KK sudah diterapkan, warga masih terlihat antre. Hal ini disebabkan kelangkaan yang dirasakan sejumlah warga. “Hujan atau panas, kami antre. LPG 3 kg agak susah dicari. Harus antre kalau beli di pangkalan,” ujar Nini (32) Warga Tideng Pale saat terlihat sedang antre gas LPG.

Untuk mendapat LPG, Nini membawa fotokopi KK yang harus ditunjukkan ke petugas pangkalan saat membeli LPG. “Kalau tidak ada KK kita tidak dilayani, dan juga setiap orang hanya bisa mendapatkan satu tabung gas 3 Kg saja,” ujarnya. Meski demikian, pada penerapannya ternyata tak semua warga mengetahui kebijakan baru tersebut. Seperti diakui Luri (45), warga Sesayap. Ia mengakui tak tahu-menahu soal kewajiban membawa fotokopi KK.

Baca Juga :  BLT Diklaim Warga Tidak Merata

“Ya kalau harus menyerahkan fotokopi KK juga menyusahkan. Saya jauh, di tempat tinggal. Kalau harus kembali lagi ke rumah untuk fotokopi KK, nanti sampai sini belum tentu masih ada gasnya,” kata dia.

Sementara itu pemilik pangkalan LPG yang berada di Jalan Jenderal Sudirman, Risma mengakui, pemberlakuan membawa KK tersebut sudah mulai diterapkan di pangkalannya. Lanjutnya dari fotokopi KK yang dibawa pembeli pun, ia kumpulkan untuk data laporan pembeliannya. Selain itu, nama dalam KK tersebut ia catat. “Jadi bisa ketahuan kalau datang dua kali dengan KK yang sama, tidak saya jual lagi,” jelas  Risma, Jumat (28/12).

Terpisah, diungkapkan Sekretaris Disperindagkop KTT, Ibrahim, aturan tersebut, lanjutnya baru berjalan berapa pekan terakhir. Sebelumnya, ia sempat menerapkan aturan membawa fotokopi KTP bagi pembeli. Namun ternyata dengan KTP masih mudah dicurangi dan kurang efektif. Mengingat dalam satu rumah terdapat 3-5 KTP. “Kalau KK hanya satu, jadi tidak bisa dicurangi. Soalnya sekarang ini banyak pengecer yang pintar,” ujarnya.

Baca Juga :  Warga Pesisir Dambakan Sinyal Handphone

Persyaratan menyerahkan fotokopi KK tersebut untuk memastikan bahwa satu keluarga hanya mendapatkan satu tabung saja. Namun sepertinya persyaratan itu kurang tersosialisasikan. Setelah terjadi kegelisahan pengantre, pihak Disperindagkop lalu mengubah persyaratan. 

“Kalau cuma KTP, bisa saja nanti dalam satu keluarga ngambil dua atau tiga tabung. Namun melihat kondisi banyak yang tidak lengkap persyaratannya akhirnya kami perbolehkan menggunakan potokopi KTP saja,” kata Ibrahim. (*/rko/zia)

 

 

 

Most Read

Artikel Terbaru

/