alexametrics
25.5 C
Tarakan
Monday, August 15, 2022

RSUD Diterpa Isu Malpraktik

NUNUKAN – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Nunukan sedang diterpa isu malpraktik. Berawal dari keluhan keluarga seorang bayi yang meninggal dunia usai ditangani RSUD.

Pihak keluarga masih tak percaya lantaran menemukan sejumlah kejanggalan terhadap bayi bernama Yubal, berumur 3 bulan. Keluarga menduga, Yubal meninggal karena diduga malpraktik yang dilakukan RSUD.

Moses Sitti, keluarga korban mengatakan, ada beberapa pertanyaan yang masih mengganjalnya. Pertama, saat di Sebuku, ketika Yubal akan dikebumikan, masih ditemukan tetesan darah keluar dari paha.

Kemudian, ia juga mempertanyakan, apakah kematian Yubal karena penyakit atau tindakan medis dalam mencari urat besar untuk pemasangan infus dalam tindakan operasi? Ia mempertanyakan bagaimana diagnosanya.

“Kami berupaya meredam emosi, karena pihak RSUD mau mediasi. Jadi saya apresiasi itu dan menunggu penjelasannya,” ujar Moses.

Ia mengaku, keluarga tentunya bertanya-tanya, kenapa sayatan di paha begitu besar dan darah terus keluar. Semua pun menduga tindakan medis di luar prosedur. “Ya, kami selaku orang awam soal kedokteran menduga langkah yang dilakukan dokter ini tidak sesuai apa yang harus dilakukan. Makanya semua mempertanyakannya,” tambah Moses.

Sementara itu, Direktur RSUD Nunukan dr. Dulman pun menjelaskan secara rinci kronologi hingga penanganan pihak medis oleh RSUD Nunukan terhadap Yubal. Awalnya pasien masuk Jumat (21/12) dan diterima di ruang Instalasi gawat darurat (IGD) oleh dokter jaga sekira pukul 07.30 WITA dengan keadaan sesak nafas.

Bayi terdengar merintih yang menandakan keadaannya sesak berat. Pasien diketahui datang dari Tulin Onsoi, sejak Selasa (18/12) ke Nunukan dan akan berangkat menggunakan kapal Pelni. Ketika sudah di atas kapal, Yubal pun tampak menangis dan disarankan berobat di RSUD Nunukan. “Dari situlah korban ini langsung mendatangi RSUD dan diterima di IGD oleh dokter jaga. Melihat keadaan bayi tersebut sudah demikian, langsung dilakukan penanganan,” ungkap Dulman.

Baca Juga :  Segini Jumlah IKM-UKM yang Diusulkan dapat Kartu Prakerja di Nunukan

Saat dilakukan pemeriksaan, ditemukan frekuensi napasnya 90 kali dalam satu menit. Bayi seumurnya memiliki frekuensi napas normal tidak lebih dari 40 kali permenit. Selanjutnya pemeriksaan lain juga didapatkan matanya cekung, tingkat kelenturan kulit keriput yang menandakan pasien dehidrasi berat.

Ditambah lagi nadi sulit teraba dan kadar oksigen dalam darah dengan dilihat dari saturasi O2, tidak terbaca. Untuk itu segera dilakukan pemasangan oksigen dan infus untuk jalur masuk cairan dan terutama antibiotik untuk menangani infeksinya. “Tetapi setelah dicoba pasang infus di tangan kanan dan kiri, kemudian juga di kaki kanan kiri. Bahkan sampai mencoba dipasang di kepala, tetap tidak bisa dilakukan. Padahal tindakan itu sudah dilakukan oleh petugas yang berkompeten dan ahlinya,” tambah Dulman.

Melihat keadaan itu, dokter jaga akhirnya langsung berkonsultasi ke dokter spesialis anak (DSA) yang bertugas saat itu. Kemudian DSA juga langsung konsultasi ke dokter spesialis bedah. Pasca konsultasi, dokter bedah merencanakan pemasangan infus dengan membuka lapisan kulit sampai ke jaringan di bawahnya untuk menemukan pembuluh darah. Tindakan ini dapat dilakukan di leher bagian samping atau di pangkal paha. Pada akhirnya, pada bayi lebih dipilih dipasang di pangkal paha untuk meminimalisasi risiko.

Sebelum melakukan tindakan, dokter bedah terlebih dahulu memanggil orang tua pasien untuk menjelaskan tindakan yang akan dilakukan tersebut. Setelah dijelaskan orang tua mengatakan mengerti dan menandatangani surat persetujuan tindakan tersebut.

Baca Juga :  Siapkan Rp 500 Miliar untuk Dua Kecamatan Baru

“Ya, jadi tindakan tersebut dilakukan oleh dokter spesialis bedah di kamar operasi setelah mendapatkan tanda tangan orang tua di surat persetujuan itu, karena tindakan ini dianggap harus segera dilakukan untuk menyelamatkan nyawa si bayi,” urai Dulman.

 

Setelah selesai pemasangan infus di pangkal paha, pasien segera dimasukkan ke ICU karena sesak nafas yang berat sehingga perlu pemantauan intensif. Sebelumnya DSA sudah berkoordinasi dengan dokter anestesi sebagai dokter penanggung jawab ICU.

Pasien ditangani langsung oleh 3 dokter spesialis. Usai operasi, tepat pada sore hari kembali diperiksa lagi oleh DSA dan diputuskan untuk dilakukan intubasi endotrakeal. Setelah dirawat intensif, pasien akhirnya meninggal dunia sekitar pukul 16.10 WITA pada hari yang sama, Jumat (21/12).

Setelah dikroscek riwayatnya, pasien memang sudah sakit sejak masih di Tulin Onsoi tapi belum pernah berobat. Keluarga mengira Yubal menangis seperti biasa, padahal menurut medis bayi tersebut merintih. DSA menyimpulkan, penyebab kematian bayi adalah sepsis berat, yaitu keadaan infeksi seluruh organ dalam tubuh.

Tindakan membuka lapisan kulit sampai jaringan di bawahnya dengan pembedahan atau bahasa medisnya vena seksi merupakan tindakan untuk menolong bayi tersebut untuk memasukkan cairan antibiotik dan cairan infus setelah pemasangan jalur infus di tangan, kaki bahkan kepala yang gagal dilakukan. Tahapan tindakan ini pun telah melalui prosedur.

“Jadi klarifikasi ini dilakukan untuk menghilangkan kekhawatiran masyarakat agar tidak menahan anak-anaknya apabila mereka sakit untuk tidak berobat ke rumah sakit. Karena apabila terlambat akan menyebabkan bahaya bagi anak-anak tersebut. Semoga ini menjadi pembelajaran kita semua,” terang Dulman. (raw/lim)

NUNUKAN – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Nunukan sedang diterpa isu malpraktik. Berawal dari keluhan keluarga seorang bayi yang meninggal dunia usai ditangani RSUD.

Pihak keluarga masih tak percaya lantaran menemukan sejumlah kejanggalan terhadap bayi bernama Yubal, berumur 3 bulan. Keluarga menduga, Yubal meninggal karena diduga malpraktik yang dilakukan RSUD.

Moses Sitti, keluarga korban mengatakan, ada beberapa pertanyaan yang masih mengganjalnya. Pertama, saat di Sebuku, ketika Yubal akan dikebumikan, masih ditemukan tetesan darah keluar dari paha.

Kemudian, ia juga mempertanyakan, apakah kematian Yubal karena penyakit atau tindakan medis dalam mencari urat besar untuk pemasangan infus dalam tindakan operasi? Ia mempertanyakan bagaimana diagnosanya.

“Kami berupaya meredam emosi, karena pihak RSUD mau mediasi. Jadi saya apresiasi itu dan menunggu penjelasannya,” ujar Moses.

Ia mengaku, keluarga tentunya bertanya-tanya, kenapa sayatan di paha begitu besar dan darah terus keluar. Semua pun menduga tindakan medis di luar prosedur. “Ya, kami selaku orang awam soal kedokteran menduga langkah yang dilakukan dokter ini tidak sesuai apa yang harus dilakukan. Makanya semua mempertanyakannya,” tambah Moses.

Sementara itu, Direktur RSUD Nunukan dr. Dulman pun menjelaskan secara rinci kronologi hingga penanganan pihak medis oleh RSUD Nunukan terhadap Yubal. Awalnya pasien masuk Jumat (21/12) dan diterima di ruang Instalasi gawat darurat (IGD) oleh dokter jaga sekira pukul 07.30 WITA dengan keadaan sesak nafas.

Bayi terdengar merintih yang menandakan keadaannya sesak berat. Pasien diketahui datang dari Tulin Onsoi, sejak Selasa (18/12) ke Nunukan dan akan berangkat menggunakan kapal Pelni. Ketika sudah di atas kapal, Yubal pun tampak menangis dan disarankan berobat di RSUD Nunukan. “Dari situlah korban ini langsung mendatangi RSUD dan diterima di IGD oleh dokter jaga. Melihat keadaan bayi tersebut sudah demikian, langsung dilakukan penanganan,” ungkap Dulman.

Baca Juga :  Terdampak Longsor, Rumah di Lumbis Ogong Rusak Parah

Saat dilakukan pemeriksaan, ditemukan frekuensi napasnya 90 kali dalam satu menit. Bayi seumurnya memiliki frekuensi napas normal tidak lebih dari 40 kali permenit. Selanjutnya pemeriksaan lain juga didapatkan matanya cekung, tingkat kelenturan kulit keriput yang menandakan pasien dehidrasi berat.

Ditambah lagi nadi sulit teraba dan kadar oksigen dalam darah dengan dilihat dari saturasi O2, tidak terbaca. Untuk itu segera dilakukan pemasangan oksigen dan infus untuk jalur masuk cairan dan terutama antibiotik untuk menangani infeksinya. “Tetapi setelah dicoba pasang infus di tangan kanan dan kiri, kemudian juga di kaki kanan kiri. Bahkan sampai mencoba dipasang di kepala, tetap tidak bisa dilakukan. Padahal tindakan itu sudah dilakukan oleh petugas yang berkompeten dan ahlinya,” tambah Dulman.

Melihat keadaan itu, dokter jaga akhirnya langsung berkonsultasi ke dokter spesialis anak (DSA) yang bertugas saat itu. Kemudian DSA juga langsung konsultasi ke dokter spesialis bedah. Pasca konsultasi, dokter bedah merencanakan pemasangan infus dengan membuka lapisan kulit sampai ke jaringan di bawahnya untuk menemukan pembuluh darah. Tindakan ini dapat dilakukan di leher bagian samping atau di pangkal paha. Pada akhirnya, pada bayi lebih dipilih dipasang di pangkal paha untuk meminimalisasi risiko.

Sebelum melakukan tindakan, dokter bedah terlebih dahulu memanggil orang tua pasien untuk menjelaskan tindakan yang akan dilakukan tersebut. Setelah dijelaskan orang tua mengatakan mengerti dan menandatangani surat persetujuan tindakan tersebut.

Baca Juga :  Camat Minta Penggunaan Dana Desa Dipublikasikan

“Ya, jadi tindakan tersebut dilakukan oleh dokter spesialis bedah di kamar operasi setelah mendapatkan tanda tangan orang tua di surat persetujuan itu, karena tindakan ini dianggap harus segera dilakukan untuk menyelamatkan nyawa si bayi,” urai Dulman.

 

Setelah selesai pemasangan infus di pangkal paha, pasien segera dimasukkan ke ICU karena sesak nafas yang berat sehingga perlu pemantauan intensif. Sebelumnya DSA sudah berkoordinasi dengan dokter anestesi sebagai dokter penanggung jawab ICU.

Pasien ditangani langsung oleh 3 dokter spesialis. Usai operasi, tepat pada sore hari kembali diperiksa lagi oleh DSA dan diputuskan untuk dilakukan intubasi endotrakeal. Setelah dirawat intensif, pasien akhirnya meninggal dunia sekitar pukul 16.10 WITA pada hari yang sama, Jumat (21/12).

Setelah dikroscek riwayatnya, pasien memang sudah sakit sejak masih di Tulin Onsoi tapi belum pernah berobat. Keluarga mengira Yubal menangis seperti biasa, padahal menurut medis bayi tersebut merintih. DSA menyimpulkan, penyebab kematian bayi adalah sepsis berat, yaitu keadaan infeksi seluruh organ dalam tubuh.

Tindakan membuka lapisan kulit sampai jaringan di bawahnya dengan pembedahan atau bahasa medisnya vena seksi merupakan tindakan untuk menolong bayi tersebut untuk memasukkan cairan antibiotik dan cairan infus setelah pemasangan jalur infus di tangan, kaki bahkan kepala yang gagal dilakukan. Tahapan tindakan ini pun telah melalui prosedur.

“Jadi klarifikasi ini dilakukan untuk menghilangkan kekhawatiran masyarakat agar tidak menahan anak-anaknya apabila mereka sakit untuk tidak berobat ke rumah sakit. Karena apabila terlambat akan menyebabkan bahaya bagi anak-anak tersebut. Semoga ini menjadi pembelajaran kita semua,” terang Dulman. (raw/lim)

Most Read

Artikel Terbaru

/