alexametrics
26.7 C
Tarakan
Thursday, August 11, 2022

Masih Banyak Pedagang Asongan, Pelindo Dilema

NUNUKAN – Keberadaan pedagang asongan di Pelabuhan Tunon Taka Nunukan, membuat PT Pelindo IV Cabang Nunukan dilema melakukan tindakan.

Selain pedagang yang sudah berjualan sejak puluhan tahun, belum lagi terkait nasib para pedagang itu sendiri, karena jumlahnya tidak sedikit, yang mencapai ratusan.

Manager Operasi PT Pelindo IV Cabanf Nunukan Damsi mengatakan, sejatinya penertiban sudah sering dilakukan pihaknya. Apalagi itu sudah aturan yang diberlakukan di pelabuhan.

“Namun terkadang jadi serba salah, kita sudah tertibkan tapi nanti tetap berjualan lagi mereka, di sisi lain juga memang terkait nasib mereka yang menggantungkan hidupnya di pelabuhan,” ujar Damsi kepada media ini.

Meski begitu, pihaknya mengaku gencar terus melakukan sosialisasi.

Itu rutin dilakukan secara humanis supaya para pedagang bisa diakomodir dengan tempat yang sudah ditentukan.

Baca Juga :  PPK Nilai Pelaut Kaltara Belum Sejahtera

Sayangnya, dengan tempat yang sudah ada, masih jadi simalakama, karena biaya sewa tempat yang disediakan pihaknya tidaklah murah.

Padahal, setidaknya ada puluhan lapak yang terletak di lantai dua terminal telah disiapkan.

“Tapi ya itu lagi, biaya sewanya memang agak tinggi, berkisar Rp 1,8 juta. Sementara mereka ini hanya pedagang biasa,” tambah Damsi.

Di tempat terpisah, Ani, salah seorang pedagang asongan di area Pelabuhan Tunon Taka Nunukan mengaku, untuk bisa masuk ke pelabuhan, dirinya harus lewat laut dari dermaga tradisional ke pelabuhan dengan membayar Rp 10 ribu ke motoris speed boat yang membawanya.

“Kita subuh-subuh turun sudah, pas belum ada petugas,” ujarnya ketika ditemui di pelabuhan.

Melakukan aksi kucing-kucingan memang sudah sering dilakukannya. Ketika bertemu petugas, mereka rela diusir keluar tanpa perlawanan.

Baca Juga :  Kasus Covid-19 Harian di Daerah Ini Bertambah 113

“Pandai-pandailah pokoknya kita, sembunyi-sembunyi. Kalau sudah ada petugas, kita diusir ya keluar, nanti ada kesempatan masuk lagi. Bukan kita pergi mencuri, tapi berjualan,” tambahnya.

Ani mengaku berjualan di pelabuhan sudah sejak anaknya masih berumur satu tahun.

Saat berjualan di pelabuhan, anaknya dititipkan keluarga yang menjaga.

Sekarang anaknya sudah kuliah di Jawa, artinya sudah selama puluhan tahun.

Yang dirinya ingat, waktu itu Pelabuhan Tunon Taka masih dari bahan kayu.

Tidak seperti saat ini, sudah beton. Saat ini, ia berjualan es merah dengan harga Rp 10 ribu.

Dalam sehari, dia bisa menghabiskan beberapa termos es besar. (ash)






Reporter: Riko Aditya

NUNUKAN – Keberadaan pedagang asongan di Pelabuhan Tunon Taka Nunukan, membuat PT Pelindo IV Cabang Nunukan dilema melakukan tindakan.

Selain pedagang yang sudah berjualan sejak puluhan tahun, belum lagi terkait nasib para pedagang itu sendiri, karena jumlahnya tidak sedikit, yang mencapai ratusan.

Manager Operasi PT Pelindo IV Cabanf Nunukan Damsi mengatakan, sejatinya penertiban sudah sering dilakukan pihaknya. Apalagi itu sudah aturan yang diberlakukan di pelabuhan.

“Namun terkadang jadi serba salah, kita sudah tertibkan tapi nanti tetap berjualan lagi mereka, di sisi lain juga memang terkait nasib mereka yang menggantungkan hidupnya di pelabuhan,” ujar Damsi kepada media ini.

Meski begitu, pihaknya mengaku gencar terus melakukan sosialisasi.

Itu rutin dilakukan secara humanis supaya para pedagang bisa diakomodir dengan tempat yang sudah ditentukan.

Baca Juga :  Terlibat Tabrakan Maut, Dua Pelajar Tewas

Sayangnya, dengan tempat yang sudah ada, masih jadi simalakama, karena biaya sewa tempat yang disediakan pihaknya tidaklah murah.

Padahal, setidaknya ada puluhan lapak yang terletak di lantai dua terminal telah disiapkan.

“Tapi ya itu lagi, biaya sewanya memang agak tinggi, berkisar Rp 1,8 juta. Sementara mereka ini hanya pedagang biasa,” tambah Damsi.

Di tempat terpisah, Ani, salah seorang pedagang asongan di area Pelabuhan Tunon Taka Nunukan mengaku, untuk bisa masuk ke pelabuhan, dirinya harus lewat laut dari dermaga tradisional ke pelabuhan dengan membayar Rp 10 ribu ke motoris speed boat yang membawanya.

“Kita subuh-subuh turun sudah, pas belum ada petugas,” ujarnya ketika ditemui di pelabuhan.

Melakukan aksi kucing-kucingan memang sudah sering dilakukannya. Ketika bertemu petugas, mereka rela diusir keluar tanpa perlawanan.

Baca Juga :  Produk Nunukan Banyak Diminati Warga Malaysia

“Pandai-pandailah pokoknya kita, sembunyi-sembunyi. Kalau sudah ada petugas, kita diusir ya keluar, nanti ada kesempatan masuk lagi. Bukan kita pergi mencuri, tapi berjualan,” tambahnya.

Ani mengaku berjualan di pelabuhan sudah sejak anaknya masih berumur satu tahun.

Saat berjualan di pelabuhan, anaknya dititipkan keluarga yang menjaga.

Sekarang anaknya sudah kuliah di Jawa, artinya sudah selama puluhan tahun.

Yang dirinya ingat, waktu itu Pelabuhan Tunon Taka masih dari bahan kayu.

Tidak seperti saat ini, sudah beton. Saat ini, ia berjualan es merah dengan harga Rp 10 ribu.

Dalam sehari, dia bisa menghabiskan beberapa termos es besar. (ash)






Reporter: Riko Aditya

Most Read

Artikel Terbaru

/