alexametrics
26.7 C
Tarakan
Thursday, August 11, 2022

Minim Anggaran, Program Stagnan

NUNUKAN – Kekerasan terhadap anak masih saja ditemukan sampai saat ini di Kabupaten Nunukan. Padahal, sejumlah aturan diterbitkan untuk melindungi anak ternyata tak mampu diandalkan. Utamanya bagi pelaku yang terus mengincar anak-anak.

Sayangnya, upaya pemerintah melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Pendudukan dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Nunukan belum mampu maksimal mengatasinya. Keterbatasan anggaran dalam melakukan program menjadi salah satu kendala yang dihadapi.

Kepala Bidang Perlindungan Anak DP3AP2KB Nunukan, Endah Kurniawati tak menampik hal itu. Ia mengatakan, kekerasan terhadap anak saat ini memang cukup parah. Hampir setiap kejadian yang ditemui kasusnya cukup memprihatinkan. Namun sayangnya, pihaknya tidak dapat berbuat banyak. “Sepanjang 2018 ini sudah ada 5 kasus kekerasan anak yang akhirnya berlanjut hingga ke jalur hukum,” sebut Edah kepada media ini kemarin.

Menurutnya, kasus-kasus kekerasan terhadap anak ini membutuhkan penanganan khusus. Karena berkaitan dengan lingkungan keluarga dan juga lingkungan warga sekitar juga. Upaya pemerintah sudah cukup besar, namun semuanya tidak dapat dilakukan karena keterbatasan anggaran yang dimiliki. “Makanya, hanya beberapa kegiatan saja mampu dilakukan. Itupun dilakukan dengan bekoordinasi dengan perangkat daerah lainnya,” ungkapnya.

Baca Juga :  Proyek Pujasera Rp 2,7 Miliar Dimulai

Diungkapkan, pendampingan beberapa kasus hukum yang melibatkan anak saat ini tetap dilakukan. Meskipun harus mengeluarkan dana pribadi pihaknya tidak berhenti. Salah satuny pada kasus pelecehan seksual terhadap pelajar yang dilakukan seorang oknum aparatur sipil negara (ASN) di Pemerintahan Kabupaten (Pemkab) Nunukan. “Tetap kami kawal. Karena ini persoalan perlindungan anak. Jadi, wajib dilakukan,” ujarnya.

Lebih lanjut dia menjelaskan, kepedulian masyarakat terhadap kekerasan anak memang masih kurang saat ini. Meskipun, beberapa kasus yang diungkap itu karena adanya tindakan warga sekitar yang melaporkannya. Namun, hal itu dianggap kurang karena adanya kejadian. Sehingga, sangat diperlukan pembinaan dan sosialiasi lebih kepada warga mengenai kasus kekeraan terhadap anak ini. “Makanya, sangat diperlukan tindakan di lapangan. Tapi, sepanjang 2018 itu kami kesulitan melakukannya,” ungkapnya.

Baca Juga :  Cantiknya...Super Blue Blood Moon dari Langit Nunukan

Pergaulan bebas yang mengarah ke hal negatif terhadap remaja saat ini juga banyak. Sudah banyak laporan yang masuk. Dibuktikan dengan kondisi yang terjadi di lapangan memang ada. Seperti, prostitusi yang melibatkan anak di bawah umur atau berstatus pelajar. “Hal itu ada karena mucikarinya yang seorang pelajar itu sudah ditangani saat ini. Bahkan, kejadian lesbian dan gay itu juga ada. Dan itu sudah kami pantau,” bebernya.

Pergaulan remaja saat ini memang sudah sangat memprihatinkan. Karena pergaulan itu, banyak anak-anak yang juga menjadi korban. Jika sudah seperti ini, orang tua sudah seharusnya ikut peduli dengan anaknya. “Pola asuh anak memang perlu diperhatikan sebenarnya. Orang tua harus lebih berhati-hati dan seharusnya memberikan edukasi anaknya di rumah lebih banyak. Jangan salah, menyayangi anak bukan berarti membiarkan mereka menggunakan hal yang membahayakan mereka,” pungkasnya. (oya/nri)

 

NUNUKAN – Kekerasan terhadap anak masih saja ditemukan sampai saat ini di Kabupaten Nunukan. Padahal, sejumlah aturan diterbitkan untuk melindungi anak ternyata tak mampu diandalkan. Utamanya bagi pelaku yang terus mengincar anak-anak.

Sayangnya, upaya pemerintah melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Pendudukan dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Nunukan belum mampu maksimal mengatasinya. Keterbatasan anggaran dalam melakukan program menjadi salah satu kendala yang dihadapi.

Kepala Bidang Perlindungan Anak DP3AP2KB Nunukan, Endah Kurniawati tak menampik hal itu. Ia mengatakan, kekerasan terhadap anak saat ini memang cukup parah. Hampir setiap kejadian yang ditemui kasusnya cukup memprihatinkan. Namun sayangnya, pihaknya tidak dapat berbuat banyak. “Sepanjang 2018 ini sudah ada 5 kasus kekerasan anak yang akhirnya berlanjut hingga ke jalur hukum,” sebut Edah kepada media ini kemarin.

Menurutnya, kasus-kasus kekerasan terhadap anak ini membutuhkan penanganan khusus. Karena berkaitan dengan lingkungan keluarga dan juga lingkungan warga sekitar juga. Upaya pemerintah sudah cukup besar, namun semuanya tidak dapat dilakukan karena keterbatasan anggaran yang dimiliki. “Makanya, hanya beberapa kegiatan saja mampu dilakukan. Itupun dilakukan dengan bekoordinasi dengan perangkat daerah lainnya,” ungkapnya.

Baca Juga :  Setelah Sebulan, Pasien Rujukan Kembali Dilayani RSUD Malinau

Diungkapkan, pendampingan beberapa kasus hukum yang melibatkan anak saat ini tetap dilakukan. Meskipun harus mengeluarkan dana pribadi pihaknya tidak berhenti. Salah satuny pada kasus pelecehan seksual terhadap pelajar yang dilakukan seorang oknum aparatur sipil negara (ASN) di Pemerintahan Kabupaten (Pemkab) Nunukan. “Tetap kami kawal. Karena ini persoalan perlindungan anak. Jadi, wajib dilakukan,” ujarnya.

Lebih lanjut dia menjelaskan, kepedulian masyarakat terhadap kekerasan anak memang masih kurang saat ini. Meskipun, beberapa kasus yang diungkap itu karena adanya tindakan warga sekitar yang melaporkannya. Namun, hal itu dianggap kurang karena adanya kejadian. Sehingga, sangat diperlukan pembinaan dan sosialiasi lebih kepada warga mengenai kasus kekeraan terhadap anak ini. “Makanya, sangat diperlukan tindakan di lapangan. Tapi, sepanjang 2018 itu kami kesulitan melakukannya,” ungkapnya.

Baca Juga :  Ombak Capai Satu Meter, Tingkatkan Kewaspadaan

Pergaulan bebas yang mengarah ke hal negatif terhadap remaja saat ini juga banyak. Sudah banyak laporan yang masuk. Dibuktikan dengan kondisi yang terjadi di lapangan memang ada. Seperti, prostitusi yang melibatkan anak di bawah umur atau berstatus pelajar. “Hal itu ada karena mucikarinya yang seorang pelajar itu sudah ditangani saat ini. Bahkan, kejadian lesbian dan gay itu juga ada. Dan itu sudah kami pantau,” bebernya.

Pergaulan remaja saat ini memang sudah sangat memprihatinkan. Karena pergaulan itu, banyak anak-anak yang juga menjadi korban. Jika sudah seperti ini, orang tua sudah seharusnya ikut peduli dengan anaknya. “Pola asuh anak memang perlu diperhatikan sebenarnya. Orang tua harus lebih berhati-hati dan seharusnya memberikan edukasi anaknya di rumah lebih banyak. Jangan salah, menyayangi anak bukan berarti membiarkan mereka menggunakan hal yang membahayakan mereka,” pungkasnya. (oya/nri)

 

Most Read

Artikel Terbaru

/