alexametrics
26.7 C
Tarakan
Friday, August 12, 2022

Rayakan Tahun Baru Jangan Berlebihan

NUNUKAN – Pergantian tahun tinggal menghitung hari. Tak dipungkiri kerap kali masyarakat di Indonesia menggelar perayaan menyambut harapan baru di tahun yang baru. Kementerian Agama (Kemenag) Nunukan, menyarankan agar penyambutan tersebut dilakukan secara sederhana.

Kepala Kemenag Nunukan, H. M. Saleh mengatakan, bahwa umat Islam tidak perlu berlebihan merayakan tahun baru Masehi pada 31 Desember. Karena memang tidak ada perayaan tahun baru dalam agama Islam.

“Banyak aktivitas dapat dilakukan dalam menyambut tahun baru 2019, seperti melakukan zikir dan melakukan doa bersama,” kata H. M. Saleh kemarin.

Euforia perayaan tahun baru di tengah-tengah masyarakat muslim, khususnya di Indonesia. Hal ini menjadi tradisi umum bagi masyarakat di Nunukan. Pesta kembang api dalam menanti detik-detik pergantian tahun.

Bahkan, ada  yang rela merogoh koceknya untuk membeli kembang api dan membuat acara agar dapat berkumpul bersama kerabat dan teman-teman. Semua itu dilakukan hanya untuk menyambut malam yang meriah. Malam yang penuh gemarlap kembang api dan suara terompet yang menggema di setiap tempat.

Baca Juga :  Tak Dianggarkan, Gunakan Dana Pribadi

Fenomena  menyambut tahun baru masehi, selalu terulang hampir di tiap akhir tahun. Seluruh masyarakat merayakannya, baik itu laki-laki atau perempuan, tua atau muda, kaya atau miskin, tanpa terkecuali umat Islam. Semuanya merayakan malam tahun baru dengan penuh suka cita dengan harapan tahun ini lebih baik dari tahun sebelumnya.

Untuk itu, ia mengingatkan kepada seluruh masyarakat Nunukan yang ingin merayakan pergantian tahun baru, sebaiknya dilakukan hal-hal yang positif saja, atau yang bersifat keagamaan. Sebab, kegiatan seperti itu, akan membawa perubahan yang baik pula terhadap kemajuan suatu nagari maupun daerah.

“Semua tentu akan senang menyambut datangnya Tahun Baru. Namun, alangkah baiknya kita isi dengan hal-hal yang positif saja. Agar tercipta suasana yang aman dan tentram di lingkungan masing-masing,” pesannya.

Baca Juga :  Pengoperasian RS Pratama Tertunda

Kebiasaan yang selalu berlebihan dalam menyambut pergantian tahun, tentu akan berujung kepada hal-hal yang bersifat negatif dan tidak bermanfaat, seperti hura-hura, membakar petasan dan kembang api, bahkan parahnya sampai kepada kegiatan yang melawan hukum yakni miras, narkoba dan seks bebas.

“Budaya seperti ini yang harus dihilangkan. Hal ini tidak luput dari pengawalan bersama. Harus memberikan contoh teladan kepada generasi muda nantinya, agar terhindar dari perbuatan maksiat dan melanggar hukum,” tambahnya. (nal/nri)

 

 

NUNUKAN – Pergantian tahun tinggal menghitung hari. Tak dipungkiri kerap kali masyarakat di Indonesia menggelar perayaan menyambut harapan baru di tahun yang baru. Kementerian Agama (Kemenag) Nunukan, menyarankan agar penyambutan tersebut dilakukan secara sederhana.

Kepala Kemenag Nunukan, H. M. Saleh mengatakan, bahwa umat Islam tidak perlu berlebihan merayakan tahun baru Masehi pada 31 Desember. Karena memang tidak ada perayaan tahun baru dalam agama Islam.

“Banyak aktivitas dapat dilakukan dalam menyambut tahun baru 2019, seperti melakukan zikir dan melakukan doa bersama,” kata H. M. Saleh kemarin.

Euforia perayaan tahun baru di tengah-tengah masyarakat muslim, khususnya di Indonesia. Hal ini menjadi tradisi umum bagi masyarakat di Nunukan. Pesta kembang api dalam menanti detik-detik pergantian tahun.

Bahkan, ada  yang rela merogoh koceknya untuk membeli kembang api dan membuat acara agar dapat berkumpul bersama kerabat dan teman-teman. Semua itu dilakukan hanya untuk menyambut malam yang meriah. Malam yang penuh gemarlap kembang api dan suara terompet yang menggema di setiap tempat.

Baca Juga :  Lima Warga India Dipulangkan

Fenomena  menyambut tahun baru masehi, selalu terulang hampir di tiap akhir tahun. Seluruh masyarakat merayakannya, baik itu laki-laki atau perempuan, tua atau muda, kaya atau miskin, tanpa terkecuali umat Islam. Semuanya merayakan malam tahun baru dengan penuh suka cita dengan harapan tahun ini lebih baik dari tahun sebelumnya.

Untuk itu, ia mengingatkan kepada seluruh masyarakat Nunukan yang ingin merayakan pergantian tahun baru, sebaiknya dilakukan hal-hal yang positif saja, atau yang bersifat keagamaan. Sebab, kegiatan seperti itu, akan membawa perubahan yang baik pula terhadap kemajuan suatu nagari maupun daerah.

“Semua tentu akan senang menyambut datangnya Tahun Baru. Namun, alangkah baiknya kita isi dengan hal-hal yang positif saja. Agar tercipta suasana yang aman dan tentram di lingkungan masing-masing,” pesannya.

Baca Juga :  Anak Bebas Belanja, Bahaya Kesehatan Mengintai

Kebiasaan yang selalu berlebihan dalam menyambut pergantian tahun, tentu akan berujung kepada hal-hal yang bersifat negatif dan tidak bermanfaat, seperti hura-hura, membakar petasan dan kembang api, bahkan parahnya sampai kepada kegiatan yang melawan hukum yakni miras, narkoba dan seks bebas.

“Budaya seperti ini yang harus dihilangkan. Hal ini tidak luput dari pengawalan bersama. Harus memberikan contoh teladan kepada generasi muda nantinya, agar terhindar dari perbuatan maksiat dan melanggar hukum,” tambahnya. (nal/nri)

 

 

Most Read

Artikel Terbaru

/