alexametrics
25.7 C
Tarakan
Monday, August 8, 2022

Pengangkutan BBM ke Perbatasan Terkendala karena Lisensi Pilot

NUNUKAN – Ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) jenis premium dan solar di daratan Krayan sempat mengalami kelangkaan sejak beberapa pekan terakhir. Sejumlah pedagang lokal kemudian berinisiatif mendatangkan BBM jenis pertalite dari Kabupaten Malinau yang menyebabkan harga per liternya menyentuh angka Rp 35 ribu hingga Rp 36 ribu.

Camat Krayan, Heberli saat dikonfirmasi media ini, Selasa (22/12) mengatakan, harga Rp 35 ribu per liter tersebut bukan merupakan BBM yang didatangkan Pertamina. “Jadi itu bukan BBM yang didatangkan Pertamina ke Krayan. Tapi BBM jenis pertalite yang didatangkan oleh pedagang setempat dari Kabupaten Malinau,” tegas Heberli.

Dia menjelaskan, suplai BBM satu harga di Krayan memang sempat mengalami kendala lantaran armada angkut pesawat Air Tractor AT-802 PK-PAY sedang tidak beroperasi. Padahal, daya angkut armada ini mencapai 4 ton BBM dalam satu kali keberangkatan dari Tarakan ke Krayan. “Pesawat Air Tractor ini daya angkutnya 4 ton dalam satu flight. Sementara frekuensi terbangnya dua kali dalam sehari dengan total 8 ton BBM. Alokasi BBM ini didistribusikan ke 1 APMS dan 2 SPBU di daratan Krayan,” ungkap Heberli.

Baca Juga :  Sistem Zonasi Dinilai Belum Layak

Kendati pesawat Air Tractor sedang tidak beroperasi lantaran lisensi pilotnya menunggu perpanjangan, dikatakan Heberli, armada angkut sementara waktu digantikan oleh pesawat jenis lain dengan kapasitas 1,2 ton dalam satu kali flight. Dalam sehari, pesawat pengganti melakukan 3 kali flight dengan total akumulasi angkut sekitar 3,6 ton perhari.

“Sementara kebutuhan rata-rata masyarakat per harinya sekitar 8 ton BBM. Kondisi ini yang kemudian menyebabkan kelangkaan dan terjadinya antrean. Apalagi menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru, kebutuhan masyarakat terhadap BBM kian meningkat,” jelas Heberli.

Selain itu, mesin PLN yang beroperasi di Krayan sempat pula mengalami gangguan. Akibatnya, warga di 5 kecamatan di Krayan, terpaksa mengoperasikan genset pribadi yang notabene membutuhkan BBM.

Hingga berita ini diturunkan, dikatakan Heberli, kebutuhan BBM di Krayan berangsur pulih. Sebab, Pertamina kembali mengoperasikan pesawat jenis Air Tractor meski dengan kapasitas daya angkut yang lebih kecil yakni 2,7 ton BBM dalam satu kali flight. Dalam sehari, pesawat ini berangkat dari Tarakan ke Krayan sebanyak 3 kali. “Dengan 3 flight setiap harinya, maka jumlah BBM yang tiba di Krayan sudah mendekati kebutuhan normal yakni 8 ton per hari. Mengenai harga, saya tegaskan kembali, harga yang dipatok tetap mengacu pada BBM satu harga yakni Rp Rp 6.450 per liter untuk premium dan Rp 5.150 per liter solar,” terang Heberli.

Baca Juga :  Kades Dilema, Antara Mundur atau Tidak

Pintu perdagangan di perbatasan Serawak sampai saat ini belum juga dibuka. Menurut Heberli, kondisi ini turut menyebabkan seluruh kebutuhan masyarakat harus bergantung pada suplai dalam negeri. Berbeda saat sebelum pandemi Covid-19, pintu perbatasan masih dibuka untuk jalur perdagangan tradisional antar masyarakat di Krayan Indonesia dengan masyarakat di Bakelalan, Serawak Malaysia.

Terpisah, Kepala Bagian (Kabag) Ekonomi Setkab Nunukan, Muhtar, S.H, saat dikonfirmasi mengatakan, pemerintah daerah terus memonitor kondisi BBM di Krayan. Dia juga telah beberapa kali berkomunikasi dengan pihak Pertamina agar segera merespons kebutuhan BBM masyarakat di Krayan. “Tentu kami memonitor kondisi ini. Pihak Pertamina juga sudah menyampaikan bahwa saat ini sudah dioperasikan pesawat pengganti dengan kapasitas angkut yang memadai. Kita berharap dalam satu dua hari ini, kebutuhan BBM di Krayan kembali lancar,” ujar Muhtar. (dra/lim)

NUNUKAN – Ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) jenis premium dan solar di daratan Krayan sempat mengalami kelangkaan sejak beberapa pekan terakhir. Sejumlah pedagang lokal kemudian berinisiatif mendatangkan BBM jenis pertalite dari Kabupaten Malinau yang menyebabkan harga per liternya menyentuh angka Rp 35 ribu hingga Rp 36 ribu.

Camat Krayan, Heberli saat dikonfirmasi media ini, Selasa (22/12) mengatakan, harga Rp 35 ribu per liter tersebut bukan merupakan BBM yang didatangkan Pertamina. “Jadi itu bukan BBM yang didatangkan Pertamina ke Krayan. Tapi BBM jenis pertalite yang didatangkan oleh pedagang setempat dari Kabupaten Malinau,” tegas Heberli.

Dia menjelaskan, suplai BBM satu harga di Krayan memang sempat mengalami kendala lantaran armada angkut pesawat Air Tractor AT-802 PK-PAY sedang tidak beroperasi. Padahal, daya angkut armada ini mencapai 4 ton BBM dalam satu kali keberangkatan dari Tarakan ke Krayan. “Pesawat Air Tractor ini daya angkutnya 4 ton dalam satu flight. Sementara frekuensi terbangnya dua kali dalam sehari dengan total 8 ton BBM. Alokasi BBM ini didistribusikan ke 1 APMS dan 2 SPBU di daratan Krayan,” ungkap Heberli.

Baca Juga :  Kades Dilema, Antara Mundur atau Tidak

Kendati pesawat Air Tractor sedang tidak beroperasi lantaran lisensi pilotnya menunggu perpanjangan, dikatakan Heberli, armada angkut sementara waktu digantikan oleh pesawat jenis lain dengan kapasitas 1,2 ton dalam satu kali flight. Dalam sehari, pesawat pengganti melakukan 3 kali flight dengan total akumulasi angkut sekitar 3,6 ton perhari.

“Sementara kebutuhan rata-rata masyarakat per harinya sekitar 8 ton BBM. Kondisi ini yang kemudian menyebabkan kelangkaan dan terjadinya antrean. Apalagi menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru, kebutuhan masyarakat terhadap BBM kian meningkat,” jelas Heberli.

Selain itu, mesin PLN yang beroperasi di Krayan sempat pula mengalami gangguan. Akibatnya, warga di 5 kecamatan di Krayan, terpaksa mengoperasikan genset pribadi yang notabene membutuhkan BBM.

Hingga berita ini diturunkan, dikatakan Heberli, kebutuhan BBM di Krayan berangsur pulih. Sebab, Pertamina kembali mengoperasikan pesawat jenis Air Tractor meski dengan kapasitas daya angkut yang lebih kecil yakni 2,7 ton BBM dalam satu kali flight. Dalam sehari, pesawat ini berangkat dari Tarakan ke Krayan sebanyak 3 kali. “Dengan 3 flight setiap harinya, maka jumlah BBM yang tiba di Krayan sudah mendekati kebutuhan normal yakni 8 ton per hari. Mengenai harga, saya tegaskan kembali, harga yang dipatok tetap mengacu pada BBM satu harga yakni Rp Rp 6.450 per liter untuk premium dan Rp 5.150 per liter solar,” terang Heberli.

Baca Juga :  Masyarakat Boleh Tangkap Pelaku Narkoba

Pintu perdagangan di perbatasan Serawak sampai saat ini belum juga dibuka. Menurut Heberli, kondisi ini turut menyebabkan seluruh kebutuhan masyarakat harus bergantung pada suplai dalam negeri. Berbeda saat sebelum pandemi Covid-19, pintu perbatasan masih dibuka untuk jalur perdagangan tradisional antar masyarakat di Krayan Indonesia dengan masyarakat di Bakelalan, Serawak Malaysia.

Terpisah, Kepala Bagian (Kabag) Ekonomi Setkab Nunukan, Muhtar, S.H, saat dikonfirmasi mengatakan, pemerintah daerah terus memonitor kondisi BBM di Krayan. Dia juga telah beberapa kali berkomunikasi dengan pihak Pertamina agar segera merespons kebutuhan BBM masyarakat di Krayan. “Tentu kami memonitor kondisi ini. Pihak Pertamina juga sudah menyampaikan bahwa saat ini sudah dioperasikan pesawat pengganti dengan kapasitas angkut yang memadai. Kita berharap dalam satu dua hari ini, kebutuhan BBM di Krayan kembali lancar,” ujar Muhtar. (dra/lim)

Most Read

Masuk Ruangan ICU yang Ia Banggakan

Resep Kepiting Sotta

Artikel Terbaru

/