alexametrics
25.5 C
Tarakan
Monday, August 15, 2022

177 Ton Rumput Laut Asal Nunukan Dikirim ke Makassar

NUNUKAN – Kondisi pandemi Covid-19 di Nunukan cukup berdampak pada kegiatan ekonomi masyarakat. Namun begitu, kalangan petani dan pengusaha komoditas rumput laut, tetap berusaha menunjukkan eksistensi mereka dengan melakukan pengiriman 177 ton rumput laut kering ke Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), pertengahan Desember ini.

Pengapalan ratusan ton rumput laut kering ini setidaknya memberi harapan pergerakan ekonomi di perbatasan. “Dalam pekan ini, ada 177.000 kilogram (kg) rumput laut yang dikirim ke Makassar. Ini sesuai laporan yang disampaikan Pengawas Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Nunukan,” ujar Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Nunukan, Dian Kusumanto, kemarin (18/12).

Dia merincikan, dari 177 ton rumput laut yang dikapalkan, terdapat 6 perusahaan yang menampung hasil rumput laut masyarakat. Yakni, CV Azzan Haqqi Jaya sebanyak 25 ton pengiriman, UD Anto sebanyak 10 ton, Kamaruddin sebanyak 56 ton, UD Cottoni sebanyak 50 ton serta beberapa pengusaha lainnya.

Ratusan ton rumput laut ini diangkut menggunakan transportasi Tol Laut KM Kendhaga Nusantara. Dengan bergeraknya aktivitas pengiriman rumput laut, kalangan pembudi daya sedikit bisa bernafas lega. Sebab, terdapat ribuan masyarakat di berbagai wilayah di Nunukan, menggantungkan hidup mereka dari sektor rumput laut.

Baca Juga :  Gerindra Pilih Laura, Perindo?

Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Pemberdayaan Usaha Kecil dan Pembudidaya Ikan di Dinas Kelautan Perikanan (DKP) Nunukan, Sidik Agus Setiyono mengungkapkan, saat ini terdapat sekitar 2.700 rumah tangga produksi (RTP) rumput laut di Nunukan. Berbicara produksi, tahun ini justru mengalami peningkatan apabila dibandingkan pada bulan yang sama di tahun lalu. Sebutnya, pada Juni 2019, jumlah produksi rumput laut sebesar 1.089.137 kg.

Pada bulan yang sama di tahun 2020 ini, jumlah produksi sebanyak 1.879.931 kg atau baik sekitar 42,1 persen. “Persentase produksi RTP di Nunukan naik signifikan dibanding tahun lalu. Sekarang tinggal bagaimana fluktuasi permintaan pasar,” terang Sidik.

Kawaruddin, salah seorang pengusaha rumput laut saat dikonfirmasi mengatakan, harga rumput laut kering saat ini sedikit lebih menjanjikan dibanding beberapa bulan lalu. Dia menyebutkan, pada periode Agustus dan September, harga rumput laut sempat berada di angka Rp 9 ribu per kilogram.

Baca Juga :  Basri Ikut Ambil Formulir

Harga kemudian menunjukkan perbaikan pada medio November dan Desember ini. “Harga rumput laut saat ini ada di kisaran Rp 11 ribu hingga Rp 11.500 per kilogram. Harga ini yang diperoleh petani saat kawan-kawan pengusaha membeli rumput di masyarakat,” terang Kawaruddin.

Lanjutnya, fluktuasi harga rumput laut cukup bergantung pada seberapa besar permintaan pasar. “Semakin tinggi permintaan, maka semakin baik harga di pasaran. Memang sempat permintaan di beberapa daerah mengalami penurunan. Mungkin kondisi ini dikarenakan adanya kebijakan sejumlah daerah melakukan lockdown (karantina wilayah),” imbuhnya.

Tak hanya mengandalkan ekspor dalam negeri. komoditas rumput laut juga sudah beberapa kali dikirim menuju Busan, Korea Selatan. Meski pengapalan ke luar negeri belum begitu rutin, setidaknya komoditas andalan masyarakat Nunukan, telah memasuki zona ekspor di wilayah Asia. (dra/lim)

NUNUKAN – Kondisi pandemi Covid-19 di Nunukan cukup berdampak pada kegiatan ekonomi masyarakat. Namun begitu, kalangan petani dan pengusaha komoditas rumput laut, tetap berusaha menunjukkan eksistensi mereka dengan melakukan pengiriman 177 ton rumput laut kering ke Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), pertengahan Desember ini.

Pengapalan ratusan ton rumput laut kering ini setidaknya memberi harapan pergerakan ekonomi di perbatasan. “Dalam pekan ini, ada 177.000 kilogram (kg) rumput laut yang dikirim ke Makassar. Ini sesuai laporan yang disampaikan Pengawas Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Nunukan,” ujar Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Nunukan, Dian Kusumanto, kemarin (18/12).

Dia merincikan, dari 177 ton rumput laut yang dikapalkan, terdapat 6 perusahaan yang menampung hasil rumput laut masyarakat. Yakni, CV Azzan Haqqi Jaya sebanyak 25 ton pengiriman, UD Anto sebanyak 10 ton, Kamaruddin sebanyak 56 ton, UD Cottoni sebanyak 50 ton serta beberapa pengusaha lainnya.

Ratusan ton rumput laut ini diangkut menggunakan transportasi Tol Laut KM Kendhaga Nusantara. Dengan bergeraknya aktivitas pengiriman rumput laut, kalangan pembudi daya sedikit bisa bernafas lega. Sebab, terdapat ribuan masyarakat di berbagai wilayah di Nunukan, menggantungkan hidup mereka dari sektor rumput laut.

Baca Juga :  Gerindra Pilih Laura, Perindo?

Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Pemberdayaan Usaha Kecil dan Pembudidaya Ikan di Dinas Kelautan Perikanan (DKP) Nunukan, Sidik Agus Setiyono mengungkapkan, saat ini terdapat sekitar 2.700 rumah tangga produksi (RTP) rumput laut di Nunukan. Berbicara produksi, tahun ini justru mengalami peningkatan apabila dibandingkan pada bulan yang sama di tahun lalu. Sebutnya, pada Juni 2019, jumlah produksi rumput laut sebesar 1.089.137 kg.

Pada bulan yang sama di tahun 2020 ini, jumlah produksi sebanyak 1.879.931 kg atau baik sekitar 42,1 persen. “Persentase produksi RTP di Nunukan naik signifikan dibanding tahun lalu. Sekarang tinggal bagaimana fluktuasi permintaan pasar,” terang Sidik.

Kawaruddin, salah seorang pengusaha rumput laut saat dikonfirmasi mengatakan, harga rumput laut kering saat ini sedikit lebih menjanjikan dibanding beberapa bulan lalu. Dia menyebutkan, pada periode Agustus dan September, harga rumput laut sempat berada di angka Rp 9 ribu per kilogram.

Baca Juga :  Cegah Abrasi, Ajak Warga Tanam Bibit Mangrove

Harga kemudian menunjukkan perbaikan pada medio November dan Desember ini. “Harga rumput laut saat ini ada di kisaran Rp 11 ribu hingga Rp 11.500 per kilogram. Harga ini yang diperoleh petani saat kawan-kawan pengusaha membeli rumput di masyarakat,” terang Kawaruddin.

Lanjutnya, fluktuasi harga rumput laut cukup bergantung pada seberapa besar permintaan pasar. “Semakin tinggi permintaan, maka semakin baik harga di pasaran. Memang sempat permintaan di beberapa daerah mengalami penurunan. Mungkin kondisi ini dikarenakan adanya kebijakan sejumlah daerah melakukan lockdown (karantina wilayah),” imbuhnya.

Tak hanya mengandalkan ekspor dalam negeri. komoditas rumput laut juga sudah beberapa kali dikirim menuju Busan, Korea Selatan. Meski pengapalan ke luar negeri belum begitu rutin, setidaknya komoditas andalan masyarakat Nunukan, telah memasuki zona ekspor di wilayah Asia. (dra/lim)

Most Read

Artikel Terbaru

/