alexametrics
26.7 C
Tarakan
Thursday, August 11, 2022

Generasi Muda Pelanjut Warisan Leluhur

NUNUKAN – Ilau dan Musyawarah Besar (Mubes) Dayak Agabag ke-IX menjadi momentum merawat kebudayaan yang merupakan warisan leluhur. Sehingga, ratusan pelajar mulai dari Sekolah Dasar (SD) hingga mahasiswa yang generasi penerus bangsa dilibatkan.

Ketua Panitia Ilau dan Mubes Dayak Agabag IX, Jusip Bakulit menyampaikan generasi bangsa saat ini dapat dikatakan lupa dengan kebudayaan yang diwariskan leluhur. Sehingga, melalui Ilau dan Mubes Dayak Agabag kebudayaan diperkenalkan kembali agar dapat dilestarikan.

“Melalui Ilau diadakan lomba seni budaya. Agar anak-anak kita khususnya di bangku sekolah mengetahui kebudayaan Dayak Agabag. Seperti Kukuy ini adalah lagu yang disampaikan leluhur kita sejak dulu,” ucap Jusip Bakulit.

Bahkan, untuk memberikan kesan yang menarik total ada 11 pertandingan seni budaya. Diantaranya, kukuy, menganyam rotan, meraut sedaman, pidato bahasa Dayak Agabag, lomba dayung, dan menyumpit kemudian pemilihan duta budaya.

Baca Juga :  Sebagian Besar karena Kasus Kriminal

“Dan tujuan pemilihan duta budaya agar kebudayaan Dayak Agabag bisa terekspos. Terus terang saja, di usia di bawah 20 tahun ke bawah hampir tidak mengenali entitas diri sebagai orang Dayak. Makanya, di Ilau IX ini kita berupaya bagaimana melestarikan kebudayaan dayak khususnya Dayak Agabag di 7 kecamatan di Kabupaten Nunukan,” jelasnya.

Dengan melibatkan sekitar 800 pelajar merupakan proses pembinaan kepada pelajar. Dengan tujuan generasi bangsa ini tidak dapat menjaga dan merawat budaya yang ada agar tidak tergerus dengan zaman.

“Mereka adalah regenerasi kebudayaan kita agar tidak tergerus dengan zaman. Selain itu hadir tamu undangan dari Malaysia sebanyak 85 orang. Mereka satu rumpun dengan kita. Kebudayaan kita sama, bahasa kita sama. Hanya dibedakan negara saja,” tegasnya.

Baca Juga :  Pecah Telor, Tiga Positif Covid-19 Pasca Zero Kasus

Sementara, General Manager MURI, Awan Raharjo menambahkan 3 rekor MURI sekaligus diberikan dengan berbagai ragam kegiatan. Dimana, 3 kegiatan menjadi atensi MURI. Pertama, melantunkan Kukuy Dayak Agabag dengan peserta terbanyak 1.000 orang masyarakat hukum adat Dayak Agabag. Kedua, hukum Adat Dolop terbanyak dalam waktu 50 tahun. Terakhir, sajian masakan Iluy dalam kuali terbanyak.

“Ini luar biasa sekali. Sebuah tradisi sebuah hukum tertinggi adat. Dan masih dilaksanakan dan yang terlama. Maka tidak hanya dicatat rekor Indonesia tetapi rekor dunia. Harapan tradisi dan budaya tetap dijunjung tinggi dan lestarikan. Kami pesankan kepada generasi tetap pertahanan warisan leluhur,” tutupnya. (akz/har)

NUNUKAN – Ilau dan Musyawarah Besar (Mubes) Dayak Agabag ke-IX menjadi momentum merawat kebudayaan yang merupakan warisan leluhur. Sehingga, ratusan pelajar mulai dari Sekolah Dasar (SD) hingga mahasiswa yang generasi penerus bangsa dilibatkan.

Ketua Panitia Ilau dan Mubes Dayak Agabag IX, Jusip Bakulit menyampaikan generasi bangsa saat ini dapat dikatakan lupa dengan kebudayaan yang diwariskan leluhur. Sehingga, melalui Ilau dan Mubes Dayak Agabag kebudayaan diperkenalkan kembali agar dapat dilestarikan.

“Melalui Ilau diadakan lomba seni budaya. Agar anak-anak kita khususnya di bangku sekolah mengetahui kebudayaan Dayak Agabag. Seperti Kukuy ini adalah lagu yang disampaikan leluhur kita sejak dulu,” ucap Jusip Bakulit.

Bahkan, untuk memberikan kesan yang menarik total ada 11 pertandingan seni budaya. Diantaranya, kukuy, menganyam rotan, meraut sedaman, pidato bahasa Dayak Agabag, lomba dayung, dan menyumpit kemudian pemilihan duta budaya.

Baca Juga :  Tak Hanya Tarakan, di Daerah Ini PTM Juga Dihentikan

“Dan tujuan pemilihan duta budaya agar kebudayaan Dayak Agabag bisa terekspos. Terus terang saja, di usia di bawah 20 tahun ke bawah hampir tidak mengenali entitas diri sebagai orang Dayak. Makanya, di Ilau IX ini kita berupaya bagaimana melestarikan kebudayaan dayak khususnya Dayak Agabag di 7 kecamatan di Kabupaten Nunukan,” jelasnya.

Dengan melibatkan sekitar 800 pelajar merupakan proses pembinaan kepada pelajar. Dengan tujuan generasi bangsa ini tidak dapat menjaga dan merawat budaya yang ada agar tidak tergerus dengan zaman.

“Mereka adalah regenerasi kebudayaan kita agar tidak tergerus dengan zaman. Selain itu hadir tamu undangan dari Malaysia sebanyak 85 orang. Mereka satu rumpun dengan kita. Kebudayaan kita sama, bahasa kita sama. Hanya dibedakan negara saja,” tegasnya.

Baca Juga :  Swasembada Ayam, Pemerintah Tak Mampu Hentikan Pasokan Luar

Sementara, General Manager MURI, Awan Raharjo menambahkan 3 rekor MURI sekaligus diberikan dengan berbagai ragam kegiatan. Dimana, 3 kegiatan menjadi atensi MURI. Pertama, melantunkan Kukuy Dayak Agabag dengan peserta terbanyak 1.000 orang masyarakat hukum adat Dayak Agabag. Kedua, hukum Adat Dolop terbanyak dalam waktu 50 tahun. Terakhir, sajian masakan Iluy dalam kuali terbanyak.

“Ini luar biasa sekali. Sebuah tradisi sebuah hukum tertinggi adat. Dan masih dilaksanakan dan yang terlama. Maka tidak hanya dicatat rekor Indonesia tetapi rekor dunia. Harapan tradisi dan budaya tetap dijunjung tinggi dan lestarikan. Kami pesankan kepada generasi tetap pertahanan warisan leluhur,” tutupnya. (akz/har)

Most Read

Artikel Terbaru

/