alexametrics
25.7 C
Tarakan
Monday, August 8, 2022

Terdapat 3.071 Pemilih Bukan Penduduk

NUNUKAN – Dalam pemilu 2024 mendatang, ditemukan sejumlah potensi permasalahan misalnya adanya akumulasi jumlah pemilih baru, jumlah pemilih meninggal, jumlah pemilih ganda, sampai jumlah pemilih bukan penduduk.

Yang menjadi perhatian adalah, jumlah pemilih bukan penduduk yang mencapai 3.017 orang ditemukan.

Asumsi pun muncul, ketika data pemilih bukan penduduk sebanyak 3.071 masuk DPT namun tidak bisa di-TMS-kan, arahnya akan ke mana.

Menjawab persoalan tersebut, Komisioner Divisi Perencanaan, Data dan Informasi pada KPU Nunukan, Mardi Gunawan menjelaskan, data 3.071 tersebut dikeluarkan KPU pasca terbitnya PKPU No 6 tahun 2021 yang salah satu bunyi pasalnya yakni, pemilih yang belum melakukan perekaman KTP elektronik, menjadi salah satu syarat untuk ditidak memenuhi syaratkan, atau dianggap tidak memenuhi syarat.

“Nah, karena data ini potensi di-TMS-kan, akhirya data itu kami sortir, kami pisahkan dan kami temukan ada 3.071 pemilih yang di dalamnya itu, belum melakukan perekaman. Sementara berdasarkan hasil PKPU kan, ini harus di-TMS-kan,” ungkap Mardi kepada wartawan, Jumat (8/7).

Baca Juga :  Warga Menunggu Progres Air Terjun Binusan

Mardi mengaku, data tersebut, bahkan disampaikan ke Disdukcapil, agar sebisanya daftar nama dari 3.071 tersebut diteruskan ke setiap kecamatan, kelurahan maupun desa dan RT.

Selanjutnya, untuk masyarakat yang namanya tertera di daftar 3.071 tersebut, bisa segera melakukan perekaman.

Selanjutnya, data perekaman dikembalikan ke KPU untuk diinput kembali.

“Tapi hasilnya sampai Juni kemarin, dari 3.017 orang yang terdaftar tersebut, hanya 2 orang saja yang datanya kembali. Kita juga belum tahu sisanya bagaimana, padahal kan kita sudah bersurat ke dinas terkait sampai dua kali bahkan, namun belum ada kepastian, bahkan hal tersebut sudah kami sampaikan juga kok ke dukcapil provinsi terkait status mereka saat rakor sebelumya,” tambah Mardi.

Untuk itu, bagaimanapun, mereka yang terdaftar dalam 3.071 pemilih, harus melakukan perekaman, karena di pemilu 2024 salah satu syarat menggunakan hak pilihnya harus menggunakan KTP elektronik.

Baca Juga :  Pemkab Rutin Pantau Harga, Bapok Satu Ini Mulai Naik

Namun di sisi lain, Mardi mengaku, tidak semua bisa melakukan perekaman. Sebab, diketahui alat perekam Disdukcapil sangatlah terbatas.

Misalnya di Sebatik yang punya sejumlah kecamatan, sementara alat perekamnya hanya ada dua untuk dua kecamatan induk.

Begitu juga di daerah wilayah tiga, hanya ada 3 alat perekam yang letaknya di Kecamatan Sebuku Sembakung dan Lumbis, sementara di wilayah tiga Sebuku masih ada lebih dari 5 kecamatan lain.

Sama halnya juga di wilayah tiga Krayan, bahkan hanya ada 1 alat perekam di Krayan Selatan, kecamatan lainnya tidak punya.

“Namun informasi terakhir dari Disdukcapil, mereka massif melakukan jemput bola perekaman, apalagi kalau mau vaksin kan harus punya NIK, nah maksud kami data perekaman itulah, berikan kepada kami kembali, inilah yang sementara kami tunggu-tunggu juga,” jelas Mardi (*)






Reporter: Riko Aditya

NUNUKAN – Dalam pemilu 2024 mendatang, ditemukan sejumlah potensi permasalahan misalnya adanya akumulasi jumlah pemilih baru, jumlah pemilih meninggal, jumlah pemilih ganda, sampai jumlah pemilih bukan penduduk.

Yang menjadi perhatian adalah, jumlah pemilih bukan penduduk yang mencapai 3.017 orang ditemukan.

Asumsi pun muncul, ketika data pemilih bukan penduduk sebanyak 3.071 masuk DPT namun tidak bisa di-TMS-kan, arahnya akan ke mana.

Menjawab persoalan tersebut, Komisioner Divisi Perencanaan, Data dan Informasi pada KPU Nunukan, Mardi Gunawan menjelaskan, data 3.071 tersebut dikeluarkan KPU pasca terbitnya PKPU No 6 tahun 2021 yang salah satu bunyi pasalnya yakni, pemilih yang belum melakukan perekaman KTP elektronik, menjadi salah satu syarat untuk ditidak memenuhi syaratkan, atau dianggap tidak memenuhi syarat.

“Nah, karena data ini potensi di-TMS-kan, akhirya data itu kami sortir, kami pisahkan dan kami temukan ada 3.071 pemilih yang di dalamnya itu, belum melakukan perekaman. Sementara berdasarkan hasil PKPU kan, ini harus di-TMS-kan,” ungkap Mardi kepada wartawan, Jumat (8/7).

Baca Juga :  Kabar Duka, Mantan Wakil Bupati Nunukan Tutup Usia

Mardi mengaku, data tersebut, bahkan disampaikan ke Disdukcapil, agar sebisanya daftar nama dari 3.071 tersebut diteruskan ke setiap kecamatan, kelurahan maupun desa dan RT.

Selanjutnya, untuk masyarakat yang namanya tertera di daftar 3.071 tersebut, bisa segera melakukan perekaman.

Selanjutnya, data perekaman dikembalikan ke KPU untuk diinput kembali.

“Tapi hasilnya sampai Juni kemarin, dari 3.017 orang yang terdaftar tersebut, hanya 2 orang saja yang datanya kembali. Kita juga belum tahu sisanya bagaimana, padahal kan kita sudah bersurat ke dinas terkait sampai dua kali bahkan, namun belum ada kepastian, bahkan hal tersebut sudah kami sampaikan juga kok ke dukcapil provinsi terkait status mereka saat rakor sebelumya,” tambah Mardi.

Untuk itu, bagaimanapun, mereka yang terdaftar dalam 3.071 pemilih, harus melakukan perekaman, karena di pemilu 2024 salah satu syarat menggunakan hak pilihnya harus menggunakan KTP elektronik.

Baca Juga :  Dimanfaatkan tapi Tak Pernah Dibayar

Namun di sisi lain, Mardi mengaku, tidak semua bisa melakukan perekaman. Sebab, diketahui alat perekam Disdukcapil sangatlah terbatas.

Misalnya di Sebatik yang punya sejumlah kecamatan, sementara alat perekamnya hanya ada dua untuk dua kecamatan induk.

Begitu juga di daerah wilayah tiga, hanya ada 3 alat perekam yang letaknya di Kecamatan Sebuku Sembakung dan Lumbis, sementara di wilayah tiga Sebuku masih ada lebih dari 5 kecamatan lain.

Sama halnya juga di wilayah tiga Krayan, bahkan hanya ada 1 alat perekam di Krayan Selatan, kecamatan lainnya tidak punya.

“Namun informasi terakhir dari Disdukcapil, mereka massif melakukan jemput bola perekaman, apalagi kalau mau vaksin kan harus punya NIK, nah maksud kami data perekaman itulah, berikan kepada kami kembali, inilah yang sementara kami tunggu-tunggu juga,” jelas Mardi (*)






Reporter: Riko Aditya

Most Read

Artikel Terbaru

/