alexametrics
26 C
Tarakan
Monday, August 8, 2022

Kaltara Miliki 58 Cagar Budaya

TANJUNG SELOR – Kalimantan Utara (Kaltara) dinilai memiliki warisan budaya yang cukup potensial. Baik itu warisan budaya yang tak benda maupun sebaliknya.

Pemprov Kaltara dipastikan berkomitmen akan fokus melaksanakan pengembangan sektor ini. Menurut Kepala Bidang Kebudayaan pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kaltara, Dedy Arifaini Tharmidji, Pemprov Kaltara telah melaksanakan tahapan-tahapan terkait rencana itu.

Di antaranya adalah telah diselesaikannya penyusunan dokumen Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) Provinsi Kaltara. Bahkan, Kaltara merupakan provinsi pertama yang menyelesaikan dan sekaligus menyerahkan dokumen tersebut ke pemerintah pusat.

Berdasarkan dokumen PPKD yang penyusunannya melibatkan tokoh adat (toda), budayawan dan stakeholder di lima kabupaten/kota itu, Kaltara memiliki 58 cagar budaya. “Langkah awal sudah diselesaikan. Bahwa kami (pemprov, Red) serius mengembangkan potensi ini,” jelas Dedy kepada Radar Kaltara.

Dengan tersusunnya dokumen itu, selain wujud kesungguhan agar ada percepatan pengembangan sektor kebudayaan, Kaltara juga telah berhasil menindaklanjuti amanah Undang-Undang (UU) nomor 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. “Untuk selanjutnya kita tidak dapat bergerak sendiri tentu perlu peran serta pihak terkait utamanya pemerintah pusat,” tegasnya.

Baca Juga :  Listrik Padam 5 Jam Tanpa Pemberitahuan

Untuk 58 cagar budaya itu juga telah ditetapkan sumber daya manusia (SDM) sebagai juru pelihara sebanyak 14 orang. “Delapan orang di Bulungan, lima di Tarakan dan satu di Nunukan,” beber dia.

Masih dalam dokumen PPKD, cagar budaya, Kaltara juga memiliki 5 karya budaya sebagai warisan budaya tak benda Kaltara telah ditetapkan warisan budaya tak benda Indonesia tahun 2018. Warisan itu di antaranya, tarian Jugid Demaring. Tarian ini zaman dahulu merupakan tarian resmi saat Kesultanan Bulungan menggelar kegiatan kenegaraan.

Kemudian adalah Biduk Bebandung yang juga bagian dari tradisi Kesultanan Bulungan. Biduk ini merupakan alat transportasi Kesultanan Bulungan saat menerima tamu kerajaan. Lalu baju pengantin Bulungan atau Inter Kesuma. Kemudian tradisi penurunan perahu Padaw Tuju Dulung (tujua haluan) atau tradisi Bepadaw suku Tidung. Selanjutnya, upacara adat Melah Dan Lakin Ngayau Dayak Kayan. Sementara itu, untuk cagar budaya salah satunya yakni museum Kesultanan Bulungan, Kecamatan Tanjung Palas, Kabupaten Bulungan.

Baca Juga :  PLN UP3 Kaltara Prioritaskan Pasokan Listrik di Tempat Ibadah

Disinggung pengelolaan dan rahabilitasi terhadap aset-aset budaya yang mengandung nilai historis ini, ia mengatakan Pemprov Kaltara membangun komunikasi agar di Kaltara cepat berdiri Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB).

Saat ini Kaltara masih mengacu pada BPCB Kalimantan Timur (Kaltim). “Mareka inilah yang nanti menangani terkait cagar budaya yang ada,” imbuh dia.

Selain itu, pemprov juga berupaya mengadakan lahan sekira 10 hektare (ha). Rencananya di Kecamatan Tanjung Palas. Lahan ini nantinya akan digunakan sebagai lokasi UPT Taman Budaya, Balai Bahasa, museum dan Balai Cagar Budaya. “Kita upayakan bisa cepat terealisasi,” pungkasnya. (isl/eza)

TANJUNG SELOR – Kalimantan Utara (Kaltara) dinilai memiliki warisan budaya yang cukup potensial. Baik itu warisan budaya yang tak benda maupun sebaliknya.

Pemprov Kaltara dipastikan berkomitmen akan fokus melaksanakan pengembangan sektor ini. Menurut Kepala Bidang Kebudayaan pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kaltara, Dedy Arifaini Tharmidji, Pemprov Kaltara telah melaksanakan tahapan-tahapan terkait rencana itu.

Di antaranya adalah telah diselesaikannya penyusunan dokumen Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) Provinsi Kaltara. Bahkan, Kaltara merupakan provinsi pertama yang menyelesaikan dan sekaligus menyerahkan dokumen tersebut ke pemerintah pusat.

Berdasarkan dokumen PPKD yang penyusunannya melibatkan tokoh adat (toda), budayawan dan stakeholder di lima kabupaten/kota itu, Kaltara memiliki 58 cagar budaya. “Langkah awal sudah diselesaikan. Bahwa kami (pemprov, Red) serius mengembangkan potensi ini,” jelas Dedy kepada Radar Kaltara.

Dengan tersusunnya dokumen itu, selain wujud kesungguhan agar ada percepatan pengembangan sektor kebudayaan, Kaltara juga telah berhasil menindaklanjuti amanah Undang-Undang (UU) nomor 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. “Untuk selanjutnya kita tidak dapat bergerak sendiri tentu perlu peran serta pihak terkait utamanya pemerintah pusat,” tegasnya.

Baca Juga :  Butuh Pisau Raut Super Tajam dan Kayu Khusus

Untuk 58 cagar budaya itu juga telah ditetapkan sumber daya manusia (SDM) sebagai juru pelihara sebanyak 14 orang. “Delapan orang di Bulungan, lima di Tarakan dan satu di Nunukan,” beber dia.

Masih dalam dokumen PPKD, cagar budaya, Kaltara juga memiliki 5 karya budaya sebagai warisan budaya tak benda Kaltara telah ditetapkan warisan budaya tak benda Indonesia tahun 2018. Warisan itu di antaranya, tarian Jugid Demaring. Tarian ini zaman dahulu merupakan tarian resmi saat Kesultanan Bulungan menggelar kegiatan kenegaraan.

Kemudian adalah Biduk Bebandung yang juga bagian dari tradisi Kesultanan Bulungan. Biduk ini merupakan alat transportasi Kesultanan Bulungan saat menerima tamu kerajaan. Lalu baju pengantin Bulungan atau Inter Kesuma. Kemudian tradisi penurunan perahu Padaw Tuju Dulung (tujua haluan) atau tradisi Bepadaw suku Tidung. Selanjutnya, upacara adat Melah Dan Lakin Ngayau Dayak Kayan. Sementara itu, untuk cagar budaya salah satunya yakni museum Kesultanan Bulungan, Kecamatan Tanjung Palas, Kabupaten Bulungan.

Baca Juga :  Listrik Padam 5 Jam Tanpa Pemberitahuan

Disinggung pengelolaan dan rahabilitasi terhadap aset-aset budaya yang mengandung nilai historis ini, ia mengatakan Pemprov Kaltara membangun komunikasi agar di Kaltara cepat berdiri Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB).

Saat ini Kaltara masih mengacu pada BPCB Kalimantan Timur (Kaltim). “Mareka inilah yang nanti menangani terkait cagar budaya yang ada,” imbuh dia.

Selain itu, pemprov juga berupaya mengadakan lahan sekira 10 hektare (ha). Rencananya di Kecamatan Tanjung Palas. Lahan ini nantinya akan digunakan sebagai lokasi UPT Taman Budaya, Balai Bahasa, museum dan Balai Cagar Budaya. “Kita upayakan bisa cepat terealisasi,” pungkasnya. (isl/eza)

Most Read

Antusias Produk UMKM Menurun

Nelayan Masih Pakai Pukat Hela

Artikel Terbaru

/