alexametrics
30.7 C
Tarakan
Friday, August 19, 2022

Pola Kemitraan Petani-Perusahaan Tak Terjalin

TANJUNG SELOR – Kemitraanpetani dengan perusahaan saat ini terus diperkuat oleh pemerintah.Hal ini mengacu pada Undang-Undang Nomor 11 tahun 2020 tentang Cipta Kerja. Pasalnya, adanya kemitraan ini secara langsung dapat mengubah pola pikir petani itu sendiri.

Khususnya, di tengah berkembangnya industri pertanian agroindustri. Sehingga mau tak mau pola pikir petani harus ikut berubah. Tujuannya, agar petani dalam negeri bisa berkompetisi dengan petani lainnya. Untuk itu diperlukan kemitraan antara petani selaku penyedia bahan baku dengan perusahaan selaku pengolah bahan baku dari petani.

Hanya saja, upaya baik itu tak selamanya berjalan mulus di lapangan. Khususnya, di Kabupaten Bulungan, Dinas Pertanian Bulungan masih sulit dalam mewujudkannya. Petani belum sepenuhnya memahami maksud dan tujuan tersebut.

Padahal, diketahui sejauh ini jika petani tanpa adanya kemitraan bersama perusahaan, ancaman akan hasil kurang optimal bisa saja terjadi. Berbeda pada kondisi pola kemitraan petani dengan perusahaan yang justru memberikan hasil memuaskan. Hal ini dikarenakan tanpa kemitraan yang jelas, hasil yang didapatkan petani kurang memuaskan. Demikian dikatakan Kepala Dinas Pertanian Ahmad Yani melalui Kasi Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan, Iin Rosita dalam wawancaranya kepada Radar Kaltara, Senin (28/12).

Baca Juga :  Pengembangan Kasus Narkoba, Dua Pria Tertangkap

Sejauh ini pihaknya mengaku terus mengupayakan agar pola kemitraan petani dan perusahaan dapat terwujud sebagaimana mestinya. Hanya, memang capaian itu tak semudah laiknya membalikkan telapak tangan. Diakuinya untuk daerah dengan sebutan Bumi Tenguyun ini belum tercipta atau terwujudkan. “Belum tercipta pola kemitraan petani dan perusahaan secara maksimal,” ungkapnya melalui pesan WhatsApp.

Ditanya apakah ada suatu problematika tersendiri yang cukup kuat hingga pola ini belum tercipta? Iin mengaku saat ini belum dapat menjelaskannya. Hanya, memang tentu jika tak dapat terwujudkan dalam pola kemitraan itu ada problematika di baliknya, bisa saja petani itu sendiri belum memahaminya.

“Tapi, ke depannya akan kami upayakan agar pola ini dapat terwujud. Sehingga apa yang menjadi maksud pemerintah secara terpusat itu berjalan dengan baik dan semestinya,” ujarnya.

Baca Juga :  Diduga OC, Mobil Pelat Merah Terguling

Untuk diketahui, mengenai pola kemitraan sebenarnya telah diatur dalam Undang-Undang Perkebunan. Yaitu Undang-Undang Nomor 39 tahun 2014. Disebutkan bahwa kemitraan harus saling menguntungkan, menghargai, memperkuat dan bertanggung jawab.

Pasal 57 mengenai kemitraan usaha perkebunan pun disebutkan, pertama untuk pemberdayaan usaha perkebunan, perusahaan perkebunan melakukan kemitraan usaha perkebunan yang saling memperkuat dan saling ketergangungan dengan pekenun, karyawan dan masyarakat sekitar perkebunan.

Kedua, kemitraan usaha perkebunan dapat berupa pola kerjasama antara lain. Penyedia sarana produksi, produksi pengolahan dan pemasaran, kepemilikan saham dan jasa pendukung lainnya. (omg/eza)

 

 

TANJUNG SELOR – Kemitraanpetani dengan perusahaan saat ini terus diperkuat oleh pemerintah.Hal ini mengacu pada Undang-Undang Nomor 11 tahun 2020 tentang Cipta Kerja. Pasalnya, adanya kemitraan ini secara langsung dapat mengubah pola pikir petani itu sendiri.

Khususnya, di tengah berkembangnya industri pertanian agroindustri. Sehingga mau tak mau pola pikir petani harus ikut berubah. Tujuannya, agar petani dalam negeri bisa berkompetisi dengan petani lainnya. Untuk itu diperlukan kemitraan antara petani selaku penyedia bahan baku dengan perusahaan selaku pengolah bahan baku dari petani.

Hanya saja, upaya baik itu tak selamanya berjalan mulus di lapangan. Khususnya, di Kabupaten Bulungan, Dinas Pertanian Bulungan masih sulit dalam mewujudkannya. Petani belum sepenuhnya memahami maksud dan tujuan tersebut.

Padahal, diketahui sejauh ini jika petani tanpa adanya kemitraan bersama perusahaan, ancaman akan hasil kurang optimal bisa saja terjadi. Berbeda pada kondisi pola kemitraan petani dengan perusahaan yang justru memberikan hasil memuaskan. Hal ini dikarenakan tanpa kemitraan yang jelas, hasil yang didapatkan petani kurang memuaskan. Demikian dikatakan Kepala Dinas Pertanian Ahmad Yani melalui Kasi Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan, Iin Rosita dalam wawancaranya kepada Radar Kaltara, Senin (28/12).

Baca Juga :  Diduga OC, Mobil Pelat Merah Terguling

Sejauh ini pihaknya mengaku terus mengupayakan agar pola kemitraan petani dan perusahaan dapat terwujud sebagaimana mestinya. Hanya, memang capaian itu tak semudah laiknya membalikkan telapak tangan. Diakuinya untuk daerah dengan sebutan Bumi Tenguyun ini belum tercipta atau terwujudkan. “Belum tercipta pola kemitraan petani dan perusahaan secara maksimal,” ungkapnya melalui pesan WhatsApp.

Ditanya apakah ada suatu problematika tersendiri yang cukup kuat hingga pola ini belum tercipta? Iin mengaku saat ini belum dapat menjelaskannya. Hanya, memang tentu jika tak dapat terwujudkan dalam pola kemitraan itu ada problematika di baliknya, bisa saja petani itu sendiri belum memahaminya.

“Tapi, ke depannya akan kami upayakan agar pola ini dapat terwujud. Sehingga apa yang menjadi maksud pemerintah secara terpusat itu berjalan dengan baik dan semestinya,” ujarnya.

Baca Juga :  'Pahlawan' Harus Atasi Masalah Bangsa

Untuk diketahui, mengenai pola kemitraan sebenarnya telah diatur dalam Undang-Undang Perkebunan. Yaitu Undang-Undang Nomor 39 tahun 2014. Disebutkan bahwa kemitraan harus saling menguntungkan, menghargai, memperkuat dan bertanggung jawab.

Pasal 57 mengenai kemitraan usaha perkebunan pun disebutkan, pertama untuk pemberdayaan usaha perkebunan, perusahaan perkebunan melakukan kemitraan usaha perkebunan yang saling memperkuat dan saling ketergangungan dengan pekenun, karyawan dan masyarakat sekitar perkebunan.

Kedua, kemitraan usaha perkebunan dapat berupa pola kerjasama antara lain. Penyedia sarana produksi, produksi pengolahan dan pemasaran, kepemilikan saham dan jasa pendukung lainnya. (omg/eza)

 

 

Most Read

Artikel Terbaru

/