alexametrics
29.7 C
Tarakan
Wednesday, August 17, 2022

ALAMAK BANYAKNYA..!! 1.480 Guru Belum Tersertifikasi

TANJUNG SELOR – Dari 2.224 tenaga guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), Sekolah Menegah Atas (SMA) dan Sekolah Luar Biasa (SLB) negeri dan swasta di Kalimantan Utara (Kaltara), hanya 744 guru atau 34 persen guru yang telah bersertifikasi.

Hal itu disampaikan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kaltara, H. Sigit Muryono saat menggelar konferensi pers di kantor Disdikbud Kaltara, Kamis (27/12).

Melihat data itu. Artinya, masih ada 1.480 guru yang belum tersertifikasi. Tentunya hal itu akan menjadi tantangan Disdikbud ke depan. “Rendahnya guru yang  telah bersertifikasi disebabkan beberapa hal, salah satunya angka kelulusan guru yang mengikuti pretest Pendidikan Profesi Guru (PPG) yang masih rendah,” kata Sigit.

Selain itu, adanya batasan kuota sertifikasi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud RI) juga menjadi penyebab rendahnya guru yang tersertifikasi. Sebab dengan kuota yang terbatas, maka akan semakin sedikit guru yang tersertifikasi.

Baca Juga :  Dua Daerah Rawan Distribusi Logistik

“Kalau dikalkulasikan, untuk menyelesaikan sisa guru yang belum tersertifikasi akan membutuhkan waktu 30 tahun,” bebernya.

Sigit menjelaskan, bagi guru yang telah bersertifikasi akan mendapatkan tunjuangan profesi guru sebesar satu bulan gaji per bulan. “Bagi guru Pegawai Negeri Sipil (PNS) non sertifikasi akan mendapatkan tunjuangan tamsil (tambahan penghasilan) dari Kemendikbud sebesar Rp 250 per bulan,” ujarnya.

Kemudian untuk guru non PNS juga akan mendapatkan insentif dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltara sebesar Rp 500 ribu per bulan. Begitu juga dengan guru madrasah dengan insentif Rp 500 ribu per bulan.   Di tahun 2017, guru yang telah tersertifikasi sebanyak 32 guru, dan di tahun 2018. Dari 488 guru yang mendaftar hanya 140 guru saja yang lulus PPG.

Sedangkan untuk guru yang telah berkualifikasi Sarjana (S1) dan Sarjana (S3) di Kaltara sebanyak 2.115 guru. “Sesuai peraturan perundang-undangan, apabila ada guru yang tidak memenuhi kriteria yang telah ditetapkan maka insentif tidak akan diberikan,” ujarnya.

Baca Juga :  Siapkan Rp 30 M untuk 3.400 ASN

Namun, kata Sigit, khusus untuk guru SMA di Kaltara tidak ada yang tidak berkualifikasi S1. Untuk Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) itu menjadi kewenangan Disdikbud kabupaten kota. “Kalau kita hanya menangani SMA, SMK dan SLB saja,” ujarnya.

Menyoal serapan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) selama 2018, telah mencapai 91,12 persen. Sedangkan serapan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mencapai 98,36 persen.

Sigit menambahkan, pada prinsipnya Disdikbud akan terus berusaha memberikan pelayanan pendidikan yang unggul dan professional, bermutu serta berdaya saing. Berbasis sistem manajemen sesuai peraturan yang berlaku dan berbasis percepatan mutu demi cita-cita Kaltara menjadi provinsi terdepan.

“Kami juga menetapkan dua langkah strategis. Yakni, menggunakan prinsip manajemen kinerja dan menjamin mutu kinerja,” pungkasnya. (*/jai/eza)

TANJUNG SELOR – Dari 2.224 tenaga guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), Sekolah Menegah Atas (SMA) dan Sekolah Luar Biasa (SLB) negeri dan swasta di Kalimantan Utara (Kaltara), hanya 744 guru atau 34 persen guru yang telah bersertifikasi.

Hal itu disampaikan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kaltara, H. Sigit Muryono saat menggelar konferensi pers di kantor Disdikbud Kaltara, Kamis (27/12).

Melihat data itu. Artinya, masih ada 1.480 guru yang belum tersertifikasi. Tentunya hal itu akan menjadi tantangan Disdikbud ke depan. “Rendahnya guru yang  telah bersertifikasi disebabkan beberapa hal, salah satunya angka kelulusan guru yang mengikuti pretest Pendidikan Profesi Guru (PPG) yang masih rendah,” kata Sigit.

Selain itu, adanya batasan kuota sertifikasi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud RI) juga menjadi penyebab rendahnya guru yang tersertifikasi. Sebab dengan kuota yang terbatas, maka akan semakin sedikit guru yang tersertifikasi.

Baca Juga :  Hibah Pemkab, Milik Kemenakertrans

“Kalau dikalkulasikan, untuk menyelesaikan sisa guru yang belum tersertifikasi akan membutuhkan waktu 30 tahun,” bebernya.

Sigit menjelaskan, bagi guru yang telah bersertifikasi akan mendapatkan tunjuangan profesi guru sebesar satu bulan gaji per bulan. “Bagi guru Pegawai Negeri Sipil (PNS) non sertifikasi akan mendapatkan tunjuangan tamsil (tambahan penghasilan) dari Kemendikbud sebesar Rp 250 per bulan,” ujarnya.

Kemudian untuk guru non PNS juga akan mendapatkan insentif dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltara sebesar Rp 500 ribu per bulan. Begitu juga dengan guru madrasah dengan insentif Rp 500 ribu per bulan.   Di tahun 2017, guru yang telah tersertifikasi sebanyak 32 guru, dan di tahun 2018. Dari 488 guru yang mendaftar hanya 140 guru saja yang lulus PPG.

Sedangkan untuk guru yang telah berkualifikasi Sarjana (S1) dan Sarjana (S3) di Kaltara sebanyak 2.115 guru. “Sesuai peraturan perundang-undangan, apabila ada guru yang tidak memenuhi kriteria yang telah ditetapkan maka insentif tidak akan diberikan,” ujarnya.

Baca Juga :  Lansia Dihormati, Jangan Ditelantarkan

Namun, kata Sigit, khusus untuk guru SMA di Kaltara tidak ada yang tidak berkualifikasi S1. Untuk Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) itu menjadi kewenangan Disdikbud kabupaten kota. “Kalau kita hanya menangani SMA, SMK dan SLB saja,” ujarnya.

Menyoal serapan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) selama 2018, telah mencapai 91,12 persen. Sedangkan serapan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mencapai 98,36 persen.

Sigit menambahkan, pada prinsipnya Disdikbud akan terus berusaha memberikan pelayanan pendidikan yang unggul dan professional, bermutu serta berdaya saing. Berbasis sistem manajemen sesuai peraturan yang berlaku dan berbasis percepatan mutu demi cita-cita Kaltara menjadi provinsi terdepan.

“Kami juga menetapkan dua langkah strategis. Yakni, menggunakan prinsip manajemen kinerja dan menjamin mutu kinerja,” pungkasnya. (*/jai/eza)

Most Read

Artikel Terbaru

/