alexametrics
30.7 C
Tarakan
Friday, August 19, 2022

Sudah 42 Orang Meninggal, Korban Covid-19 Bisa Dimakamkan di TPU

PASIEN konfirmasi positif virus corona atau Covid-19 di Kalimantan Utara (Kaltara) yang meninggal dunia terus bertambah. Kemarin (24/12), Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Kaltara kembali merilis adanya 3 pasien Covid-19 yang meninggal.

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Kaltara, Agust Suwandy menyebutkan, adanya tambahan pasien meninggal dunia itu berasal dari Tarakan dengan inisial D (46), R (51), dan R (62). Ketiganya berjenis kelamin perempuan. “Tambahan tiga pasien konfirmasi positif yang meninggal dunia ini membuat total yang meninggal dengan status positif Covid-19 di Kaltara menjadi 42 orang,” ujarnya kepada Radar Tarakan saat dikonfirmasi kemarin (24/12).

Adapun sejumlah yang meninggal dunia di provinsi termuda Indonesia ini sejak Covid-19 muncul Maret 2020 lalu tersebar di tiga kabupaten/kota, yakni di Tarakan 25 orang, di Nunukan 3 orang, dan di Bulungan 14 orang.

Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Tarakan, dr. Devi Ika Indriarti, M.Kes, menyampaikan 3 orang yang meninggal. Di antaranya seorang pasien terkonfirmasi, dan 2 orang kasus probable yang kemudian hasilnya terkonfirmasi positif Covid-19.

Adapun pasien positif yang meninggal tersebut kasus ke-1.503 D, seorang perempuan berusai 48 tahun, warga RT 04, Kelurahan Karang Rejo.

Kemudian 2 kasus probable yang terkonfirmasi tersebut, kasus ke-1.744 R, seorang perempuan berusia 51 tahun, yang dirawat di Rumah Sakit Umum Kota Tarakan (RSUKT). Dan kasus ke-1.745 R, seorang perempuan berusia 62 tahun, warga RT 26, Kelurahan Karang Anyar, yang dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tarakan.

Dia mengatakan meskipun saat meninggal dunia masih berstatus probable, keduanya dimakamkan sesuai dengan standar penanganan pasien Covid-19.

“Saat meninggal statusnya masih probable, tapi tetap ditangani dengan protokol kesehatan sampai terbukti positif atau tidak. Hasilnya hari ini keluar, keduanya terkonfirmasi positif. Sehingga pasien positif yang meninggal sebanyak 25 orang, dan probable meninggal satu orang,” jelasnya.

Baca Juga :  Diprediksi ‘Diramaikan’ Calon Independen

 

GURU MENINGGAL DI NUNUKAN

Satuan Tugas Covid-19 Nunukan, Rabu (23/12) petang merilis seorang guru sekolah menengah pertama (SMP) dengan status probable Covid-19 berdasarkan diagnosa awal Puskesmas Sanur, Kecamatan Tulin Onsoi, dilaporkan meninggal.

Juru Bicara Satgas Covid-19 Nunukan, Aris Suyono mengatakan, pasien suspek di Puskesmas Sanur ini, menunjukkan gejala memburuk saat dirawat di RSUD Nunukan. Status pasien kemudian ditingkatkan ke status pasien probable Covid-19. “Awal dirujuk, status pasien masih suspek. Tapi karena kondisi kesehatannya terus menurun, status pasien ditingkatkan menjadi probable,” ungkap Aris.

Pasien probable ini diketahui merupakan seorang perempuan berusia 38 tahun. Pasien bekerja sebagai tenaga pengajar di salah satu SMP yang terletak di Kecamatan Tulin Onsoi.

Pasien kemudian dimakamkan dengan standar Covid-19 di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Terpadu Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nunukan, petang kemarin. Petugas pemakaman terdiri dari personel Palang Merah Indonesia (PMI) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

Status probable merujuk pada istilah yang diberikan kepada orang yang diyakini sebagai suspek dengan ISPA berat atau gagal nafas akibat aveoli paru-paru penuh cairan (ARDS) atau meninggal dengan gambaran klinis, yang meyakinkan Covid-19 dan belum ada hasil pemeriksaan laboratorium RT-PCR.

Istilah ini turut merujuk pada Keputusan Menteri Kesehatan (KMK) nomor HK.01.07/MENKES/413/2020 tentang Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Covid-19.

 

REVISI KEMENKES

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memperbolehkan pemakaman jenazah Covid-19 di tempat pemakaman umum. Dengan catatan tetap dijalankan menurut protokol kesehatan, mengantongi izin dari masyarakat yang bermukim di sekitar makam, serta izin dari para pengurus makam.

“Kebijakan dari Kementerian Kesehatan itu sekarang dimungkinkan untuk dilakukan pemakaman umum, tetapi harus tetap dengan protokol kesehatan,” jelas Wali Kota Tarakan dr. Khairul, M.Kes, kemarin (24/12).

Baca Juga :  Revisi Ditarget Rampung Akhir Tahun

Penanganan jenazah harus tetap dilakukan di rumah sakit, setelah itu yang mengebumikan pun dari tim gugus tugas yang ditunjuk. Namun, untuk kerabat atau keluarga korban, bisa melihat dan mengantar ke pemakaman tetapi harus tetap menjaga jarak, minimal dua meter dari pemakaman. Jadi untuk pemakaman jenazah di TPU sudah diperbolehkan.

“Tetapi warga yang bermukim di daerah pemakaman harus juga setuju, jadi kalau tidak setuju maka hal itu tidak dibolehkan. Tetapi kalau para pengurus pemakaman setuju, maka hal itu tidak ada masalah,” ungkapnya.

Dalam revisi penanganan Covid-19 oleh Kemenkes disebutkan ketentuan dalam pemakaman jenazah harus dilakukan sesegara mungkin dengan melibatkan pihak rumah sakit dan dinas pemakaman, pelayat yang menghadiri pemakaman harus tetap menjaga jarak aman minimal 2 meter dari loaksi pemakaman. Penguburan dapat dilakukan di pemakaman umum, penguburan dapat dilakukan dalam satu liang kubur dalam kondisi darurat, dan hal ini sudah disampaikan ke para ulama, jika dalam satu liang bisa saja lebih dari satu orang.

Setiap individu atau pelayat yang menunjukkan gejala Covid-19 tidak boleh hadir, bahkan jenazah yang menggunakan peti, sudah dipastikan peti tersebut tertutup dengan erat, penguburan jenazah dilakukan bersama dengan peti ke dalam liang kubur tanpa harus membuka peti dan kain kafan. Dan para petugas harus tetap menggunakan alat pelindung diri (APD) standar, seperti masker, sarung tangan tebal.

“Untuk yang muslim, salat jenazah tetap dilakukan oleh petugas yang ditunjuk di rumah sakit, jadi semuanya langsung dilakukan oleh pihak RS, bahkan jenazah paling lama 4 jam harus segera dilakukan pemakaman, bahkan jika lebih cepat dari itu maka akan semakin baik, karena yang dikhawatirkan jika terjadi pembusukan dan sebagainya, akan menyebabkan kuman semakin berkembang, dan berpotensi penularan,” ungkapnya. (iwk/oya/*/one/agg/lim)

PASIEN konfirmasi positif virus corona atau Covid-19 di Kalimantan Utara (Kaltara) yang meninggal dunia terus bertambah. Kemarin (24/12), Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Kaltara kembali merilis adanya 3 pasien Covid-19 yang meninggal.

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Kaltara, Agust Suwandy menyebutkan, adanya tambahan pasien meninggal dunia itu berasal dari Tarakan dengan inisial D (46), R (51), dan R (62). Ketiganya berjenis kelamin perempuan. “Tambahan tiga pasien konfirmasi positif yang meninggal dunia ini membuat total yang meninggal dengan status positif Covid-19 di Kaltara menjadi 42 orang,” ujarnya kepada Radar Tarakan saat dikonfirmasi kemarin (24/12).

Adapun sejumlah yang meninggal dunia di provinsi termuda Indonesia ini sejak Covid-19 muncul Maret 2020 lalu tersebar di tiga kabupaten/kota, yakni di Tarakan 25 orang, di Nunukan 3 orang, dan di Bulungan 14 orang.

Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Tarakan, dr. Devi Ika Indriarti, M.Kes, menyampaikan 3 orang yang meninggal. Di antaranya seorang pasien terkonfirmasi, dan 2 orang kasus probable yang kemudian hasilnya terkonfirmasi positif Covid-19.

Adapun pasien positif yang meninggal tersebut kasus ke-1.503 D, seorang perempuan berusai 48 tahun, warga RT 04, Kelurahan Karang Rejo.

Kemudian 2 kasus probable yang terkonfirmasi tersebut, kasus ke-1.744 R, seorang perempuan berusia 51 tahun, yang dirawat di Rumah Sakit Umum Kota Tarakan (RSUKT). Dan kasus ke-1.745 R, seorang perempuan berusia 62 tahun, warga RT 26, Kelurahan Karang Anyar, yang dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tarakan.

Dia mengatakan meskipun saat meninggal dunia masih berstatus probable, keduanya dimakamkan sesuai dengan standar penanganan pasien Covid-19.

“Saat meninggal statusnya masih probable, tapi tetap ditangani dengan protokol kesehatan sampai terbukti positif atau tidak. Hasilnya hari ini keluar, keduanya terkonfirmasi positif. Sehingga pasien positif yang meninggal sebanyak 25 orang, dan probable meninggal satu orang,” jelasnya.

Baca Juga :  ALAMAK..!! 10 Ribuan Warga Kaltara Belum Punya Sertifikat Vaksin

 

GURU MENINGGAL DI NUNUKAN

Satuan Tugas Covid-19 Nunukan, Rabu (23/12) petang merilis seorang guru sekolah menengah pertama (SMP) dengan status probable Covid-19 berdasarkan diagnosa awal Puskesmas Sanur, Kecamatan Tulin Onsoi, dilaporkan meninggal.

Juru Bicara Satgas Covid-19 Nunukan, Aris Suyono mengatakan, pasien suspek di Puskesmas Sanur ini, menunjukkan gejala memburuk saat dirawat di RSUD Nunukan. Status pasien kemudian ditingkatkan ke status pasien probable Covid-19. “Awal dirujuk, status pasien masih suspek. Tapi karena kondisi kesehatannya terus menurun, status pasien ditingkatkan menjadi probable,” ungkap Aris.

Pasien probable ini diketahui merupakan seorang perempuan berusia 38 tahun. Pasien bekerja sebagai tenaga pengajar di salah satu SMP yang terletak di Kecamatan Tulin Onsoi.

Pasien kemudian dimakamkan dengan standar Covid-19 di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Terpadu Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nunukan, petang kemarin. Petugas pemakaman terdiri dari personel Palang Merah Indonesia (PMI) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

Status probable merujuk pada istilah yang diberikan kepada orang yang diyakini sebagai suspek dengan ISPA berat atau gagal nafas akibat aveoli paru-paru penuh cairan (ARDS) atau meninggal dengan gambaran klinis, yang meyakinkan Covid-19 dan belum ada hasil pemeriksaan laboratorium RT-PCR.

Istilah ini turut merujuk pada Keputusan Menteri Kesehatan (KMK) nomor HK.01.07/MENKES/413/2020 tentang Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Covid-19.

 

REVISI KEMENKES

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memperbolehkan pemakaman jenazah Covid-19 di tempat pemakaman umum. Dengan catatan tetap dijalankan menurut protokol kesehatan, mengantongi izin dari masyarakat yang bermukim di sekitar makam, serta izin dari para pengurus makam.

“Kebijakan dari Kementerian Kesehatan itu sekarang dimungkinkan untuk dilakukan pemakaman umum, tetapi harus tetap dengan protokol kesehatan,” jelas Wali Kota Tarakan dr. Khairul, M.Kes, kemarin (24/12).

Baca Juga :  Kapolda: Petani Tambak Harus Gunakan HT

Penanganan jenazah harus tetap dilakukan di rumah sakit, setelah itu yang mengebumikan pun dari tim gugus tugas yang ditunjuk. Namun, untuk kerabat atau keluarga korban, bisa melihat dan mengantar ke pemakaman tetapi harus tetap menjaga jarak, minimal dua meter dari pemakaman. Jadi untuk pemakaman jenazah di TPU sudah diperbolehkan.

“Tetapi warga yang bermukim di daerah pemakaman harus juga setuju, jadi kalau tidak setuju maka hal itu tidak dibolehkan. Tetapi kalau para pengurus pemakaman setuju, maka hal itu tidak ada masalah,” ungkapnya.

Dalam revisi penanganan Covid-19 oleh Kemenkes disebutkan ketentuan dalam pemakaman jenazah harus dilakukan sesegara mungkin dengan melibatkan pihak rumah sakit dan dinas pemakaman, pelayat yang menghadiri pemakaman harus tetap menjaga jarak aman minimal 2 meter dari loaksi pemakaman. Penguburan dapat dilakukan di pemakaman umum, penguburan dapat dilakukan dalam satu liang kubur dalam kondisi darurat, dan hal ini sudah disampaikan ke para ulama, jika dalam satu liang bisa saja lebih dari satu orang.

Setiap individu atau pelayat yang menunjukkan gejala Covid-19 tidak boleh hadir, bahkan jenazah yang menggunakan peti, sudah dipastikan peti tersebut tertutup dengan erat, penguburan jenazah dilakukan bersama dengan peti ke dalam liang kubur tanpa harus membuka peti dan kain kafan. Dan para petugas harus tetap menggunakan alat pelindung diri (APD) standar, seperti masker, sarung tangan tebal.

“Untuk yang muslim, salat jenazah tetap dilakukan oleh petugas yang ditunjuk di rumah sakit, jadi semuanya langsung dilakukan oleh pihak RS, bahkan jenazah paling lama 4 jam harus segera dilakukan pemakaman, bahkan jika lebih cepat dari itu maka akan semakin baik, karena yang dikhawatirkan jika terjadi pembusukan dan sebagainya, akan menyebabkan kuman semakin berkembang, dan berpotensi penularan,” ungkapnya. (iwk/oya/*/one/agg/lim)

Most Read

Artikel Terbaru

/