alexametrics
30.7 C
Tarakan
Friday, August 19, 2022

TEGAS..!! Tiga OBP Harus Masuk Indonesia

TANJUNG SELOR – Wilayah perbatasan Kalimantan Utara (Kaltara) belum lepas dari sengketa dengan negara Malaysia. Sebab, masih ada tiga titik Outstanding Boundary Problem (OBP) yang hingga kini belum terselesaikan, meski dua titik sebelumnya telah rampung. 

Tiga titik OBP itu terdiri dari Pulau Sebatik, Sungai Sinapad, dan titik B 2700 – B 3100. Kepala Biro Pengelola Perbatasan Sekretariat Provinsi (Setprov) Kaltara, Samuel ST Padan mengatakan, saat ini tim perundingan masih terus mempelajari persoalan pada titik OBP di provinsi ke-34 ini.

“Awalnya ada lima titik OBP itu. Tapi dua di antaranya sudah selesai. Saat ini tim teknis dari pusat masih terus bekerja dan prosesnya masih dalam perundingan,” ujar Samuel kepada Radar Kaltara saat dikonfirmasi, Minggu (23/12).

Untuk persoalan wilayah ini, Samuel mengatakan masyarakat yang tinggal di daerah perbatasan yang berstatus OBP itu tetap berharap persoalan itu dapat terselesaikan dengan baik dan wilayah tetap kembali ke Indonesia.

Baca Juga :  Inovasi Dispar Menjadikan Event di Kaltara Masuk 100 Calendar of Event

“Bayangan masyarakat, itu milik Indonesia. Kalau sampai itu dinyatakan milik Malaysia, maka lahan mereka di situ bisa terpotong dan pastinya menimbulkan kekecewaan masyarakat. Jangan sampai tim perundingan dinilai tidak serius,” katanya.

Dalam persoalan tersebut, Indonesia tetap berpatokan pada patok batas yang sesuai dengan perjanjian antara Belanda dengan Inggris. Sementara Malaysia mengklaim bahwa ada yang tidak sesuai antara kondisi di lapangan dan peta imajinasi.

Sebenarnya, untuk dua titik yang di Sungai Sinapad dan titik B 2700 – B 3100 itu, Indonesia sudah tidak ada masalah. Karena dinilai sudah sesuai dengan perjanjian Belanda dengan Inggris, yakni berada pada koordinat 4 derajat 20 detik LU.

Hanya saja, pada posisi di lapangan, Malaysia yang belum puas karena menilai posisi itu tidak sesuai penempatannya. Sehingga diminta untuk dilakukan pengukuran ulang. Namun, Indonesia masih terus melakukan pembelajaran atas lokasi tersebut.

“Kalau yang di Sebatik, itu klaim Indonesia. Jadi posisi 4 derajat 10 menit LU itu dinilai tidak sesuai. Ternyata, patok yang dipasang di Sebatik itu, banyak masuk wilayah Indonesia,” jelasnya.

Baca Juga :  Polantas Siapkan Tilang untuk Malam Lebaran

Adapun, persoalan tersebut sudah diserahkan sepenuhnya ke tim perundingan untuk menyelesaikannya. Sejauh ini tim tersebut juga sudah turun ke lapangan untuk melihat kondisi itu secara langsung guna mematangkan semua persiapan perundingan. “Pastinya kita akan terus berikan dukungan untuk mempertahankan wilayah Indonesia ini,” tegasnya.

Sedangkan untuk target penyelesaian, Samuel menyebutkan belum bisa memastikan kapan selesai. Karena proses perundingan itu tidak dapat ditarget, melainkan terus berproses hingga ketemu titik kesepakatan. Namun, pada Soseknas yang direncanakan dalam waktu dekat ini, persoalan OBP tersebut akan kembali dibahas. 

Sementara, untuk dua titik yang sudah selesai dan dinyatakan masuk wilayah Indonesia itu, yakni Sungai Simantipal dan titik C 500 – C 700. “Harapan kita, tiga titik yang masih berproses ini juga dapat masuk ke kita (Indonesia, Red),” pungkasnya. (iwk/eza)

Tiga OBP Harus Masuk Indonesia

TANJUNG SELOR – Wilayah perbatasan Kalimantan Utara (Kaltara) belum lepas dari sengketa dengan negara Malaysia. Sebab, masih ada tiga titik Outstanding Boundary Problem (OBP) yang hingga kini belum terselesaikan, meski dua titik sebelumnya telah rampung. 

Tiga titik OBP itu terdiri dari Pulau Sebatik, Sungai Sinapad, dan titik B 2700 – B 3100. Kepala Biro Pengelola Perbatasan Sekretariat Provinsi (Setprov) Kaltara, Samuel ST Padan mengatakan, saat ini tim perundingan masih terus mempelajari persoalan pada titik OBP di provinsi ke-34 ini.

“Awalnya ada lima titik OBP itu. Tapi dua di antaranya sudah selesai. Saat ini tim teknis dari pusat masih terus bekerja dan prosesnya masih dalam perundingan,” ujar Samuel kepada Radar Kaltara saat dikonfirmasi, Minggu (23/12).

Untuk persoalan wilayah ini, Samuel mengatakan masyarakat yang tinggal di daerah perbatasan yang berstatus OBP itu tetap berharap persoalan itu dapat terselesaikan dengan baik dan wilayah tetap kembali ke Indonesia.

Baca Juga :  Miliki Mapolda, SPN hingga RS Bhayangkara

“Bayangan masyarakat, itu milik Indonesia. Kalau sampai itu dinyatakan milik Malaysia, maka lahan mereka di situ bisa terpotong dan pastinya menimbulkan kekecewaan masyarakat. Jangan sampai tim perundingan dinilai tidak serius,” katanya.

Dalam persoalan tersebut, Indonesia tetap berpatokan pada patok batas yang sesuai dengan perjanjian antara Belanda dengan Inggris. Sementara Malaysia mengklaim bahwa ada yang tidak sesuai antara kondisi di lapangan dan peta imajinasi.

Sebenarnya, untuk dua titik yang di Sungai Sinapad dan titik B 2700 – B 3100 itu, Indonesia sudah tidak ada masalah. Karena dinilai sudah sesuai dengan perjanjian Belanda dengan Inggris, yakni berada pada koordinat 4 derajat 20 detik LU.

Hanya saja, pada posisi di lapangan, Malaysia yang belum puas karena menilai posisi itu tidak sesuai penempatannya. Sehingga diminta untuk dilakukan pengukuran ulang. Namun, Indonesia masih terus melakukan pembelajaran atas lokasi tersebut.

“Kalau yang di Sebatik, itu klaim Indonesia. Jadi posisi 4 derajat 10 menit LU itu dinilai tidak sesuai. Ternyata, patok yang dipasang di Sebatik itu, banyak masuk wilayah Indonesia,” jelasnya.

Baca Juga :  Usai Melantik, JK Minta Rapat Dijeda Jika Azan

Adapun, persoalan tersebut sudah diserahkan sepenuhnya ke tim perundingan untuk menyelesaikannya. Sejauh ini tim tersebut juga sudah turun ke lapangan untuk melihat kondisi itu secara langsung guna mematangkan semua persiapan perundingan. “Pastinya kita akan terus berikan dukungan untuk mempertahankan wilayah Indonesia ini,” tegasnya.

Sedangkan untuk target penyelesaian, Samuel menyebutkan belum bisa memastikan kapan selesai. Karena proses perundingan itu tidak dapat ditarget, melainkan terus berproses hingga ketemu titik kesepakatan. Namun, pada Soseknas yang direncanakan dalam waktu dekat ini, persoalan OBP tersebut akan kembali dibahas. 

Sementara, untuk dua titik yang sudah selesai dan dinyatakan masuk wilayah Indonesia itu, yakni Sungai Simantipal dan titik C 500 – C 700. “Harapan kita, tiga titik yang masih berproses ini juga dapat masuk ke kita (Indonesia, Red),” pungkasnya. (iwk/eza)

Tiga OBP Harus Masuk Indonesia

Most Read

Artikel Terbaru

/