alexametrics
26.7 C
Tarakan
Friday, August 12, 2022

Perpustakaan ‘Rasa’ Museum

TANJUNG SELOR – Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten Bulungan, Datu Buyung Perkasa tak menampik adanya anggapan yang muncul terhadap instansi yang dinakhodainya ini laiknya suatu museum.

Pasalnya, dilihat dari jumlah pengunjung yang ada, khususnya yang ada di Perpustakaan dan Arsip Daerah Bulungan setiap harinya terbilang masih minim. Berdasarkan data buku pengunjung, hanya berkisar antara 20 – 30 pengunjung dari berbagai tingkatan, baik pelajar dan masyarakat umum.

Datu Buyung sapaan akrabnya, beranggapan juga, sejatinya ada faktor-faktor yang membuat minat baca masyarakat di Bumi Tenguyun ini minim. Menurutnya, itu seiring perkembangan teknologi. Masyarakat sekarang banyak menggunakan handphone untuk sekadar mencari informasi dibandingkan melalui media buku bacaan.

Handphone ini sudah sangat melekat dalam kehidupan generasi saat ini. Itulah mengapa soal membaca mereka terbilang minim. Ya, karena mereka lebih terbiasa menggunakan media handphone,” ungkap Datu Buyung kepada Radar Kaltara saat diwawancarai di ruang kerjanya.

Tak hanya itu, orang nomor satu di Perpustakaan dan Arsip Daerah ini juga menerangkan, faktor lain minimnya minat baca dikarenakan Bangsa Indonesia dahulu pernah dijajah hingga berabad-abad. Oleh karenanya, itu berpengaruh pada paradigma tentang rasa malas membaca itu muncul. Dan ini bukan hanya masyarakat di Bulungan sendiri, melainkan seluruh masyarakat di negeri yang dicintai ini.

“Kita tak bisa memungkiri tentang sejarah Bangsa Indonesia ini dijajah hingga 3,5 abad. Dan ini bisa menjadi faktor-faktor lainnya tentang munculnya paradigma rasa malas membaca tersebut,” ujarnya.

Bahkan, lebih lanjut dikatakan, jika berdasarkan hasil penelitian dari UNESCO. Bangsa Indonesia ini terkait minat bacanya bahwa 1.000 : 1. Artinya, jumlah itu memang terlihat sangat-sangat minim akan keinginan membaca buku bacaan. Tentunya, itu menjadi pekerjaan rumah (PR) baginya selaku stakeholder yang menangani tentang persoalan-persoalan tersebut.

“Tapi, kita di Kabupaten Bulungan sebenarnya sudah bisa menepiskan tetang hasil penelitian 1.000 : 1. Ini diketahui setelah adanya suatu kegiatan membaca dengan melibatkan ribuan pelajar, ternyata minat bacanya sekitar 3,4 persen,” bebernya.

“Artinya, ini kembali kepada kita semua. Apakah mau berbuat dan melakukan perubahan ataupun tidak. Di samping tetap berharap adanya dukungan dari orang tuanya juga. Intinya, soal 1.000 : 1 sejauh ini sudah mampu terpecahkan,” sambungnya.

Namun, mengacu akan adanya faktor-faktor tersebut, Datu Buyung memastikan bahwa pihaknya tidak menyerah begitu saja. Pihaknya terus melakukan inovasi-inovasi, baik di dalam ruang Perpustakaan dan Arsip Daerah ataupun di luar ruangan. Misal, dengan sistem jemput bola kepada para pelajar-pelajar di sekolah untuk diajak bersama membaca ke Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah.

Baca Juga :  Infrastruktur Pertanian Jadi Catatan Legislatif

“Kita memang berinovasi dengan menjemput pelajar ke sekolah secara langsung. Dan ketika di dalam ruangan perpustakaan mereka akan diberikan motivasi-motivasi agar kelak tertanam di pikirannya pentingnya arti membaca. Buku adalah jendela dunia,” tuturnya.

Atau, lebih jauh dikatakan, langkah yang paling sering dilakukan yaitu dengan menerapkan perpustakaan keliling. Di mana dengan cara menggunakan fasilitas mobil operasional untuk menuju suatu titik dan belajar bersama di luar ruangan. Itu bertujuan agar lebih mendekatkan masyarakat terhadap perpustakaan dalam hal ini buku bacaannya. “Ini bisa kami lakukan setiap pekan. Jadi, masyarakat bisa membaca di Ruang Terbuka Hijau (RTH),” ucapnya.

Di sisi lain, Datu Buyung tentu sangat menyayangkan jika dengan adanya gedung nan megah dan fasilitas yang terbilang menunjang ini, justru masyarakat sendiri yang tak banyak menikmatinya. Untuk itu, pihaknya memastikan akan terus melakukan upaya-upaya atau dorongan dalam memberikan kesadaran terhadap masyarakat tentang pentingnya membaca.

“Kita tidak diam. Inovasi di tahun mendatang akan terus dilakukan hingga perpusatakaan ini ada sebagaimana mestinya,” tegasnya.

Untuk diketahui, Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten Bulungan ini sejauh ini memiliki koleksi buku 17.000 judul dari 45.000 eksemplar. Dan paling dominan masyarakat gemari saat membaca yaitu buku-buku tentang pengetahuan umum.

Sementara itu, salah seorang siswa SMK Negeri 2 Tanjung Selor, Desi Fitriani (17) mengaku lebih senang membaca menggunakan gadget ketimbang membaca ke perpustakaan. “Sekarang ini kan sudah canggih, semua sudah ada di gadget, jadi tidak perlu lagi harus ke perpustakaan,” ujarnya.

Aplikasi buku juga sudah banyak di gadget, sehingga sangat mudah dalam mencari sumber bacaan, kalau di perpustakaan bukunya juga terbatas, tidak semua ada di perpustakaan. Hal bebeda dikatakan, Anisa (12), ia mengaku lebih senang membaca buku di perpustakaan, karena selain dapat membaca buku, di perpustakaan juga bisa bertemu dengan teman-taman lainya. “Bertemu teman kan kita bisa sambil sharing (berbagi) dengan teman yang lainya,” ujarnya.

Tentunya hal itu sangat lebih mengasikan dari pada belajar menggunakan gadget, sebenarnya bisa saja menggunakan gadget, ketika apa yang dicari di perpustakaan tidak ada.“Kalau di perpustakaan masih ada kenapa harus menggunakan gadget,” tuturnya.

Baca Juga :  Jabatan di Pemprov Kaltara Ini Akan Dilelang

Sementara itu, psikolog Arief Boedi, S. Psi, M.Psy Clin, MD menilai, lingkungan terkecil adalah keluarga yang menjadi penyebab atau faktor minat baca seorang individu atau masyarakat sangat minim atau rentan turun.

Ia mengatakan sebenarnya masyarakat itu rajin membaca, hanya saja membaca berdasarkan apa yang mereka sukai. “Baca status, baca berita hoaks,” ungkapnya saat dikonfirmasi, Sabtu (22/12).

Artinya lanjut dikatakan pria lulusan Seoul University ini, secara psikologis seseorang membaca atau melakukan sesuatu berdasarkan apa yang mereka ingin tahu atau kepoin dan kedua apa yang mereka sukai. “Itu yang saya nilai sejauh ini,” ungkapnya.

Lanjutnya, sebenarnya membaca itu adalah sebuah budaya, artinya apabila ada pembiasaan yang disepakati oleh masyarakat atau lingkungan terkecil keluarga. “Di dalam psikologi massa, ketika seorang individu berbuat sesuatu tapi tidak mendapatkan dukungan maka ia berhenti karena melihat di lingkungannya tidak memberikan dukungan,” sebutnya.

Dalam hal inilah ia jelasnya, peran keluarga sangat perlu dalam menumbuh kembangkan minat baca seseorang individu hingga masyarakat. Berikan dukungan terhadap anggota keluarga itu sendiri untuk memulai membaca.

“Semua anggota keluarga yang ada di dalam satu rumah harus mendukung, dalam artian tumbuhkan pada diri sendiri minat baca itu, agar anggota yang lain dapat tertular,” jelasnya. “Apabila hal itu dilakukan maka minat baca di masyarakat akan tumbuh. Dalam hal ini penyebab minimnya minat baca itu karena faktor lingkungan keluarga,” sambungnya.

Dikatakan Arif, mungkin sekarang di setiap sekolah ada yang dinamakan pojok literasi, ada “bunda baca” di tiap daerah. Namun yang namanya anak, perlu cerminan perilaku dan pembiasaan dari lingkungannya. “Yaitu keluarga tadi, maka dalam menumbuhkembangkan minat baca, juga perlu diajarkan sejak dini kepada anak, dengan catatan orang tuanya juga harus rajin membaca,” ungkapnya.

Ada beberapa faktor agar budaya membaca itu menguat, seperti halnya lakukan internalisasi aktivitas membaca dalam keluarga. Selain itu sediakan ruangan dan suasana dan dukungan yang menyenangkan saat beraktivitas membaca itu. “Selain itu, lakukan self awareness atau perbaiki semangat untuk jadi lebih baik lagi dari lingkungan serta edukasi yang terus menerus untuk masyarakat dalam pembiasaan yang ada,” jelasnya. (omg/sny/eza)

Perpustakaan ‘Rasa’ Museum

TANJUNG SELOR – Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten Bulungan, Datu Buyung Perkasa tak menampik adanya anggapan yang muncul terhadap instansi yang dinakhodainya ini laiknya suatu museum.

Pasalnya, dilihat dari jumlah pengunjung yang ada, khususnya yang ada di Perpustakaan dan Arsip Daerah Bulungan setiap harinya terbilang masih minim. Berdasarkan data buku pengunjung, hanya berkisar antara 20 – 30 pengunjung dari berbagai tingkatan, baik pelajar dan masyarakat umum.

Datu Buyung sapaan akrabnya, beranggapan juga, sejatinya ada faktor-faktor yang membuat minat baca masyarakat di Bumi Tenguyun ini minim. Menurutnya, itu seiring perkembangan teknologi. Masyarakat sekarang banyak menggunakan handphone untuk sekadar mencari informasi dibandingkan melalui media buku bacaan.

Handphone ini sudah sangat melekat dalam kehidupan generasi saat ini. Itulah mengapa soal membaca mereka terbilang minim. Ya, karena mereka lebih terbiasa menggunakan media handphone,” ungkap Datu Buyung kepada Radar Kaltara saat diwawancarai di ruang kerjanya.

Tak hanya itu, orang nomor satu di Perpustakaan dan Arsip Daerah ini juga menerangkan, faktor lain minimnya minat baca dikarenakan Bangsa Indonesia dahulu pernah dijajah hingga berabad-abad. Oleh karenanya, itu berpengaruh pada paradigma tentang rasa malas membaca itu muncul. Dan ini bukan hanya masyarakat di Bulungan sendiri, melainkan seluruh masyarakat di negeri yang dicintai ini.

“Kita tak bisa memungkiri tentang sejarah Bangsa Indonesia ini dijajah hingga 3,5 abad. Dan ini bisa menjadi faktor-faktor lainnya tentang munculnya paradigma rasa malas membaca tersebut,” ujarnya.

Bahkan, lebih lanjut dikatakan, jika berdasarkan hasil penelitian dari UNESCO. Bangsa Indonesia ini terkait minat bacanya bahwa 1.000 : 1. Artinya, jumlah itu memang terlihat sangat-sangat minim akan keinginan membaca buku bacaan. Tentunya, itu menjadi pekerjaan rumah (PR) baginya selaku stakeholder yang menangani tentang persoalan-persoalan tersebut.

“Tapi, kita di Kabupaten Bulungan sebenarnya sudah bisa menepiskan tetang hasil penelitian 1.000 : 1. Ini diketahui setelah adanya suatu kegiatan membaca dengan melibatkan ribuan pelajar, ternyata minat bacanya sekitar 3,4 persen,” bebernya.

“Artinya, ini kembali kepada kita semua. Apakah mau berbuat dan melakukan perubahan ataupun tidak. Di samping tetap berharap adanya dukungan dari orang tuanya juga. Intinya, soal 1.000 : 1 sejauh ini sudah mampu terpecahkan,” sambungnya.

Namun, mengacu akan adanya faktor-faktor tersebut, Datu Buyung memastikan bahwa pihaknya tidak menyerah begitu saja. Pihaknya terus melakukan inovasi-inovasi, baik di dalam ruang Perpustakaan dan Arsip Daerah ataupun di luar ruangan. Misal, dengan sistem jemput bola kepada para pelajar-pelajar di sekolah untuk diajak bersama membaca ke Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah.

Baca Juga :  Pembebasan Lahan PLTA di Provinsi Ini Alot

“Kita memang berinovasi dengan menjemput pelajar ke sekolah secara langsung. Dan ketika di dalam ruangan perpustakaan mereka akan diberikan motivasi-motivasi agar kelak tertanam di pikirannya pentingnya arti membaca. Buku adalah jendela dunia,” tuturnya.

Atau, lebih jauh dikatakan, langkah yang paling sering dilakukan yaitu dengan menerapkan perpustakaan keliling. Di mana dengan cara menggunakan fasilitas mobil operasional untuk menuju suatu titik dan belajar bersama di luar ruangan. Itu bertujuan agar lebih mendekatkan masyarakat terhadap perpustakaan dalam hal ini buku bacaannya. “Ini bisa kami lakukan setiap pekan. Jadi, masyarakat bisa membaca di Ruang Terbuka Hijau (RTH),” ucapnya.

Di sisi lain, Datu Buyung tentu sangat menyayangkan jika dengan adanya gedung nan megah dan fasilitas yang terbilang menunjang ini, justru masyarakat sendiri yang tak banyak menikmatinya. Untuk itu, pihaknya memastikan akan terus melakukan upaya-upaya atau dorongan dalam memberikan kesadaran terhadap masyarakat tentang pentingnya membaca.

“Kita tidak diam. Inovasi di tahun mendatang akan terus dilakukan hingga perpusatakaan ini ada sebagaimana mestinya,” tegasnya.

Untuk diketahui, Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten Bulungan ini sejauh ini memiliki koleksi buku 17.000 judul dari 45.000 eksemplar. Dan paling dominan masyarakat gemari saat membaca yaitu buku-buku tentang pengetahuan umum.

Sementara itu, salah seorang siswa SMK Negeri 2 Tanjung Selor, Desi Fitriani (17) mengaku lebih senang membaca menggunakan gadget ketimbang membaca ke perpustakaan. “Sekarang ini kan sudah canggih, semua sudah ada di gadget, jadi tidak perlu lagi harus ke perpustakaan,” ujarnya.

Aplikasi buku juga sudah banyak di gadget, sehingga sangat mudah dalam mencari sumber bacaan, kalau di perpustakaan bukunya juga terbatas, tidak semua ada di perpustakaan. Hal bebeda dikatakan, Anisa (12), ia mengaku lebih senang membaca buku di perpustakaan, karena selain dapat membaca buku, di perpustakaan juga bisa bertemu dengan teman-taman lainya. “Bertemu teman kan kita bisa sambil sharing (berbagi) dengan teman yang lainya,” ujarnya.

Tentunya hal itu sangat lebih mengasikan dari pada belajar menggunakan gadget, sebenarnya bisa saja menggunakan gadget, ketika apa yang dicari di perpustakaan tidak ada.“Kalau di perpustakaan masih ada kenapa harus menggunakan gadget,” tuturnya.

Baca Juga :  Di Bulungan 10 Tahun, Tana Tidung 15 Tahun

Sementara itu, psikolog Arief Boedi, S. Psi, M.Psy Clin, MD menilai, lingkungan terkecil adalah keluarga yang menjadi penyebab atau faktor minat baca seorang individu atau masyarakat sangat minim atau rentan turun.

Ia mengatakan sebenarnya masyarakat itu rajin membaca, hanya saja membaca berdasarkan apa yang mereka sukai. “Baca status, baca berita hoaks,” ungkapnya saat dikonfirmasi, Sabtu (22/12).

Artinya lanjut dikatakan pria lulusan Seoul University ini, secara psikologis seseorang membaca atau melakukan sesuatu berdasarkan apa yang mereka ingin tahu atau kepoin dan kedua apa yang mereka sukai. “Itu yang saya nilai sejauh ini,” ungkapnya.

Lanjutnya, sebenarnya membaca itu adalah sebuah budaya, artinya apabila ada pembiasaan yang disepakati oleh masyarakat atau lingkungan terkecil keluarga. “Di dalam psikologi massa, ketika seorang individu berbuat sesuatu tapi tidak mendapatkan dukungan maka ia berhenti karena melihat di lingkungannya tidak memberikan dukungan,” sebutnya.

Dalam hal inilah ia jelasnya, peran keluarga sangat perlu dalam menumbuh kembangkan minat baca seseorang individu hingga masyarakat. Berikan dukungan terhadap anggota keluarga itu sendiri untuk memulai membaca.

“Semua anggota keluarga yang ada di dalam satu rumah harus mendukung, dalam artian tumbuhkan pada diri sendiri minat baca itu, agar anggota yang lain dapat tertular,” jelasnya. “Apabila hal itu dilakukan maka minat baca di masyarakat akan tumbuh. Dalam hal ini penyebab minimnya minat baca itu karena faktor lingkungan keluarga,” sambungnya.

Dikatakan Arif, mungkin sekarang di setiap sekolah ada yang dinamakan pojok literasi, ada “bunda baca” di tiap daerah. Namun yang namanya anak, perlu cerminan perilaku dan pembiasaan dari lingkungannya. “Yaitu keluarga tadi, maka dalam menumbuhkembangkan minat baca, juga perlu diajarkan sejak dini kepada anak, dengan catatan orang tuanya juga harus rajin membaca,” ungkapnya.

Ada beberapa faktor agar budaya membaca itu menguat, seperti halnya lakukan internalisasi aktivitas membaca dalam keluarga. Selain itu sediakan ruangan dan suasana dan dukungan yang menyenangkan saat beraktivitas membaca itu. “Selain itu, lakukan self awareness atau perbaiki semangat untuk jadi lebih baik lagi dari lingkungan serta edukasi yang terus menerus untuk masyarakat dalam pembiasaan yang ada,” jelasnya. (omg/sny/eza)

Perpustakaan ‘Rasa’ Museum

Most Read

Artikel Terbaru

/