alexametrics
26.7 C
Tarakan
Thursday, August 11, 2022

Hoaks Termasuk Kejahatan Luar Biasa

Kepolisian Daerah (Polda) menyebutkan tindak kejahatan dengan menyebar informasi palsu atau hoaks termasuk kejahatan yang luar biasa. Maka hukuman penjara dengan waktu yang cukup lama bisa saja dikenakan kepada para pelaku.

Dikatakan Direktur Pembinaan Masyarakat (Dirbinmas) Polda Kaltara, Kombes Pol Moh.Yamin Sumitra, hal itu tentu dapat dilakukan, terlebih informasi yang disebarkan bertujuan menebar kebencian. “Ujaran kebencian ini meliputi penghinaan, pencemaran nama baik, penistaan, perbuatan tidak menenangkan, memprovokasi, menghasut, dan penyebaran berita bohong,” ungkapnya belum lama ini.

Lebih jauh dikatakan Yamin, ujaran kebencian tersebut biasanya bertujuan untuk menghasut dan menyulut kebencian terhadap individu bahkan kelompok masyarakat.  “Pelaku penyebar hoaks bisa terancam Pasal 28 ayat 1 Undang-Undang ITE,” sebutnya.

Baca Juga :  Penyelesaian Revisi Perda GSB, Legislatif Tak Pasang Target

Dalam pasal tersebut kata dia menyebutkan bahwa setiap orang yang dengan sengaja atau tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan, ancamannya bisa dikenakan pidana maksimal 6 tahun dan denda maksimal Rp 1 miliar. “Itu sudah termasuk kejahatan luar biasa,” sebutnya.

Untuk itu dikatakan Yamin, mulai saat ini setiap orang harus lebih berhati-hati lagi dalam menyebarkan informasi, melalui apapun itu bentuknya, baik pesan berantai maupun lainnya melalui perangkat elektronik ataupun media sosial. “Pada dasarnya kita semua ini adalah saudara jangan mudah percaya apapun informasi yang diterima dan didapat dari media sosial atau langsung dari manusia,” sebutnya

“Terlebih dari oknum aktivis yang hanya banyak ngomong yang kemudian membuat resah, akhirnya dapat menimbulkan gesekan bahkan konflik sekalipun diantara kita,” sambungnya.

Baca Juga :  Hari Ini Tersangka Penyebab Karhutla Ditetapkan

Dikatakan Yamin, penyebaran berita bohong itu juga dapat memancing kondisi Kamtibmas, terlebih kata dia saat ini tengah mendekati tahun politik. “Banyak simpatisan saling sebar kebencian melalui medsos,” sebutnya.

Untuk itu kata Yamin, terkait masalah hoaks ini, pihaknya juga turut melakukan pengawasan hingga pemantauan kegiatan yang termasuk dalam tindak kejahatan Medsos itu. “Karena, jangan sampai ini bisa menyulut gangguan Kamtibmas. Apalagi kan, saat sudah mendekati jalannya Pemilu. Kalau terbukti kita akan proses ke ranah hukum,” tutupnya. (sny/fly)

 

Kepolisian Daerah (Polda) menyebutkan tindak kejahatan dengan menyebar informasi palsu atau hoaks termasuk kejahatan yang luar biasa. Maka hukuman penjara dengan waktu yang cukup lama bisa saja dikenakan kepada para pelaku.

Dikatakan Direktur Pembinaan Masyarakat (Dirbinmas) Polda Kaltara, Kombes Pol Moh.Yamin Sumitra, hal itu tentu dapat dilakukan, terlebih informasi yang disebarkan bertujuan menebar kebencian. “Ujaran kebencian ini meliputi penghinaan, pencemaran nama baik, penistaan, perbuatan tidak menenangkan, memprovokasi, menghasut, dan penyebaran berita bohong,” ungkapnya belum lama ini.

Lebih jauh dikatakan Yamin, ujaran kebencian tersebut biasanya bertujuan untuk menghasut dan menyulut kebencian terhadap individu bahkan kelompok masyarakat.  “Pelaku penyebar hoaks bisa terancam Pasal 28 ayat 1 Undang-Undang ITE,” sebutnya.

Baca Juga :  Ketika Usia Tak Menghambat Kreativitas dan Produktivitas

Dalam pasal tersebut kata dia menyebutkan bahwa setiap orang yang dengan sengaja atau tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan, ancamannya bisa dikenakan pidana maksimal 6 tahun dan denda maksimal Rp 1 miliar. “Itu sudah termasuk kejahatan luar biasa,” sebutnya.

Untuk itu dikatakan Yamin, mulai saat ini setiap orang harus lebih berhati-hati lagi dalam menyebarkan informasi, melalui apapun itu bentuknya, baik pesan berantai maupun lainnya melalui perangkat elektronik ataupun media sosial. “Pada dasarnya kita semua ini adalah saudara jangan mudah percaya apapun informasi yang diterima dan didapat dari media sosial atau langsung dari manusia,” sebutnya

“Terlebih dari oknum aktivis yang hanya banyak ngomong yang kemudian membuat resah, akhirnya dapat menimbulkan gesekan bahkan konflik sekalipun diantara kita,” sambungnya.

Baca Juga :  Isi Jabatan Kosong, Mutasi Segera Dilakukan

Dikatakan Yamin, penyebaran berita bohong itu juga dapat memancing kondisi Kamtibmas, terlebih kata dia saat ini tengah mendekati tahun politik. “Banyak simpatisan saling sebar kebencian melalui medsos,” sebutnya.

Untuk itu kata Yamin, terkait masalah hoaks ini, pihaknya juga turut melakukan pengawasan hingga pemantauan kegiatan yang termasuk dalam tindak kejahatan Medsos itu. “Karena, jangan sampai ini bisa menyulut gangguan Kamtibmas. Apalagi kan, saat sudah mendekati jalannya Pemilu. Kalau terbukti kita akan proses ke ranah hukum,” tutupnya. (sny/fly)

 

Most Read

Lakukan Pendataan, Mutasi Siswa Ditutup

Tarif RT-PCR Serentak Turun

Bumikan Harapan Baru di Kaltara

Artikel Terbaru

/