alexametrics
25.5 C
Tarakan
Monday, August 15, 2022

Rapid Test Antigen Bakal Jadi Syarat Perjalanan

TANJUNG SELOR – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) telah menetapkan batas harga tertinggi rapid test antigen sebesar Rp 250 ribu untuk di Pulau Jawa dan Rp 275 ribu di luar Pulau Jawa. Ketetapan ini tertuang dalam Surat Edaran (SE) HK.02.02/I/4611/2020 tentang Batasan Tarif Tertinggi Pemeriksaan Rapid Test Antigen-Swab.

Jubir Satgas Penanganan Covid-19 Kaltara, Agust Suwandy menjelaskan, sebenarnya pelayanan rapid test antigen ini sama dengan rapid test antibody. Ada layanan mandiri dan gratis. Untuk di RSUD Tarakan, RSD dr. H. Soemarno Sosroatmodjo, Tanjung Selor dan klinik memang ada pelayanan pemeriksaan rapid test mandiri.

“Sekarang ini pihak RSUD Tarakan dan RSD dr. H. Soemarno Sosroatmodjo sedang mempersiapkan bahan rapid test antigen tersebut,” kata Agust kepada Radar Kaltara melalui sambungan telepon, Minggu (20/12).

Untuk di klinik, Agust mengaku tidak mengetahui secara pasti apakah mereka juga mempersiapkan atau tidak. Namun, dua rumah sakit (RS) sedang mempersiapkan bahan rapid test antigen tersebut. “Untuk pelayanan rapid test antigen mandiri otomatis akan menyesuaikan dengan tarif yang sudah ditetapkan Kemenkes. Rp 275 ribu,” ujarnya.

Baca Juga :  Pjs Gubernur Sosialisasikan Prokes hingga ke Pasar

Rapid test antigen ini baru digunakan sebagai syarat perjalanan.  “Selama ini rapid test antigen digunakan untuk melakukan skrining dan tracing contact (melacak kontak). Bukan sebagai syarat perjalanan,” sebutnya.

Ketika menjadi syarat perjalanan tentunya ke depan akan dipilah sesuai peraturan gubernur (pergub). “Artinya begini, untuk rapid test pengadaan dari pemerintah, baik provinsi maupun pusat akan tetap digratiskan sesuai pergub,” ujarnya.

Sedangkan pelayanan rapid test di RSUD Tarakan dan RSD dr. H. Soemarno Sosroatmodjo, Tanjung Selor  akan menerapkan sistem berbayar. Karena ada pelayanan rapid test mandiri. “Kalau bahan rapid test itu pengadaan dari rumah sakit pastinya berbayar. Kalau dari pemerintah mereka tidak boleh menarik biaya. Iya, sama seperti rapid test antibody ada yang mandiri dan gratis,” jelasnya.

Dijelaskan, rapid test antigen ini berbeda dengan rapid test antibody. Sebab, rapid test antibody hanya mengambil spesimen darah. Sedangkan rapid test antigen mengambil spesimen swab. “Kendala kita sekarang ini tenaga untuk pengambilan swab masih terbatas,” sebutnya.

Baca Juga :  MANTAP...! Pemprov Rencanakan Bangun RS Pendidikan

Kemudian dari sisi keamanan rapid test antigen ini juga harus aman dari tenaga medis maupun orang di sekitar, karena yang diambil swab. “Jadi, semua itu harus dipersiapkan,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Laboratorium RSD dr. H. Soemarno Sosroatmodjo, dr. Sinrang saat dikonfirmasi mengatakan, untuk persiapan bahan rapid test antigen saat ini memang sedang dalam proses. Namun, untuk pelaksanaannya belum ada keputusan.

“Rencana pelaksanaan rapid test antigen ini akan dibahas dalam rapat dahulu, karena pelaksanaannya harus berdasarkan SOP (standar operasional prosedur),” bebernya.

Dalam pelaksanaannya, pengambilan swab rapid test antigen petugas harus menggunakan alat pelindung diri (APD) lengkap. Hal itu dilakukan untuk meminimalisir risiko terhadap petugas dan lingkungan. “Perhitungan biayanya juga akan dibahas. Kami juga masih harus menunggu petunjuk dari Dinas Kesehatan,” ujarnya. (*/jai/eza)

TANJUNG SELOR – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) telah menetapkan batas harga tertinggi rapid test antigen sebesar Rp 250 ribu untuk di Pulau Jawa dan Rp 275 ribu di luar Pulau Jawa. Ketetapan ini tertuang dalam Surat Edaran (SE) HK.02.02/I/4611/2020 tentang Batasan Tarif Tertinggi Pemeriksaan Rapid Test Antigen-Swab.

Jubir Satgas Penanganan Covid-19 Kaltara, Agust Suwandy menjelaskan, sebenarnya pelayanan rapid test antigen ini sama dengan rapid test antibody. Ada layanan mandiri dan gratis. Untuk di RSUD Tarakan, RSD dr. H. Soemarno Sosroatmodjo, Tanjung Selor dan klinik memang ada pelayanan pemeriksaan rapid test mandiri.

“Sekarang ini pihak RSUD Tarakan dan RSD dr. H. Soemarno Sosroatmodjo sedang mempersiapkan bahan rapid test antigen tersebut,” kata Agust kepada Radar Kaltara melalui sambungan telepon, Minggu (20/12).

Untuk di klinik, Agust mengaku tidak mengetahui secara pasti apakah mereka juga mempersiapkan atau tidak. Namun, dua rumah sakit (RS) sedang mempersiapkan bahan rapid test antigen tersebut. “Untuk pelayanan rapid test antigen mandiri otomatis akan menyesuaikan dengan tarif yang sudah ditetapkan Kemenkes. Rp 275 ribu,” ujarnya.

Baca Juga :  Tidak Berpotensi Tsunami, Ini Penyebab Gempa…

Rapid test antigen ini baru digunakan sebagai syarat perjalanan.  “Selama ini rapid test antigen digunakan untuk melakukan skrining dan tracing contact (melacak kontak). Bukan sebagai syarat perjalanan,” sebutnya.

Ketika menjadi syarat perjalanan tentunya ke depan akan dipilah sesuai peraturan gubernur (pergub). “Artinya begini, untuk rapid test pengadaan dari pemerintah, baik provinsi maupun pusat akan tetap digratiskan sesuai pergub,” ujarnya.

Sedangkan pelayanan rapid test di RSUD Tarakan dan RSD dr. H. Soemarno Sosroatmodjo, Tanjung Selor  akan menerapkan sistem berbayar. Karena ada pelayanan rapid test mandiri. “Kalau bahan rapid test itu pengadaan dari rumah sakit pastinya berbayar. Kalau dari pemerintah mereka tidak boleh menarik biaya. Iya, sama seperti rapid test antibody ada yang mandiri dan gratis,” jelasnya.

Dijelaskan, rapid test antigen ini berbeda dengan rapid test antibody. Sebab, rapid test antibody hanya mengambil spesimen darah. Sedangkan rapid test antigen mengambil spesimen swab. “Kendala kita sekarang ini tenaga untuk pengambilan swab masih terbatas,” sebutnya.

Baca Juga :  Tanpa Surat Karantina, Hewan Kurban Ditolak

Kemudian dari sisi keamanan rapid test antigen ini juga harus aman dari tenaga medis maupun orang di sekitar, karena yang diambil swab. “Jadi, semua itu harus dipersiapkan,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Laboratorium RSD dr. H. Soemarno Sosroatmodjo, dr. Sinrang saat dikonfirmasi mengatakan, untuk persiapan bahan rapid test antigen saat ini memang sedang dalam proses. Namun, untuk pelaksanaannya belum ada keputusan.

“Rencana pelaksanaan rapid test antigen ini akan dibahas dalam rapat dahulu, karena pelaksanaannya harus berdasarkan SOP (standar operasional prosedur),” bebernya.

Dalam pelaksanaannya, pengambilan swab rapid test antigen petugas harus menggunakan alat pelindung diri (APD) lengkap. Hal itu dilakukan untuk meminimalisir risiko terhadap petugas dan lingkungan. “Perhitungan biayanya juga akan dibahas. Kami juga masih harus menunggu petunjuk dari Dinas Kesehatan,” ujarnya. (*/jai/eza)

Most Read

Artikel Terbaru

/