alexametrics
25.5 C
Tarakan
Monday, August 15, 2022

MUI Tolak Keras Kelompok Khilafatul Muslimin

TANJUNG SELOR – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bulungan akhirnya merespons kabar adanya kelompok Khilafatul Muslimin. Mereka menolak adanya kelompok yang bertentangan dengan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945.

Ketua MUI Bulungan, Ustadz Ridwan Labago menegaskan bahwa MUI Bulungan menjadi garda terdepan menentang adanya kelompok Khilafatul Muslimin.

“Segala yang bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 1945 harus disingkirkan. Tidak boleh itu,” kata Ridwan kepada Radar Kaltara, Selasa (14/6). Sebab, jika kelompok yang bertentangan dengan UUD 1945 dibiarkan maka negara dan Islam akan binasa.

“Memelihara negara itu sama seperti memelihara agama,” ungkapnya.

Karena itu, MUI Bulungan mendukung upaya pemerintah dalam menjaga empat pilar kebangsaan. Yakni, Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika.

Baca Juga :  Pembangunan Pasar Rakyat Capai 30 Persen

“Siapapun yang merusak semua itu, MUI Bulungan siap menjadi gardan terdepan menentang,” ujarnya.

Meski keberadaan kelompok tersebut belum terdeteksi di Bulungan, menurut Ridwan, untuk membentengi generasi muda terhadap paham radikalisme, negara harus memikirkan kompetensi para guru yang mengajar murid.

“Jangan sampai ada guru yang mengajar untuk merusak negara. Tidak boleh ada guru yang merusak negara,” ungkapnya.

Meskipun memiliki ilmu, jangan sampai peserta didik menyusahkan negara. Karena itu, guru juga harus di-monitoring (pantau).

“Tidak boleh mengajar orang sembarangan kalau bukan ahlinya. Karena kalau orang yang tidak memiliki keahlian maka negara akan rusak,” bebernya.

Menurutnya, kekacauan negara saat ini terjadi karena pendidikan. Misalnya, tawuran antar pelajar, kenapa hal seperti itu bisa terjadi dan siapa yang mendidik mereka.

Baca Juga :  Akibat Ini, Rekrutmen CASN Ditiadakan

“Bukan hanya pelajar, mahasiswa saja sering tawuran. Jadi, pertanyaannya sekarang ini siapa yang mendidik mereka,” ungkapnya.

Hal senada disampaikan, Korwil Bulungan Binda Kaltara Bagas. Ia mengatakan bahwa pendidikan sangat penting dalam membentuk karakter generasi bangsa yang sesuai dengan Pancasila.

“Jadi, semua elemen masyarakat ikut terlibat dalam pembentukan karakter anak, terutama untuk menghindari penyebaran paham radikalisme yang tidak sesuai dengan Pancasila”, ujarnya.

Selain itu, berkembangnya dinamika dunia secara global juga mendorong semuanya untuk ikut didalamnya, termasuk berkembangnya teknologi IT. “Saya kira penyebaran paham tersebut sangat efektif melalui medsos (media sosial) yang mempengaruhi pola pikir dan cara bertindak,” pungkasnya. (*/jai/ana)

TANJUNG SELOR – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bulungan akhirnya merespons kabar adanya kelompok Khilafatul Muslimin. Mereka menolak adanya kelompok yang bertentangan dengan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945.

Ketua MUI Bulungan, Ustadz Ridwan Labago menegaskan bahwa MUI Bulungan menjadi garda terdepan menentang adanya kelompok Khilafatul Muslimin.

“Segala yang bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 1945 harus disingkirkan. Tidak boleh itu,” kata Ridwan kepada Radar Kaltara, Selasa (14/6). Sebab, jika kelompok yang bertentangan dengan UUD 1945 dibiarkan maka negara dan Islam akan binasa.

“Memelihara negara itu sama seperti memelihara agama,” ungkapnya.

Karena itu, MUI Bulungan mendukung upaya pemerintah dalam menjaga empat pilar kebangsaan. Yakni, Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika.

Baca Juga :  Konsumsi Meningkat, Pertamina Tambah Pasokan Solar

“Siapapun yang merusak semua itu, MUI Bulungan siap menjadi gardan terdepan menentang,” ujarnya.

Meski keberadaan kelompok tersebut belum terdeteksi di Bulungan, menurut Ridwan, untuk membentengi generasi muda terhadap paham radikalisme, negara harus memikirkan kompetensi para guru yang mengajar murid.

“Jangan sampai ada guru yang mengajar untuk merusak negara. Tidak boleh ada guru yang merusak negara,” ungkapnya.

Meskipun memiliki ilmu, jangan sampai peserta didik menyusahkan negara. Karena itu, guru juga harus di-monitoring (pantau).

“Tidak boleh mengajar orang sembarangan kalau bukan ahlinya. Karena kalau orang yang tidak memiliki keahlian maka negara akan rusak,” bebernya.

Menurutnya, kekacauan negara saat ini terjadi karena pendidikan. Misalnya, tawuran antar pelajar, kenapa hal seperti itu bisa terjadi dan siapa yang mendidik mereka.

Baca Juga :  Caleg Terpilih Terancam Didiskualifikasi

“Bukan hanya pelajar, mahasiswa saja sering tawuran. Jadi, pertanyaannya sekarang ini siapa yang mendidik mereka,” ungkapnya.

Hal senada disampaikan, Korwil Bulungan Binda Kaltara Bagas. Ia mengatakan bahwa pendidikan sangat penting dalam membentuk karakter generasi bangsa yang sesuai dengan Pancasila.

“Jadi, semua elemen masyarakat ikut terlibat dalam pembentukan karakter anak, terutama untuk menghindari penyebaran paham radikalisme yang tidak sesuai dengan Pancasila”, ujarnya.

Selain itu, berkembangnya dinamika dunia secara global juga mendorong semuanya untuk ikut didalamnya, termasuk berkembangnya teknologi IT. “Saya kira penyebaran paham tersebut sangat efektif melalui medsos (media sosial) yang mempengaruhi pola pikir dan cara bertindak,” pungkasnya. (*/jai/ana)

Most Read

Artikel Terbaru

/