alexametrics
25.5 C
Tarakan
Monday, August 15, 2022

Sebelum Meninggal, Bupati Bulungan Titip 3 Pesan

 KABAR duka menyelimuti Kalimantan Utara (Kaltara). Salah satunya tokohnya berpulang pada Selasa (8/12) sekitar pukul 11.25 WITA.

Bupati Bulungan, H. Sudjati, wafat setelah tak mampu melawan virus Covid-19 yang dideritanya sepulang dari Kalimantan Timur (Kaltim). Wafatnya orang nomor satu di Bumi Tenguyun ini membawa duka mendalam bagi seluruh jajaran Pemkab Bulungan. Mereka kehilangan sosok panutan.

Wakil Bupati Bulungan, Ingkong Ala mengaku baru mengetahui kondisi almarhum drop sekira pukul 09.00 WITA. Mengetahui kabar tersebut dirinya langsung ke RSD dr. H. Soemarno Sosroatmodjo. “Saya melihat langsung upaya yang dilakukan tenaga medis untuk memberikan bantuan pernapasan dan memompa jantung beliau,” kata Ingkong Ala saat ditemui di lokasi pemakaman, kemarin (8/12).

Setelah dua jam penanganan medis, sekitar pukul 11.25 WITA almarhum dinyatakan meninggal dunia. Sehingga proses pemakaman tetap mengacu kepada peraturan protokol Covid-19. “Mengingat jasa almarhum sebagai pejabat negara kami mau supaya keberangkatan jenazah dari rumah jabatan. Hanya karena lebih mengedepankan kepentingan masyarakat banyak, akhirnya disepakati setelah setelah disalatkan di Stadion Andi Tjatjok jenazah langsung dimakamkan di Pemakaman Tanjung Harapan,” bebernya.

Di mata Ingkong, almarhum tidak memiliki kekurangan apa pun dan telah menjadi panutan yang luar biasa. Almarhum dikenalinya sebagai orang yang sangat sabar. “Kita paham di tengah kondisi sekarang ini banyak sekali kritikan yang beliau terima. Tetapi beliau menyikapinya dengan positif. Sangat luar biasa,” ujarnya.

Dengan adanya kabar duka ini dirinya mengimbau agar seluruh masyarakat tetap menjaga dan menjalankan protokol kesehatan. “Ini bukti kalau virus itu ada. Jangan pernah menganggap sepele pandemi Covid-19 ini. Saya tahu fisik beliau ini cukup kuat walaupun usianya sudah tua. Tetapi, saya tahu fisiknya kuat dan tidak pernah menyangka kalau fisiknya tidak mampu menghadapi virus,” ungkapnya.

Menyoal apakah nantinya ada pengibaran bendera setengah tiang untuk menghormati jasa almarhum, Ingkong mengatakan, belum ada keputusan lebih lanjut mengenai hal ini. Namun, menurutnya hal itu perlu dilakukan untuk menghormati jasa almarhum.

Baca Juga :  Masyarakat Diminta Tetap Jaga Kondusifitas

“Tapi saya masih tidak habis pikir, seorang yang memiliki hati yang mulia pergi ke peristirahatan terakhirnya dalam kondisi seperti ini. Pandemi Covid-19, saya yakin keluarga beliau memahami hal itu,” ungkapnya.

Ingkong mengaku sudah lama tidak bertemu dengan beliau, karena sibuk dengan kegiatan kampanye. Jadi, selama ini komunikasi hanya melalui sambungan telepon. “Saya tahu kalau beliau itu sempat ada kegiatan di Samarinda. Nah, begitu saya tahu hari Minggu (6/12) beliau sudah terkonfirmasi positif,” sebutnya.

Mengetahui hal itu dirinya kemudian langsung berupaya menghubungi almarhum melalui sambungan telepon. Tetapi, tak ada respons. “Mungkin karena kurang sehat makanya tidak mengangkat telepon. Nah, saya dapat kabar kalau beliau kemarin malam dibawa ke rumah sakit. Kondisi beliau baik,” ujarnya.

Bahkan saat itu almarhum sempat bercanda. Seperti tidak sedang sakit. “Terakhir saya komunikasi, beliau sempat memberikan support (dukung) ke saya agar tetap semangat,” sebutnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Bulungan, H. Imam Sujono menyampaikan, sebelum dinyatakan terkonfirmasi positif, almarhum sempat berangkat ke Samarinda dan Balikpapan, Kalimantan Timur (Kaltim) pada tanggal 26-30 November. “Nah, sebelum kembali ke Bulungan kondisi beliau memang sudah demam. Sampai di daerah Kelai beliau sudah tidak bisa menahan rasa dingin dan pakai sarung,” bebernya.

Sampai di Bulungan, almarhum tidak langsung di-swab. Demamnya tak kunjung turun. Minggu (6/12) malam almarhum menjalani tes swab. “Malam di-swab, siang beliau dinyatakan terkonfirmasi positif,” bebernya.

Begitu hasil keluar, pelacakan kontak erat dilakukan. Hasilnya, ada 24 orang yang kontak erat. “Nah, dari 24 orang itu sudah ada 2 yang dinyatakan terkonfirmasi positif dan 5 negatif,” ungkapnya.

Lima orang yang dinyatakan negatif salah satunya istri dan cucu almarhum. Almarhum sempat menjalani isolasi mandiri selama satu malam di rumah jabatan. “Kami tidak berani juga merujuk beliau ke Tarakan, karena kondisinya sudah lemah,” ujarnya.

Imam mengenal sosok almarhum sebagai seorang pemimpin yang luar bisa, bisa menjadi bapak hingga teman. “Ketika kita ada masalah, beliau bisa menjadi seorang bapak,” bebernya.

Baca Juga :  Jadwal Pelantikan DPRD Masih Abu-abu

Kemudian kalau ada yang kurang benar beliau akan panggil secara pribadi. Tidak pernah menyampaikan di depan umum. “Jadi, kami dipanggil sebagai seorang teman. Beliau memberikan solusi, tetapi bukan menambah masalah,” ungkapnya.

Menurutnya, sosok bupati periode 2016-2020 ini terlalu baik. Apalagi beliau ini tidak pernah ada kata tidak, selalu iya dengan solusi. “Semua masalah kalau disampaikan, beliau selalu bilang iya. Dengan solusi,” ungkapnya.

Walaupun sebagian orang menilai almarhum ini ada titik lemahnya. Namun, di matanya almarhum adalah sosok yang sangat baik. “Saya pribadi sulit untuk menjadi seperti sosok beliau, karena belum pernah saya melihat beliau itu menampakkan emosi. Jadi, menurut saya dan semua orang beliau ini merupakan sosok panutan,” sebutnya.

Lebih lanjut dikatakan, sebelum menghembuskan nafas terakhir ada tiga pesan yang disampaikan almarhum. “Pesan ini disampaikan beliau saat setengah sadar, karena berat menahan sesak nafas,” bebernya.

Sebelum menyampaikan pesan, mantan sekretaris kabupaten Bulungan itu sampat sempat mengucapkan assalamualaikum. “Seperti menyampaikan pidato begitu,” ungkapnya.

Pesan pertama yang disampaikan almarhum meminta agar semua pihak mengawal dan menyukseskan pelaksanaan Pilkada maupun Pilkades. Kedua, almarhum meminta agar semua ASN di lingkup Pemkab Bulungan untuk tetap kompak menjaga kesehatan dan saling menjaga. “Terakhir, beliau meminta agar menyampaikan kepada masyarakat untuk menjalankan protokol kesehatan dengan baik. Pesan ini disampaikan beberapa kali dan pesan ini bukan saya rekayasa, saksinya ada dokter, perawat dan anak beliau,” ungkapnya.

Setelah menyampaikan pesan itu almarhum sempat apnea berhenti bernapas. Kemudian, pukul 09.11 WITA mulai sudah tidak sadarkan diri dan dilakukan pompa jantung selama 2 jam hingga akhirnya pukul 11.25 WITA almarhum dinyatakan meninggal dunia. “Jadi, saya bimbing beliau sampai menghembuskan nafas terakhir,” bebernya.

Juru Bicara Penanganan Covid-19 Bulungan, dr. Heriyadi Suranta menambahkan, selain terkonfirmasi positif, almarhum juga diketahui menderita penyakit lain. Yakni, penyakit jantung. “Beliau ini sempat menjalani perawatan selama dua hari sampai akhirnya dinyatakan meninggal dunia,” pungkasnya. (*/jai/lim)

 KABAR duka menyelimuti Kalimantan Utara (Kaltara). Salah satunya tokohnya berpulang pada Selasa (8/12) sekitar pukul 11.25 WITA.

Bupati Bulungan, H. Sudjati, wafat setelah tak mampu melawan virus Covid-19 yang dideritanya sepulang dari Kalimantan Timur (Kaltim). Wafatnya orang nomor satu di Bumi Tenguyun ini membawa duka mendalam bagi seluruh jajaran Pemkab Bulungan. Mereka kehilangan sosok panutan.

Wakil Bupati Bulungan, Ingkong Ala mengaku baru mengetahui kondisi almarhum drop sekira pukul 09.00 WITA. Mengetahui kabar tersebut dirinya langsung ke RSD dr. H. Soemarno Sosroatmodjo. “Saya melihat langsung upaya yang dilakukan tenaga medis untuk memberikan bantuan pernapasan dan memompa jantung beliau,” kata Ingkong Ala saat ditemui di lokasi pemakaman, kemarin (8/12).

Setelah dua jam penanganan medis, sekitar pukul 11.25 WITA almarhum dinyatakan meninggal dunia. Sehingga proses pemakaman tetap mengacu kepada peraturan protokol Covid-19. “Mengingat jasa almarhum sebagai pejabat negara kami mau supaya keberangkatan jenazah dari rumah jabatan. Hanya karena lebih mengedepankan kepentingan masyarakat banyak, akhirnya disepakati setelah setelah disalatkan di Stadion Andi Tjatjok jenazah langsung dimakamkan di Pemakaman Tanjung Harapan,” bebernya.

Di mata Ingkong, almarhum tidak memiliki kekurangan apa pun dan telah menjadi panutan yang luar biasa. Almarhum dikenalinya sebagai orang yang sangat sabar. “Kita paham di tengah kondisi sekarang ini banyak sekali kritikan yang beliau terima. Tetapi beliau menyikapinya dengan positif. Sangat luar biasa,” ujarnya.

Dengan adanya kabar duka ini dirinya mengimbau agar seluruh masyarakat tetap menjaga dan menjalankan protokol kesehatan. “Ini bukti kalau virus itu ada. Jangan pernah menganggap sepele pandemi Covid-19 ini. Saya tahu fisik beliau ini cukup kuat walaupun usianya sudah tua. Tetapi, saya tahu fisiknya kuat dan tidak pernah menyangka kalau fisiknya tidak mampu menghadapi virus,” ungkapnya.

Menyoal apakah nantinya ada pengibaran bendera setengah tiang untuk menghormati jasa almarhum, Ingkong mengatakan, belum ada keputusan lebih lanjut mengenai hal ini. Namun, menurutnya hal itu perlu dilakukan untuk menghormati jasa almarhum.

Baca Juga :  Momen Toleransi Umat Beragama Dicontohkan Gubernur dan Wagub

“Tapi saya masih tidak habis pikir, seorang yang memiliki hati yang mulia pergi ke peristirahatan terakhirnya dalam kondisi seperti ini. Pandemi Covid-19, saya yakin keluarga beliau memahami hal itu,” ungkapnya.

Ingkong mengaku sudah lama tidak bertemu dengan beliau, karena sibuk dengan kegiatan kampanye. Jadi, selama ini komunikasi hanya melalui sambungan telepon. “Saya tahu kalau beliau itu sempat ada kegiatan di Samarinda. Nah, begitu saya tahu hari Minggu (6/12) beliau sudah terkonfirmasi positif,” sebutnya.

Mengetahui hal itu dirinya kemudian langsung berupaya menghubungi almarhum melalui sambungan telepon. Tetapi, tak ada respons. “Mungkin karena kurang sehat makanya tidak mengangkat telepon. Nah, saya dapat kabar kalau beliau kemarin malam dibawa ke rumah sakit. Kondisi beliau baik,” ujarnya.

Bahkan saat itu almarhum sempat bercanda. Seperti tidak sedang sakit. “Terakhir saya komunikasi, beliau sempat memberikan support (dukung) ke saya agar tetap semangat,” sebutnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Bulungan, H. Imam Sujono menyampaikan, sebelum dinyatakan terkonfirmasi positif, almarhum sempat berangkat ke Samarinda dan Balikpapan, Kalimantan Timur (Kaltim) pada tanggal 26-30 November. “Nah, sebelum kembali ke Bulungan kondisi beliau memang sudah demam. Sampai di daerah Kelai beliau sudah tidak bisa menahan rasa dingin dan pakai sarung,” bebernya.

Sampai di Bulungan, almarhum tidak langsung di-swab. Demamnya tak kunjung turun. Minggu (6/12) malam almarhum menjalani tes swab. “Malam di-swab, siang beliau dinyatakan terkonfirmasi positif,” bebernya.

Begitu hasil keluar, pelacakan kontak erat dilakukan. Hasilnya, ada 24 orang yang kontak erat. “Nah, dari 24 orang itu sudah ada 2 yang dinyatakan terkonfirmasi positif dan 5 negatif,” ungkapnya.

Lima orang yang dinyatakan negatif salah satunya istri dan cucu almarhum. Almarhum sempat menjalani isolasi mandiri selama satu malam di rumah jabatan. “Kami tidak berani juga merujuk beliau ke Tarakan, karena kondisinya sudah lemah,” ujarnya.

Imam mengenal sosok almarhum sebagai seorang pemimpin yang luar bisa, bisa menjadi bapak hingga teman. “Ketika kita ada masalah, beliau bisa menjadi seorang bapak,” bebernya.

Baca Juga :  Cegah Paparan, Pemprov Buat Pedoman 

Kemudian kalau ada yang kurang benar beliau akan panggil secara pribadi. Tidak pernah menyampaikan di depan umum. “Jadi, kami dipanggil sebagai seorang teman. Beliau memberikan solusi, tetapi bukan menambah masalah,” ungkapnya.

Menurutnya, sosok bupati periode 2016-2020 ini terlalu baik. Apalagi beliau ini tidak pernah ada kata tidak, selalu iya dengan solusi. “Semua masalah kalau disampaikan, beliau selalu bilang iya. Dengan solusi,” ungkapnya.

Walaupun sebagian orang menilai almarhum ini ada titik lemahnya. Namun, di matanya almarhum adalah sosok yang sangat baik. “Saya pribadi sulit untuk menjadi seperti sosok beliau, karena belum pernah saya melihat beliau itu menampakkan emosi. Jadi, menurut saya dan semua orang beliau ini merupakan sosok panutan,” sebutnya.

Lebih lanjut dikatakan, sebelum menghembuskan nafas terakhir ada tiga pesan yang disampaikan almarhum. “Pesan ini disampaikan beliau saat setengah sadar, karena berat menahan sesak nafas,” bebernya.

Sebelum menyampaikan pesan, mantan sekretaris kabupaten Bulungan itu sampat sempat mengucapkan assalamualaikum. “Seperti menyampaikan pidato begitu,” ungkapnya.

Pesan pertama yang disampaikan almarhum meminta agar semua pihak mengawal dan menyukseskan pelaksanaan Pilkada maupun Pilkades. Kedua, almarhum meminta agar semua ASN di lingkup Pemkab Bulungan untuk tetap kompak menjaga kesehatan dan saling menjaga. “Terakhir, beliau meminta agar menyampaikan kepada masyarakat untuk menjalankan protokol kesehatan dengan baik. Pesan ini disampaikan beberapa kali dan pesan ini bukan saya rekayasa, saksinya ada dokter, perawat dan anak beliau,” ungkapnya.

Setelah menyampaikan pesan itu almarhum sempat apnea berhenti bernapas. Kemudian, pukul 09.11 WITA mulai sudah tidak sadarkan diri dan dilakukan pompa jantung selama 2 jam hingga akhirnya pukul 11.25 WITA almarhum dinyatakan meninggal dunia. “Jadi, saya bimbing beliau sampai menghembuskan nafas terakhir,” bebernya.

Juru Bicara Penanganan Covid-19 Bulungan, dr. Heriyadi Suranta menambahkan, selain terkonfirmasi positif, almarhum juga diketahui menderita penyakit lain. Yakni, penyakit jantung. “Beliau ini sempat menjalani perawatan selama dua hari sampai akhirnya dinyatakan meninggal dunia,” pungkasnya. (*/jai/lim)

Most Read

Artikel Terbaru

/