alexametrics
25.5 C
Tarakan
Monday, August 15, 2022

Terisolir, Warga Bangun Jembatan Darurat

TANJUNG SELOR – Puluhan warga SP 8-SP 9 Desa Tanjung Buka, Kecamatan Tanjung Palas Tengah, Kabupaten Bulungan mulai pagi  bergotong-royong membangun jembatan darurat secara swadaya, Minggu (6/12).

Ketua RT 33  SP 9, Agus Wahyudi mengatakan,perbaikan jembatan merupakan swadaya warga SP8-SP9 ditambah bantuan dari pemerintah desa berupa papan dan pohon nibung.

“Kalau swadaya warga  belum dihitung berapa dana yang terkumpul. Yang jelas hari ini (kemarin, Red) kita juga mendapatkan bantuan dana dari komunitas Rp 5.390.000,” kata Iwan saat ditemui di lokasi, Minggu (6/12).

Pembangunan jembatan darurat dinilai warga mendesak. Karena jika harus  menunggu pemerintah dikhawatirkan butuh waktu lama  bisa diperbaiki.

“Jadi, warga memilih membangun jembatan darurat,” ujarnya.

Apalagi sejak ambruk, Senin (16/11), mobilitas warga hanya bisa mengandalkan jalur sungai menggunakan perahu ketinting. Artinya untuk jalur darat mati total, karena sudah tidak ada akses jembatan.

“Mahal juga kalau pakai ketinting, sampai ke tambangan saja Rp 50 ribu sampai Rp 100 ribu. Tetapi, tidak ada pilihan lain lagi, mau tidak mau kita harus bayar segitu. Jadi, betul-betul terisolir,” ungkapnya.

Baca Juga :  Gubernur Tegaskan ASN Bekerja untuk Masyarakat

Diperkirakan, jembatan daruat yang dibangun sepanjang 26 X 4 meter itu mampu bertahan 1 sampai 2 tahun. Tergantung pemakaian dan tua atau muda pohon nibung yang digunakan.

“Sekarang ini kita tinggal menunggu papan saja, kalau papan sudah ada dua hari jembatan sudah bisa digunakan. Jadi, kendala sekarang ini papan saja, karena papannya masih di dalam hutan,” ungkapnya.

Lebih lanjut dikatakan, ambruknya jembatan yang merupakan akses utama warga ke Kota Tanjung Selor ini bukan kali pertama terjadi, karena 2016 silam jembatan yang juga sudah pernah ambruk.

“Kalau pas air besar deras. Kalau sekarang ini kan air mati. Jadi, tidak begitu deras,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala BPBD Ali  Fatokah menyampaikan, awalnya opsi yang digunakan untuk akses penghubung menggunakan ponton. Namun, warga lebih memilih membangun jembatan darurat.

“Sudah kita ukur, panjang jembatan yang roboh itu kurang lebih 26 meter dan masih tersisa sekitar 26 meter,” ungkapnya.

Terpisah, Plt Kepala Bappeda-Litbang Bulungan, Iwan Sugianta mengatakan, untuk saat ini perbaikan secara permanen masih sulit. Kenapa?, karena anggaran 2020 sudah habis.

Baca Juga :  UNBK dan USBN Digelar Serentak

“Kemungkinan tahun depan baru bisa dianggarkan,” bebernya.

Dalam hal ini dirinya juga sangat mengapresiasi langkah yang sudah dilakukan warga dengan membangun jembatan darurat. Apalagi jembatan ini sangat vital.

“Akses satu-satunya dari SP 9 ke SP 8 dan sebaliknya,” bebernya.

Diberitakan sebelumnya, Kepala Bidang Bina Marga pada DPU-PR Bulungan, H. Fakhrudin menyampaikan, sesuai perencanaan yang sudah ada untuk merealisasikan jembatan itu membutuhkan biaya yang cukup besar, Rp 35 miliar.

“Konstruksinya beton prategang, makanya biayanya besar,” bebernya.

Perencanaan pembangunan jembatan yang membentang sepanjang 50 sampai 60 meter ini sudah ada sejak dua tahun lalu. “Sudah lama, hanya saja karena kebutuhan anggaran tidak memungkinkan perencanaan itu belum bisa direalisasikan,” bebernya.

Untuk saat ini pihaknya mengaku tidak bisa bisa berbuat banyak. Karena tidak ada anggaran. “Kalau ada anggaran bisa saja kami realisasikan. Tetapi kan sekarang ini anggaran belum memungkinkan untuk merealisasikannya,” pungkasnya. (*/jai/ana)

 

 

TANJUNG SELOR – Puluhan warga SP 8-SP 9 Desa Tanjung Buka, Kecamatan Tanjung Palas Tengah, Kabupaten Bulungan mulai pagi  bergotong-royong membangun jembatan darurat secara swadaya, Minggu (6/12).

Ketua RT 33  SP 9, Agus Wahyudi mengatakan,perbaikan jembatan merupakan swadaya warga SP8-SP9 ditambah bantuan dari pemerintah desa berupa papan dan pohon nibung.

“Kalau swadaya warga  belum dihitung berapa dana yang terkumpul. Yang jelas hari ini (kemarin, Red) kita juga mendapatkan bantuan dana dari komunitas Rp 5.390.000,” kata Iwan saat ditemui di lokasi, Minggu (6/12).

Pembangunan jembatan darurat dinilai warga mendesak. Karena jika harus  menunggu pemerintah dikhawatirkan butuh waktu lama  bisa diperbaiki.

“Jadi, warga memilih membangun jembatan darurat,” ujarnya.

Apalagi sejak ambruk, Senin (16/11), mobilitas warga hanya bisa mengandalkan jalur sungai menggunakan perahu ketinting. Artinya untuk jalur darat mati total, karena sudah tidak ada akses jembatan.

“Mahal juga kalau pakai ketinting, sampai ke tambangan saja Rp 50 ribu sampai Rp 100 ribu. Tetapi, tidak ada pilihan lain lagi, mau tidak mau kita harus bayar segitu. Jadi, betul-betul terisolir,” ungkapnya.

Baca Juga :  Pelaku Karhutla Terancam Pidana

Diperkirakan, jembatan daruat yang dibangun sepanjang 26 X 4 meter itu mampu bertahan 1 sampai 2 tahun. Tergantung pemakaian dan tua atau muda pohon nibung yang digunakan.

“Sekarang ini kita tinggal menunggu papan saja, kalau papan sudah ada dua hari jembatan sudah bisa digunakan. Jadi, kendala sekarang ini papan saja, karena papannya masih di dalam hutan,” ungkapnya.

Lebih lanjut dikatakan, ambruknya jembatan yang merupakan akses utama warga ke Kota Tanjung Selor ini bukan kali pertama terjadi, karena 2016 silam jembatan yang juga sudah pernah ambruk.

“Kalau pas air besar deras. Kalau sekarang ini kan air mati. Jadi, tidak begitu deras,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala BPBD Ali  Fatokah menyampaikan, awalnya opsi yang digunakan untuk akses penghubung menggunakan ponton. Namun, warga lebih memilih membangun jembatan darurat.

“Sudah kita ukur, panjang jembatan yang roboh itu kurang lebih 26 meter dan masih tersisa sekitar 26 meter,” ungkapnya.

Terpisah, Plt Kepala Bappeda-Litbang Bulungan, Iwan Sugianta mengatakan, untuk saat ini perbaikan secara permanen masih sulit. Kenapa?, karena anggaran 2020 sudah habis.

Baca Juga :  UNBK dan USBN Digelar Serentak

“Kemungkinan tahun depan baru bisa dianggarkan,” bebernya.

Dalam hal ini dirinya juga sangat mengapresiasi langkah yang sudah dilakukan warga dengan membangun jembatan darurat. Apalagi jembatan ini sangat vital.

“Akses satu-satunya dari SP 9 ke SP 8 dan sebaliknya,” bebernya.

Diberitakan sebelumnya, Kepala Bidang Bina Marga pada DPU-PR Bulungan, H. Fakhrudin menyampaikan, sesuai perencanaan yang sudah ada untuk merealisasikan jembatan itu membutuhkan biaya yang cukup besar, Rp 35 miliar.

“Konstruksinya beton prategang, makanya biayanya besar,” bebernya.

Perencanaan pembangunan jembatan yang membentang sepanjang 50 sampai 60 meter ini sudah ada sejak dua tahun lalu. “Sudah lama, hanya saja karena kebutuhan anggaran tidak memungkinkan perencanaan itu belum bisa direalisasikan,” bebernya.

Untuk saat ini pihaknya mengaku tidak bisa bisa berbuat banyak. Karena tidak ada anggaran. “Kalau ada anggaran bisa saja kami realisasikan. Tetapi kan sekarang ini anggaran belum memungkinkan untuk merealisasikannya,” pungkasnya. (*/jai/ana)

 

 

Most Read

Artikel Terbaru

/