alexametrics
30.7 C
Tarakan
Friday, August 19, 2022

Targetkan PLTA Kayan Produksi Listrik di 2025

TANJUNG SELOR – Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yang direncanakan di aliran Sungai Kayan di Kecamatan Peso, belum dapat dimulai. Masih ada beberapa persiapan yang dilakukan oleh perusahaan konsorsium PT Kayan Hidro energi (KHE). “Mereka sekarang masih mencari modal investasi dari mitra mereka. Tetapi kalau izin sudah keluar, mestinya mereka sudah bisa bekerja,” kata Gubernur Kalimantan Utara (Kaltara), Dr. H. Irianto Lambrie, Minggu (6/12).

Sebelumnya konstruksi PLTA Sungai Kayan direncanakan bermula di akhir 2019. Namun pandemi yang melanda Tiongkok, sejumlah ahli belum bisa didatangkan oleh PT KHE. Adapun hal-hal yang berkaitan dengan sosial budaya dan ekonomi masyarakat perihal pembangunan PLTA itu akan berproses secara normal.

“Masyarakat menyampaikan bahwa sejak munculnya rencana pembangunan PLTA, tanaman kebunnya sudah tidak dihiraukan. Tumbuh begitu saja, tidak terpelihara karena dianggap akan tenggelam dengan kehadiran PLTA. Sementara rencana tempat relokasi cukup jauh dari sini, hampir 30 kilometer. Andaikata lahan dan tanamannya betul tenggelam, itu tentu perlu diantisipasi lebih awal,” sebutnya.

“Dan, itu akan berproses saja secara alami dan sesuai aturan. Yang jelas kalau investasi itu terealisasi, ini merupakan proyek strategis nasional yang akan bisa mendorong perkembangan ekonomi nasional dan Provinsi Kalimantan Utara sendiri,” imbuh Irianto.

Irianto pun optimistis ada solusi terbaik. “Masyarakat sejak awal sudah tahu. Bahkan tokoh-tokoh masyarakat di Desa Long Lejuh bersama PT KHE sudah pernah studi banding ke China, melihat PLTA di sana,” tutur Irianto.

Baca Juga :  Lampaui Target, Tapi Tak Signifikan

2025, PRODUKSI LISTRIK

PLTA Sungai Kayan, ditarget bisa memproduksi listrik pada tahun 2025. Irianto menjelaskan, listrik yang dihasilkan pada empat atau lima tahun akan datang berasal dari bendungan I. Kapasitasnya mencapai 900 megawatt. “Informasi dari PT KHE, proses konstruksi fisik bendungan I paling lambat 2021. Butuh empat sampai lima tahun agar satu bendungan selesai. Targetnya di 2025 kita sudah bisa hasilkan listrik dari sana,” kata Irianto.

Lanjutnya, produksi listrik akan berbanding lurus dengan pembangunan bendungan tahap selanjutnya. Yakni bendungan II sampai V. Apabila diakumulasikan, total target produksi mencapai 9.000 Megawatt dari PLTA Kayan saat terealisasi pada 2050.

“Lima bendungan itu dikerjakan bertahap. Satu bendungan dikerjakan empat sampai lima tahun. Setelah bendungan I selesai konstruksinya, tunggu satu tahun dulu untuk membangun bendungan II. Selisih satu tahun ini, karena harus mempersiapkan infrastruktur dari bendungan I ke bendungan II dan selanjutnya,” paparnya.

Diakuinya, tidak menampik jika progres fisik belum signifikan hingga saat ini. Kondisi tersebut dikarenakan PT KHE fokus menyelesaikan dokumen perizinan dengan berbagai pihak. “Progres fisik belum terlalu signifikan untuk tahun ini. Tapi dari sisi perizinan dan dokumen lain, pada prinsipnya sudah selesai semua,” ungkapnya.

Kendati demikian, di lapangan  tetap berjalan. Khususnya pada tahap konstruksi fisik. “Kalau di lapangan, kegiatan terus berjalan. Tidak ada yang stagnan. Meski belum signifikan, KHE kabarnya sudah persiapkan pembukaan jalan, land clearing, pematokan jalan, penyiapan gudang bahan peledak, dan akses ke lokasi PLTA,” sebutnya.

Baca Juga :  Bawaslu Perkuat SDM di Seluruh Struktur

Sementara itu, Direktur Operasional PT Kayan Hydro Energy (KHE), Roni menyebutkan, khusus untuk peledakan bebatuan besar sepanjang area bendungan, menjadi agenda terdekat. PT KHE sudah memesan bahan peledak dari Surabaya. Paket tersebut diestimasikan sampai Tanjung Selor bulan ini. “Bahan peledak lagi dikirim dari Surabaya. Bulan ini bisa sampai ke Tanjung Selor. Jadi bisa segera saya bawa ke lokasi,” paparnya.

Oleh karena itu, PT KHE juga mengejar izin dan rekomendasi penyimpanan bahan peledak. Mulai dari pihak kepolisian dan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). “Peledakannya sendiri belum. Saat gedung siap, diinspeksi oleh pihak kepolisian dan ESDM untuk memberi izin dan rekomendasi. Kalau sudah layak untuk penyimpanan, maka dikeluarkan izin dari Mabes Polri untuk gudang dan proses peledakan,” ujarnya.

Roni memprediksi tahap peledakan berlangsung akhir tahun atau awal 2021. Dengan begitu, pembangunan fisik bendungan dan akses ke lokasi segera berjalan. “Kalau prosesnya cepat, akhir tahun ini, bisa melakukan peledakan untuk akses jalan dari tempat ground breaking sampai melewati bendungan tadi,” ungkapnya.

Dari PT KHE pun akan melakukan sosialisasi perihal peledakan tersebut. “Dampak lingkungan dan sosial ke masyarakat tidak ada. Kan jarak ke pemukiman cukup jauh. Kita menggunakan sistem peledakan yang smooth, bukan peledakan di permukaan. Nanti juga ada sosialisasi sebelum peledakan,” pungkasnya. (dsh/lim)

TANJUNG SELOR – Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yang direncanakan di aliran Sungai Kayan di Kecamatan Peso, belum dapat dimulai. Masih ada beberapa persiapan yang dilakukan oleh perusahaan konsorsium PT Kayan Hidro energi (KHE). “Mereka sekarang masih mencari modal investasi dari mitra mereka. Tetapi kalau izin sudah keluar, mestinya mereka sudah bisa bekerja,” kata Gubernur Kalimantan Utara (Kaltara), Dr. H. Irianto Lambrie, Minggu (6/12).

Sebelumnya konstruksi PLTA Sungai Kayan direncanakan bermula di akhir 2019. Namun pandemi yang melanda Tiongkok, sejumlah ahli belum bisa didatangkan oleh PT KHE. Adapun hal-hal yang berkaitan dengan sosial budaya dan ekonomi masyarakat perihal pembangunan PLTA itu akan berproses secara normal.

“Masyarakat menyampaikan bahwa sejak munculnya rencana pembangunan PLTA, tanaman kebunnya sudah tidak dihiraukan. Tumbuh begitu saja, tidak terpelihara karena dianggap akan tenggelam dengan kehadiran PLTA. Sementara rencana tempat relokasi cukup jauh dari sini, hampir 30 kilometer. Andaikata lahan dan tanamannya betul tenggelam, itu tentu perlu diantisipasi lebih awal,” sebutnya.

“Dan, itu akan berproses saja secara alami dan sesuai aturan. Yang jelas kalau investasi itu terealisasi, ini merupakan proyek strategis nasional yang akan bisa mendorong perkembangan ekonomi nasional dan Provinsi Kalimantan Utara sendiri,” imbuh Irianto.

Irianto pun optimistis ada solusi terbaik. “Masyarakat sejak awal sudah tahu. Bahkan tokoh-tokoh masyarakat di Desa Long Lejuh bersama PT KHE sudah pernah studi banding ke China, melihat PLTA di sana,” tutur Irianto.

Baca Juga :  Diskan ‘Disuntik’ Anggaran Rp 2 Miliar

2025, PRODUKSI LISTRIK

PLTA Sungai Kayan, ditarget bisa memproduksi listrik pada tahun 2025. Irianto menjelaskan, listrik yang dihasilkan pada empat atau lima tahun akan datang berasal dari bendungan I. Kapasitasnya mencapai 900 megawatt. “Informasi dari PT KHE, proses konstruksi fisik bendungan I paling lambat 2021. Butuh empat sampai lima tahun agar satu bendungan selesai. Targetnya di 2025 kita sudah bisa hasilkan listrik dari sana,” kata Irianto.

Lanjutnya, produksi listrik akan berbanding lurus dengan pembangunan bendungan tahap selanjutnya. Yakni bendungan II sampai V. Apabila diakumulasikan, total target produksi mencapai 9.000 Megawatt dari PLTA Kayan saat terealisasi pada 2050.

“Lima bendungan itu dikerjakan bertahap. Satu bendungan dikerjakan empat sampai lima tahun. Setelah bendungan I selesai konstruksinya, tunggu satu tahun dulu untuk membangun bendungan II. Selisih satu tahun ini, karena harus mempersiapkan infrastruktur dari bendungan I ke bendungan II dan selanjutnya,” paparnya.

Diakuinya, tidak menampik jika progres fisik belum signifikan hingga saat ini. Kondisi tersebut dikarenakan PT KHE fokus menyelesaikan dokumen perizinan dengan berbagai pihak. “Progres fisik belum terlalu signifikan untuk tahun ini. Tapi dari sisi perizinan dan dokumen lain, pada prinsipnya sudah selesai semua,” ungkapnya.

Kendati demikian, di lapangan  tetap berjalan. Khususnya pada tahap konstruksi fisik. “Kalau di lapangan, kegiatan terus berjalan. Tidak ada yang stagnan. Meski belum signifikan, KHE kabarnya sudah persiapkan pembukaan jalan, land clearing, pematokan jalan, penyiapan gudang bahan peledak, dan akses ke lokasi PLTA,” sebutnya.

Baca Juga :  Jabatan Eselon III dan IV Akan Dipangkas

Sementara itu, Direktur Operasional PT Kayan Hydro Energy (KHE), Roni menyebutkan, khusus untuk peledakan bebatuan besar sepanjang area bendungan, menjadi agenda terdekat. PT KHE sudah memesan bahan peledak dari Surabaya. Paket tersebut diestimasikan sampai Tanjung Selor bulan ini. “Bahan peledak lagi dikirim dari Surabaya. Bulan ini bisa sampai ke Tanjung Selor. Jadi bisa segera saya bawa ke lokasi,” paparnya.

Oleh karena itu, PT KHE juga mengejar izin dan rekomendasi penyimpanan bahan peledak. Mulai dari pihak kepolisian dan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). “Peledakannya sendiri belum. Saat gedung siap, diinspeksi oleh pihak kepolisian dan ESDM untuk memberi izin dan rekomendasi. Kalau sudah layak untuk penyimpanan, maka dikeluarkan izin dari Mabes Polri untuk gudang dan proses peledakan,” ujarnya.

Roni memprediksi tahap peledakan berlangsung akhir tahun atau awal 2021. Dengan begitu, pembangunan fisik bendungan dan akses ke lokasi segera berjalan. “Kalau prosesnya cepat, akhir tahun ini, bisa melakukan peledakan untuk akses jalan dari tempat ground breaking sampai melewati bendungan tadi,” ungkapnya.

Dari PT KHE pun akan melakukan sosialisasi perihal peledakan tersebut. “Dampak lingkungan dan sosial ke masyarakat tidak ada. Kan jarak ke pemukiman cukup jauh. Kita menggunakan sistem peledakan yang smooth, bukan peledakan di permukaan. Nanti juga ada sosialisasi sebelum peledakan,” pungkasnya. (dsh/lim)

Most Read

Artikel Terbaru

/