- Inflasi September 2022: 1,04 Persen
- Inflasi Januari-September 2022: 4,18 Persen
- Inflasi September 2021-September 2022: 6,64 Persen
Lima Barang/Jasa Penyumbang Tertinggi Inflasi Kaltara September 2022
- BBM: 0,94 persen
- Beras 0,04 persen
- Sawi Hijau 0,04 persen
- Telur Ayam Ras 0,04 persen
- Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan 0,04 pernah
SUMBER: BPS KALTARA
TANJUNG SELOR - Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Utara (Kaltara) mencatat harga barang/jasa di Kaltara pada September 2022 mengalami inflasi sebesar 1,04 persen. Ini merupakan gabungan dari Kota Tarakan dan Tanjung Selor.
Plt. Kepala BPS Kaltara, Slamet Romelan mengatakan, ada beberapa kejadian yang memengaruhi atau memberikan dampak terhadap terjadinya inflasi di Kaltara pada September 2022, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. "Utamanya terkait dengan kenaikan harga BBM (bahan bakar minyak), baik yang bersubsidi maupun yang tidak bersubsidi," ujar Slamet kepada Radar Kaltara saat ditemui di Tanjung Selor, Senin (3/10).
Sementara kenaikan harga barang, kenaikan tarif transportasi dan lainnya, itu juga merupakan dampak atau efek domino dari kenaikan harga BBM. Artinya, kenaikan harga BBM ini memiliki andil yang sangat besar terhadap terjadinya inflasi.
Slamet menyebutkan, inflasi Kaltara ini dipengaruhi oleh kenaikan harga pada kelompok transportasi dengan besaran 8,10 persen, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya 0,48 persen, kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga 0,04 persen, serta kelompok pakaian dan alas kaki 0,02 persen.
"Sedangkan kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan harga adalah kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar -0,20 persen," sebutnya.
Kemudian untuk kelompok pengeluaran yang memiliki andil dominan terhadap inflasi Kaltara meliputi kelompok transportasi sebesar 1,04 persen, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya 0,04 persen, kelompok peralatan, perlengkapan dan pemeliharaan rutin rumah tangga 0,02 persen, serta kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga 0,01 persen. Sementara kelompok pengeluaran yang dominan terhadap andil deflasi adalah kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar -0,06 persen.
Disebutkannya, lima jenis barang/jasa penyumbang tertinggi inflasi di Kaltara meliputi BBM 0,94 persen, beras 0,04 persen, sawi hijau 0,04 persen, telur ayam ras 0,04 persen, serta angkutan sungai, danau dan penyeberangan 0,04 pernah. "Sedangkan lima penyumbang deflasi di Kaltara terdiri dari cabai rawit -0,16 persen, bawang merah -0,08 persen, daging ayam ras -0,05 persen, ikan bandeng/ikan bolu -0,02 persen dan emas perhiasan -0,02 persen," bebernya.
Adapun inflasi tahun kalender Kaltara (gabungan Tarakan dan Tanjung Selor) sebesar 4,18 persen dan inflasi tahun ke tahun sebesar 6,46 persen. Untuk Kota Tarakan pada September mengalami inflasi 0,97 persen, inflasi tahun kalender 3,43 persen dan inflasi tahun ke tahun 6,18 persen.
"Sedangkan inflasi September pada Tanjung Selor sebesar 1,32 persen, inflasi tahun kalender sebesar 7.16 persen dan inflasi tahun ke tahun sebesar 8,43 persen," sebutnya.
Namun, pihaknya melihat dari pemerintah daerah telah melakukan berbagai upaya preventif, baik dalam bentuk menyalurkan atau pendistribusian barang maupun memproduksi sendiri seperti melakukan gerakan menanam cabai.
Terpisah, Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tito Karnavian menyebutkan bahwa kenaikan harga BBM ini sudah diprediksi akan mempengaruhi inflasi. Namun, ia mengatakan masing-masing daerah diyakini bisa mengendalikan inflasi.
"Kenaikan harga BBM jadi faktor penyebab kenaikan inflasi. Di sini pemerintah daerah dan BPS harus melihat secara detail apa yang menjadi penyebab tingginya inflasi ini. Daerah, baik provinsi maupun kabupaten/kota harus mengendalikan inflasi ini," ungkapnya. (iwk/eza) Editor : Azwar Halim