TANJUNG SELOR – Indonesia termasuk wilayah yang rawan terjadi gempa. Hal itu diungkapkan Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pusat, Dwikorita Karnawati belum lama ini. Lantas bagaimana dengan Kaltara?
Kepala BMKG Tanjung Harapan, Muhammad Sulam Khilmi memastikan, Kalimantan Utara (Kaltara) masih tergolong aman.Ia menjelaskan, dalam pola lintasan potensi gempa, Kaltara masih masuk dalam lintasan tiga. Artinya, potensi untuk terjadi gempa sangat kecil sekali. Berbeda dengan katagori dua dan satu, potensi untuk terjadinya gempa selalu ada. Lanjutnya lagi, untuk wilayah katagori dua yaitu Sulawesi bagian utara hingga Papua. Sementara itu, untuk katagori lintasan satu yang potensi gempa yaitu Sumatra hingga Nusa Tenggara Timur (NTT).
“Tapi bukan berarti di Kaltara potensi gempa itu tidak ada. Tetap ada, karena setiap daerah itu selalu memiliki potensi terjadi gempa,” ujarnya kepada media ini, Selasa (12/9).
Hanya saja lanjutnya, pengumpulan energi pada lintasan tiga sangat lama dibandingkan dengan daerah yang masuk yang masuk dalam lintasan satu dan dua.
“Kalau dalam lintasan satu itu bisa saja dalam waktu setahun energi gempa sudah terkumpul. Tapi kalau kita di Kaltara akan membutuhkan waktu bertahun-tahun,” jelasnya.
Sementara, untuk kabupaten/kota yang ada di Kaltara, Sulam tidak dapat menyampaikan daerah mana saja yang sangat rawan terjadi gempa.
“Tapi selama ini yang sering terjadi di perairan Sulawesi yang bersebelahan dengan Kota Tarakan yang menjadi hiposentrum atau pusat gempanya,” ujarnya.
Begitu juga negara perbatasan Malaysia, itu juga menjadi titik hiposentrum. Hal itu tentunya dapat menguncang daerah Kabupaten Nunukan dan sekitaranya.
“Jadi selama ini yang terjadi hanya seperti itu,” lanjutnya lagi.
Diberitakan sebelumnya, Kepala BMKG Tanjung Harapan Muhammad Sulam Khilmi mengatakan, lebih dari 200 stasiun yang tersebar di seluruh Indonesia, setidaknya ada sebanyak 175 sensor gempa dan 130 alat ukur air muka laut (tide gauge). Namun belum tersedia bagi Bulungan.
“Jadi selama ini kami belum memiliki server tersebut,” ungkapnya.
Lanjut dikatakan Khilmi, memang sebenarnya hal tersebut perlu dijadikan perhatian bersama. Sebab mengingat alat-alat tersebut akan sangat berguna dalam melakukan deteksi dini hal-hal yang tidak diduga-duga. “Karena belum ada, sejauh ini kami hanya menerima informasi dari stasiun lainnya, seperti Tarakan dan Balikpapan, yang merupakan server terdekat,” sebutnya.
Lanjut Khilmi katakan, server terdekat tersebut yang akan terus mengirimkan potensi apa saja yang akan terjadi, utamanya gempa bumi dan tsunami. “Hal ini tentu juga banyak membantu kami dan juga saling bertukar informasi setiap harinya secara cepat,” ujar Khilmi.
“Bahkan pertukaran informasi secara internasional juga dapat dilakukan, hanya dengan waktu kurang lebih 3 jam saja,” sambungnya.
Namun pada dasarnya, jika memang ada potensi gempa hingga tsunami, tentu stasiun metrologi hingga BMKG lainnya akan langsung memberikan peringatan langsung kepada masyarakat. Sehingga ia katakan, masalah server tersebut tidaklah terlalu dipermasalahkan. “Sebab masih bisa di-cover oleh Tarakan maupun Balikpapan,” sebutnya.
Meski demikian, pihaknya akan tetap berupaya mengajukan atau penambahan server. Utamanya ia katakan yang akan digunakan untuk mendeteksi gempa bumi untuk wilayah Bulungan. “Memang kami memiliki kendala untuk bisa menambah server, utamanya keterbatasan anggaran yang kami miliki, tapi kami akan berupaya,” pungkasnya. (*/jai/zia)
Editor : Muhammad Erwinsyah