
TANJUNG SELOR – Pemkab Bulungan mendorong penguatan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana melalui sosialisasi dan pembentukan desa/kelurahan tangguh bencana (destana) di Kecamatan Tanjung Palas, Rabu (4/11). Ini untuk membangun kesadaran serta kemampuan masyarakat dalam mengantisipasi dan mengurangi risiko bencana sejak dini.
Wakil Bupati (Wabup) Bulungan, Kilat mengatakan, sejumlah potensi bencana perlu menjadi perhatian bersama, mulai dari banjir, tanah longsor, angin kencang, kebakaran permukiman hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Menurutnya, berbagai ancaman tersebut tidak hanya membahayakan keselamatan masyarakat, tetapi juga dapat mengganggu aktivitas sosial dan ekonomi.
“Penanggulangan bencana tidak boleh hanya dipahami sebagai tindakan ketika bencana telah terjadi. Upaya ini harus dimulai sejak dini melalui pencegahan, pengurangan risiko, peningkatan kesiapsiagaan serta pembangunan budaya sadar bencana di tengah masyarakat,”kata Kilat kepada Radar Kaltara, Rabu (4/11).
Dijelaskan, keberadaan Destana menjadi salah satu pendekatan strategis untuk memberdayakan masyarakat agar mampu mengenali ancaman, memahami kerentanan, serta mengidentifikasi potensi dan sumber daya yang dimiliki wilayahnya. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menjadi penerima bantuan saat bencana terjadi, tetapi juga berperan aktif sebagai pelaku utama dalam upaya pengurangan risiko dan penanggulangan bencana.
“Ada sejumlah hal yang harus diperhatikan dalam membangun Destana,” ungkapnya.
Pertama, meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap potensi dan risiko bencana, termasuk mengenali wilayah rawan, kelompok rentan serta jalur dan lokasi evakuasi yang aman. Kedua, memperkuat kelembagaan dan partisipasi masyarakat. Pembentukan Destana harus melibatkan seluruh unsur, mulai dari pemerintah desa, perangkat RT, tokoh masyarakat, tokoh agama, pemuda, perempuan, relawan hingga kelompok masyarakat lainnya.
“Penanggulangan bencana harus menjadi tanggung jawab bersama, bukan hanya tugas pemerintah atau BPBD. Karena itu, keterlibatan seluruh unsur masyarakat sangat diperlukan,” tegasnya.
Ketiga, membangun sistem kesiapsiagaan dan komunikasi kebencanaan. Masyarakat perlu memahami sistem peringatan dini, prosedur evakuasi, pertolongan pertama, serta mekanisme penyampaian informasi ketika terjadi keadaan darurat. Selain itu, edukasi dan simulasi kebencanaan juga harus dilakukan secara berkelanjutan.
“Melalui pelatihan dan simulasi evakuasi, masyarakat diharapkan tidak panik serta mengetahui langkah yang harus dilakukan untuk melindungi diri, keluarga dan lingkungan ketika bencana terjadi,” harapnya.
Kilat juga mengingatkan agar pembentukan destana tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi. Perlu ada tindak lanjut berupa penyusunan rencana aksi, penguatan kapasitas relawan, pemetaan risiko, serta integrasi program pengurangan risiko bencana ke dalam perencanaan pembangunan desa dan kelurahan.



