alexametrics
29.7 C
Tarakan
Wednesday, August 17, 2022

Tiga Rekor MURI Diraih saat Ilau dan Mubes Dayak Agabag Digelar

NUNUKAN – Tiga Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) diraih saat Pesta Ilau dan Musyawarah Besar (Mubes) Dayak Agabag IX yang dilaksanakan di Desa Binter, Kecamatan Lumbis Ogong, Selasa (12/7). Pesta adat yang dilaksanakan setiap 4 tahun sekali ini tercatat sudah berjalan 9 kali.

Bupati Nunukan Hj. Asmin Laura Hafid. SE. MM Ph.D menyampaikan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nunukan sangat mengapresiasi atas pelaksanaan Pesta Ilau dan Mubes Dayak Agabak IX. Hal ini merupakan bentuk nyata pelestarian budaya yang ada di Indonesia khususnya Nunukan.

“Pemda mengapresiasi pesta adat yang menampilkan budaya. Ini bukti melestarikan kebudayaan,” ucap Hj. Asmin Laura Hafid.

Dan yang menambah keistimewaan pelaksanaan Pesta Ilau dan Mubes Dayak Agabag yakni dikukuhkan 3 rekor Muri atas karya Budaya Dayak Agabag kepada 7 lembaga Adat. Pertama, melantunkan kukuy Dayak Agabag dengan peserta terbanyak 1.000 orang masyarakat hukum adat Dayak Agabag. Kedua, hukum adat Dolop terbanyak dalam waktu 50 tahun. Terakhir sajian masakan Iluy dalam kuali terbanyak.

Baca Juga :  Nunukan Catat Kematian Pertama karena Covid-19 di 2022

Apalagi, momen ini selain menampilkan berbagai seni dan budaya khas Dayak Agabag, juga dilaksanakan sejumlah kegiatan sosial. Sehingga, dinilai lebih meriah, menarik dan memberi warna tersendiri.

BERBUDAYA: Bupati Nunukan Hj. Asmin Laura Hafid. SE. MM Ph.D saat memukul gong menandakan dibukanya Pesta Ilau dan Musyawarah Besar (Mubes) Dayak Agabag IX.(Foto: Prokompim)

“Kegiatan-kegiatan seperti ini adalah musyawarah besar, musyawarah adat, tapak tilas perjuangan dan peradaban suku Dayak Agabag. Dan diwarnai dengan pemberian kuliah umum, dialog publik, bahkan sampai pemecahan rekor MURI merupakan inovasi-inovasi baru yang membuat Ilau kali ini tidak sama dengan sebelumnya,” jelasnya.
Untuk itu, Pemkab Nunukan sangat mengapresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh panitia dan masyarakat yang terlibat langsung maupun tidak langsung. Sebab atas kerja keras semuanya sehingga acara Ilau Dayak Agabag dapat terselenggara dengan baik.

“Kami atas nama Pemerintah Daerah Kabupaten Nunukan menyampaikan terima kasih atas terselenggaranya acara ini. Mudah-mudahan semua berjalan dengan baik. Mohon doa restu nya agar apa yang sudah kami cita-citakan dapat terlaksana sesuai harapan masyarakat,” tambahnya.

Baca Juga :  Alhamdulillah, 52 Orang Dinyatakan Sembuh dari Covid-19

Pesta Ilau berlangsung seharian. Kemudian, dilanjutkan dengan Mubes Masyarakat Agabag yang berlangsung mulai 11-15 Juli, di Desa Binter, Kecamatan Lumbis Ogong. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat persaudaraan masyarakat adat Agabag. Selain itu momen ini juga untuk membentuk kepengurusan Dewan Adat Agabag baru di semua tingkatan, dari desa sampai provinsi.

Untuk diketahui, etnis Dayak Agabag tersebar di Kecamatan Lumbis, Lumbis Ogong, Sebuku, Sembakung dan Sembakung Atulai hingga ke wilayah Sabah, Malaysia.

Ilau atau Irau adalah bahasa Dayak untuk pesta besar atau festival. Acara Ilau, selayaknya pesta, adalah sebuah kegembiraan yang diisi dengan nyanyian dan tarian daerah Agabag. (akz/har)

NUNUKAN – Tiga Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) diraih saat Pesta Ilau dan Musyawarah Besar (Mubes) Dayak Agabag IX yang dilaksanakan di Desa Binter, Kecamatan Lumbis Ogong, Selasa (12/7). Pesta adat yang dilaksanakan setiap 4 tahun sekali ini tercatat sudah berjalan 9 kali.

Bupati Nunukan Hj. Asmin Laura Hafid. SE. MM Ph.D menyampaikan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nunukan sangat mengapresiasi atas pelaksanaan Pesta Ilau dan Mubes Dayak Agabak IX. Hal ini merupakan bentuk nyata pelestarian budaya yang ada di Indonesia khususnya Nunukan.

“Pemda mengapresiasi pesta adat yang menampilkan budaya. Ini bukti melestarikan kebudayaan,” ucap Hj. Asmin Laura Hafid.

Dan yang menambah keistimewaan pelaksanaan Pesta Ilau dan Mubes Dayak Agabag yakni dikukuhkan 3 rekor Muri atas karya Budaya Dayak Agabag kepada 7 lembaga Adat. Pertama, melantunkan kukuy Dayak Agabag dengan peserta terbanyak 1.000 orang masyarakat hukum adat Dayak Agabag. Kedua, hukum adat Dolop terbanyak dalam waktu 50 tahun. Terakhir sajian masakan Iluy dalam kuali terbanyak.

Baca Juga :  Nunukan Catat Kematian Pertama karena Covid-19 di 2022

Apalagi, momen ini selain menampilkan berbagai seni dan budaya khas Dayak Agabag, juga dilaksanakan sejumlah kegiatan sosial. Sehingga, dinilai lebih meriah, menarik dan memberi warna tersendiri.

BERBUDAYA: Bupati Nunukan Hj. Asmin Laura Hafid. SE. MM Ph.D saat memukul gong menandakan dibukanya Pesta Ilau dan Musyawarah Besar (Mubes) Dayak Agabag IX.(Foto: Prokompim)

“Kegiatan-kegiatan seperti ini adalah musyawarah besar, musyawarah adat, tapak tilas perjuangan dan peradaban suku Dayak Agabag. Dan diwarnai dengan pemberian kuliah umum, dialog publik, bahkan sampai pemecahan rekor MURI merupakan inovasi-inovasi baru yang membuat Ilau kali ini tidak sama dengan sebelumnya,” jelasnya.
Untuk itu, Pemkab Nunukan sangat mengapresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh panitia dan masyarakat yang terlibat langsung maupun tidak langsung. Sebab atas kerja keras semuanya sehingga acara Ilau Dayak Agabag dapat terselenggara dengan baik.

“Kami atas nama Pemerintah Daerah Kabupaten Nunukan menyampaikan terima kasih atas terselenggaranya acara ini. Mudah-mudahan semua berjalan dengan baik. Mohon doa restu nya agar apa yang sudah kami cita-citakan dapat terlaksana sesuai harapan masyarakat,” tambahnya.

Baca Juga :  Pasca Right Issue, CAR BRI Solid di 24,54%, Kemampuan Tumbuh Berkelanjutan Semakin Kuat

Pesta Ilau berlangsung seharian. Kemudian, dilanjutkan dengan Mubes Masyarakat Agabag yang berlangsung mulai 11-15 Juli, di Desa Binter, Kecamatan Lumbis Ogong. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat persaudaraan masyarakat adat Agabag. Selain itu momen ini juga untuk membentuk kepengurusan Dewan Adat Agabag baru di semua tingkatan, dari desa sampai provinsi.

Untuk diketahui, etnis Dayak Agabag tersebar di Kecamatan Lumbis, Lumbis Ogong, Sebuku, Sembakung dan Sembakung Atulai hingga ke wilayah Sabah, Malaysia.

Ilau atau Irau adalah bahasa Dayak untuk pesta besar atau festival. Acara Ilau, selayaknya pesta, adalah sebuah kegembiraan yang diisi dengan nyanyian dan tarian daerah Agabag. (akz/har)

Most Read

Artikel Terbaru

/