alexametrics
26 C
Tarakan
Monday, August 8, 2022

Angka Stunting Kaltara Lebih Rendah dari Nasional

TANJUNG SELOR – Per Juli 2022, berdasarkan data rutin yang diinput melalui aplikasi elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Balita Berbasis Masyarakat (e-PPGMB) tercatat, angka prevalensi stunting (anak usia 0-56 bulan) di Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) mencapai angka 16 persen, atau sebanyak 1.248.

Gubernur Kaltara, Drs. H. Zainal A. Paliwang S.H., M.Hum menyebutkan, angka tersebut jauh lebih rendah dari prevalensi nasional yakni 18,4 persen. Di mana data rutin perkembangan stunting lewat e-PPGMB ini diinput oleh kader posyandu dan dibantu puskesmas setempat berdasarkan hasil penimbangan.

Hanya saja, data yang diinput melalui aplikasi ini belum dilakukan secara keseluruhan.

“Data yang diinput ke dalam data base e-PPGMB belum secara keseluruhan, atau baru sekitar 30 hingga 40 persen. Data prevalensi dapat menjadi lebih rendah atau lebih tinggi apabila data balita telah diinput secara menyeluruh,” kata Gubernur, Rabu (3/8).

Gubernur berharap ke depan data yang diinput bisa mencapai 90 persen, dengan begitu kepercayaan terhadap data akan jauh lebih baik. Sehingga tidak ada keraguan, stunting ini naik atau turun.

Baca Juga :  SOA Penumpang Dialokasikan Rp 14 M

“Saya menginstruksikan kepada jajaran Dinas Kesehatan untuk terus mendorong agar kader, pengelola puskesmas, termasuk lintas program sektor yang di desa untuk rutin menginput ke aplikasi yang selama ini masih dibantu oleh pengelolan gizi,” tuturnya.

Kepala Dinas Kesehatan Kaltara, Usman mengatakan, jika melihat gambaran sementara angka prevalensi stunting di Kaltara yakni sebesar 16 persen, memang lebih rendah dibanding target nasional di tahun 2022, sebesar 18,4 persen.

Hanya saja menurutnya, akan ada survei status gizi lainnya ke depan. Hal tersebut sebagai perbandingan apakah angka prevalensi stunting di Kaltara turun atau naik, rendah atau bahkan lebih tinggi jika dibandingkan target nasional.

“Ya, kita berharap angkanya bisa lebih rendah dari nasional, bisa konsisten di angka 16 persen, sehingga target Kaltara di 2024 bisa menekan angka stunting sebesar 14 persen bisa tercapai,” katanya.

Baca Juga :  Berikan Kemudahan Pelayanan Kepada Konsumen, Astra Motor Kaltim 1 Hadirkan Layanan Honda Care

Ada banyak faktor terjadinya stunting. Menurut Usman, salah satunya masalah kemiskinan. Namun khusus di Kaltara, yang lebih menonjol adalah kurangnya pengetahuan masyarakat tentang gizi.

Stunting, lanjut Usman, adalah masalah kompleks. Dan tak cukup hanya melalui bidang kesehatan saja, semua pihak harus ikut dalam mencegah stunting.

“Ini harus melibatkan lintas sektor, bukan hanya bidang kesehatan saja. Misalnya terkait akses pangan bergizi, ada Dinas Pertanian. Masalah penyakit infeksi menyebabkan banyak anak sakit karena faktor lingkungan dan akses air bersih, itu ada Dinas PU. Lalu, ada juga Disnaker, biar ekonomi keluarga baik,” terangnya.

Usman menjelaskan bahwa langkah yang perlu dilakukan adalah mempersiapkan calon ibu sejak dini. Misalnya, sejak masa remaja, setiap perempuan jangan sampai menderita anemia, kurang gizi dan kurang energi kronik.

“Ini agar ketika nanti menjadi ibu, bisa sehat dan memiliki kehamilan yang baik dan dapat melahirkan bayi yang sehat,” tuntasnya. (dkisp)

TANJUNG SELOR – Per Juli 2022, berdasarkan data rutin yang diinput melalui aplikasi elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Balita Berbasis Masyarakat (e-PPGMB) tercatat, angka prevalensi stunting (anak usia 0-56 bulan) di Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) mencapai angka 16 persen, atau sebanyak 1.248.

Gubernur Kaltara, Drs. H. Zainal A. Paliwang S.H., M.Hum menyebutkan, angka tersebut jauh lebih rendah dari prevalensi nasional yakni 18,4 persen. Di mana data rutin perkembangan stunting lewat e-PPGMB ini diinput oleh kader posyandu dan dibantu puskesmas setempat berdasarkan hasil penimbangan.

Hanya saja, data yang diinput melalui aplikasi ini belum dilakukan secara keseluruhan.

“Data yang diinput ke dalam data base e-PPGMB belum secara keseluruhan, atau baru sekitar 30 hingga 40 persen. Data prevalensi dapat menjadi lebih rendah atau lebih tinggi apabila data balita telah diinput secara menyeluruh,” kata Gubernur, Rabu (3/8).

Gubernur berharap ke depan data yang diinput bisa mencapai 90 persen, dengan begitu kepercayaan terhadap data akan jauh lebih baik. Sehingga tidak ada keraguan, stunting ini naik atau turun.

Baca Juga :  Kaltara Provinsi Pertama Terapkan Resiko Terintegrasi

“Saya menginstruksikan kepada jajaran Dinas Kesehatan untuk terus mendorong agar kader, pengelola puskesmas, termasuk lintas program sektor yang di desa untuk rutin menginput ke aplikasi yang selama ini masih dibantu oleh pengelolan gizi,” tuturnya.

Kepala Dinas Kesehatan Kaltara, Usman mengatakan, jika melihat gambaran sementara angka prevalensi stunting di Kaltara yakni sebesar 16 persen, memang lebih rendah dibanding target nasional di tahun 2022, sebesar 18,4 persen.

Hanya saja menurutnya, akan ada survei status gizi lainnya ke depan. Hal tersebut sebagai perbandingan apakah angka prevalensi stunting di Kaltara turun atau naik, rendah atau bahkan lebih tinggi jika dibandingkan target nasional.

“Ya, kita berharap angkanya bisa lebih rendah dari nasional, bisa konsisten di angka 16 persen, sehingga target Kaltara di 2024 bisa menekan angka stunting sebesar 14 persen bisa tercapai,” katanya.

Baca Juga :  Tingkatkan Kualitas Pariwisata, Pemprov Gandeng Poltek Pariwisata Makassar

Ada banyak faktor terjadinya stunting. Menurut Usman, salah satunya masalah kemiskinan. Namun khusus di Kaltara, yang lebih menonjol adalah kurangnya pengetahuan masyarakat tentang gizi.

Stunting, lanjut Usman, adalah masalah kompleks. Dan tak cukup hanya melalui bidang kesehatan saja, semua pihak harus ikut dalam mencegah stunting.

“Ini harus melibatkan lintas sektor, bukan hanya bidang kesehatan saja. Misalnya terkait akses pangan bergizi, ada Dinas Pertanian. Masalah penyakit infeksi menyebabkan banyak anak sakit karena faktor lingkungan dan akses air bersih, itu ada Dinas PU. Lalu, ada juga Disnaker, biar ekonomi keluarga baik,” terangnya.

Usman menjelaskan bahwa langkah yang perlu dilakukan adalah mempersiapkan calon ibu sejak dini. Misalnya, sejak masa remaja, setiap perempuan jangan sampai menderita anemia, kurang gizi dan kurang energi kronik.

“Ini agar ketika nanti menjadi ibu, bisa sehat dan memiliki kehamilan yang baik dan dapat melahirkan bayi yang sehat,” tuntasnya. (dkisp)

Most Read

Artikel Terbaru

/