Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Sensasi Mendaki Malam Hari di Gunung Rego, Tanjung Palas Utara

Radar Tarakan • Jumat, 9 Mei 2025 | 12:54 WIB
TERBAYARKAN: Penulis (berdiri, kanan) bersama kelompok pendaki yang sama-sama bermalam di Gunung Rego, Tanjung Palas Utara, Bulungan, Kaltara, pada sabtu (3/5) malam.
TERBAYARKAN: Penulis (berdiri, kanan) bersama kelompok pendaki yang sama-sama bermalam di Gunung Rego, Tanjung Palas Utara, Bulungan, Kaltara, pada sabtu (3/5) malam.

Ini kali ketiga aku mendaki Gunung Rego, gunung dengan ketinggian ‘hanya’ 481 mdpl. Meskipun tidak setinggi gunung-gunung besar di Jawa, Rego selalu menawarkan tantangan. Untuk sensasi berbeda, aku bersama rekan pendaki lainnya, Herman, Lia, Amita, dan Reza- memilih pendakian malam.

Nur Aeni, Bulungan

PETANG belum sepenuhnya gelap saat kami memulai perjalanan. Jarum jam nyaris tegak lurus menuju pukul enam sore, saat motor kami mulai menggilas jalan tanah di tengah hamparan perkebunan sawit di wilayah Karang Agung, Tanjung Palas Utara, Sabtu (3/5) lalu.

Becek dan licin. Lumpur membuat motor kerap oleng karena ban terperosok. Tawa dan keluhan bersahutan, menandai awal pendakian yang jauh dari kata nyaman. Tapi justru dari sinilah, pendakian malam ke Gunung Rego mulai menyusun ceritanya.
Bau hangus tercium samar, seperti ada sesuatu yang terbakar dari dalam mesin motor Lia.

“Koplingnya mulai selip,” gumam Lia, berusaha menjaga keseimbangan saat motor matic-nya nyaris tak mampu menanjak.
Sontak aku yang dibonceng Lia, melompat dari motor. Di tanjakan seperti ini, bukan cuma pendaki yang diuji. Kuda besi itu pun harus berjuang, seolah ikut mendaki bersama kami.

Karena motor tak lagi sanggup mendaki, kami akhirnya menyerah. Mesin dimatikan, dan kendaraan dititipkan di tepi kebun sawit, beralaskan tanah basah yang mulai menggelap.

“Mantap kali wey,” seru Reza yang baru pertama kali mendaki Gunung Rego.
Pukul 18.05, perjalanan dari kaki Gunung Rego menuju puncak resmi dimulai. Kami melangkah memasuki pintu rimba. Kanopi alami dari pepohonan yang menjulang, memayungi jalur tanah setapak. Awalnya, trek masih bersahabat. Landai, cukup memberi waktu tubuh menyesuaikan ritme.

Tapi jangan salah, meski tak curam, napas mulai tersengal sejak langkah pertama. Udara di rimba terasa pekat. Seakan kami berebut oksigen dengan akar, batang, dan daun yang tumbuh lebat di sepanjang jalur.
Bonus kenyamanan itu tak bertahan lama.

Setelah beberapa menit, kami disambut tanjakan curam yang menantang. Jalur berubah menjadi dinding tanah padat yang lembap dan licin, ditutupi guguran daun-daun kering yang mengelabui pijakan. Kami mulai merangkak, mencengkeram batang kayu dan akar untuk bertahan dalam gelap malam, sambil menahan napas yang makin pendek.

Langkah demi langkah, kami terus menanjak, tapi ritmenya tak lagi cepat. Kami lebih banyak berhenti, mengambil jeda pendek untuk mengatur napas dan menenangkan detak jantung.

Kami tidak ingin ambil risiko. Jalur makin menanjak, tubuh mulai kelelahan, istirahat pun jadi pilihan paling bijak malam itu.

“Setengah perjalanan lagi. Santai aja, kalau capek istirahat,” kata Herman lagi.
Perjalanan berlanjut, tiga jam kami menanjak dalam gelap. Selain trek terjal dan akar pohon mencuat, beberapa kali kami harus merangkak melewati batang pohon rebah.

“Sepertinya ada pendaki lain,” kata Amita. “Oh ada orang juga kah?” tanya Herman yang berjalan paling belakang sebagai sweeper.

Benar saja, beberapa tenda berdiri tenang diterpa angin malam. Kami disambut hangat oleh pendaki lain yang sudah lebih dulu tiba sejak jam empat sore. Mereka dari Tana Tidung dan Tanjung Selor. Kami pun bergegas menyiapkan tenda dan bekal untuk istirahat.

Di ketinggian 481 mdpl itu, rasa asing segera larut dalam kehangatan pertemanan sesama pendaki. Meski berbeda waktu sampai, tapi malam itu kami berbagi langit yang sama, di puncak Gunung Rego yang bersahaja namun penuh cerita.

“Bukan tentang seberapa tingginya gunung itu, tapi tentang bagaimana alam merendahkan ego dan meninggikan rasa syukurmu,” ucapku. (*)

 

Photo
Photo

Penulis adalah Freelance Traveler dan Ibu Rumah Tangga, berdomisili di Tanjung Selor, Bulungan

Editor : Azwar Halim
#Gunung Rego #mendaki #Tanjung Palas Utara #bulungan