Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Bukan Beijing atau Shanghai, Ini Kota dengan Populasi Terbesar di Tiongkok

Radar Tarakan • Rabu, 19 Maret 2025 | 14:53 WIB
KOTA MODERN: Radar Tarakan (depan, empat kiri) bersama Rombongan Kaltim Post Group, di tepian Sungai Yang Tze, Chongqing. FOTO: FUAD MUHAMMAD/KALTIM POST
KOTA MODERN: Radar Tarakan (depan, empat kiri) bersama Rombongan Kaltim Post Group, di tepian Sungai Yang Tze, Chongqing. FOTO: FUAD MUHAMMAD/KALTIM POST

Catatan Perjalanan Kaltim Post Group ke Negeri Tirai Bambu (4)

Indonesia dulu pernah punya program The New Bali. Yakni dengan merilis 10 destinasi wisata unggulan setiap tahun. Tiongkok pun melakukan itu. Bedanya, hanya satu destinasi prioritas setiap tahun untuk dipromosikan. Tahun 2024 lalu, prioritas itu adalah kota bernama Chongqing (dibaca congcing).

Jembatan dengan desain mirip Jembatan Kartanegara Tenggarong.
Jembatan dengan desain mirip Jembatan Kartanegara Tenggarong.

NUR RAHMAN, Chongqing

Rombongan kami tiba di Chongqing pada Jumat (14/2) siang, setelah penerbangan sekitar 2,5 jam dari Beijing. Suhu udara di kota ini antara 9 hingga 12 celcius. Lebih hangat dari kota sebelumnya, namun udaranya lebih lembap, karena hujan turun lebih banyak di sini.

Semua referensi tentang Chongqing sudah saya telusuri di internet sebelum ke sini. Seperti perihal statistik soal populasi yang ternyata paling besar di Tiongkok (31,9 juta jiwa tahun 2023), di atas Shanghai dan Beijing. Juga soal susunan jalanan kota yang membingungkan.

“Tapi tidak sepadat Shanghai dan Beijing. Itu karena Chongqing lebih luas,” kata Miss Pu, local guide kami, dalam bahasa Inggris.
Setelah jeda makan siang, destinasi pertama kami di Chongqing adalah Danzishi Old Street. Kawasan di pusat kota yang di dalamnya terdapat pusat bisnis, kuliner, hingga pemandangan Land Mark kota dengan infrastruktur yang sangat Modern.

Dari spot utama di Danzishi, kita bisa melihat landscape kota yang terdiri dari gedung-gedung tinggi, lalu lintas kapal di Sungai Yang Tze, hingga beberapa replika dari bangunan ikonik dunia.

“Di seberang sungai, terlihat bangunan mirip Marina Bay Sands yang ada di Singapura. Ada juga Hotel Sheraton Chongqing yang desainnya menyerupai Gedung Kembar Petronas di Malaysia,” kata Madeline Sophie, pemandu utama kami.

Namun tangkapan mata saya tertuju pada gedung dengan desain unik di tepian sungai Yang Tze. Yang ternyata adalah Teater Besar Chongqing. Konsepnya mirip Sydney Orchestra House di Australia.

“Bahkan di dekatnya juga ada Sydney Harbour Bridge. Jembatan yang juga desainnya diadaptasi oleh Jembatan Kartanegara di Tenggarong. Kalau soal adaptasi, Tiongkok memang totalitas,” kata saya kepada rombongan.

Dari Danzishi, kami bergeser tak jauh ke Sujiaba Trail Observation Deck. Infrastrutkur yang lagi-lagi sengaja dibangun untuk menikmatai lanskap kota Chongqing. Berupa jalan menanjak 300 meter dengan ribuan anak tangga.

Dari sini terlihat tiga sisi pemandangan Jembatan melingkat di atas Sungai Yangtze Caiyuanba dan Semenanjung Yuzhong di seberang sungai Yangtzhe, dalam satu sisi pandangan. Sehingga tersaji kombinasi antara kesan klasik kota tua dan modernisasi dengan gedung-gedung pencakar langit.

“Spotnya di atas yah. Untuk naik ada ekskalator. Tapi baru nyala jam 5 sore yah. Tapi untuk turun harus melewati ribuan anak tangga,” kata Madeline Sophie, menutup perjalanan kami hari itu, sebelum bergeser untuk makan malam dan kembali ke hotel.

Baca Juga: Jangan Remehkan Cuaca Beijing Awal Musim Semi, Kalau Nggak Mau Menderita!

Bagi kalian yang ingin ke Chongqing, berikut beberapa catatan referensi dari Radar Tarakan:

- Chongqing adalah kota di pegunungan, siapkan cukup stamina untuk selalu naik dan turun tangga

- Beda dengan Beijing yang kental sejarah dan kekaisaran, kebanyakan destinasi di Chongqing adalah visual modern sudut-sudut kota

- Destinasi wisata lainnya berupa bangunan kuno bersejarah, kota tua, taman kota, kebun binatang, hingga cagar alam berisikan tanaman langka

- Pusat oleh-oleh menjamur, kadang malah lebih murah dibanding Beijing

- Kuliner tak jauh beda dengan Beijing, tapi dengan rasa lebih pedas

- Saat kami berkunjung di Februari, hujan selalu turun, tapi suhu lebih bisa ditoleransi dibanding Beijing

- Waktu terbaik ke kota ini adalah pada akhir musim semi pada April dan Mei, karena bunga-bunga cantik sudah mekar sempurna dan suhu lebih hangat

Editor : Azwar Halim
#tiongkok #wisata #beijing #perjalanan #Kaltim Post Group #Catatan #shanghai