Catatan Perjalanan Kaltim Post Group ke Negeri Tirai Bambu (3)
Kita mungkin sering dengar cerita tentang Tiongkok yang katanya “jorok”. Bulan lalu, rasa penasaran kami atas tuduhan itupun terjawab.
NUR RAHMAN, Beijing
SETIBA di bandara, Tim Radar Tarakan sendiri sebenarnya masih tidak benar-benar percaya kalau Tiongkok itu jorok. Tapi ternyata, sistem sanitasi di Beijing Capital International Airport masih sangat baik.
“Tapi memang, ya, di bandara pun, toilet nggak ada semprotan airnya. Walaupun lebih bersih,” ujar Nugroho Pandu, editor Kaltim Post yang turut dalam rombongan ke Tiongkok, Februari lalu.
Ya, kebiasaan membasuh bagian anggota tubuh dengan air sesudah buang hajat memang tak berlaku di banyak negara. Persoalannya adalah, di Tiongkok, kebiasaan “tidak membasuh” juga berlaku di klosetnya.
Hal itu lazim kita jumpai di banyak tempat umum lain seperti lokasi wisata, pusat perbelanjaan tradisional, bahkan beberapa pusat perbelanjaan kelas menengah.
Gambarannya begini. Seperti di bandara tadi, toilet umum di Tiongkok tidak menyediakan water jet. Sebagai gantinya, tersedia tisu. Kadang ada di bilik toilet, kadang harus mengambil dari area wastafel.
“Makanya kalau BAB (buang air besar) lebih baik sedia air sendiri. Soalnya kalau lupa bawa, mau digosok pakai apa dong?,” kata Abdurrahman Amin, Pemimpin Redaksi Samarinda Pos.
Walaupun tidak tersedia air untuk bilas, aliran air untuk flush di kloset tidak pernah kami temui tidak berfungsi. Yang bikin sedih, kadang kondisi tombol atau tuasnya agak rusak, sehingga banyak yang meninggalkan kotorannya begitu saja.
“Flush-nya memang nggak rusak. Tapi banyak aja yang ninggalin ‘jejak’,” kata Fuad Muhammad, fotografer Kaltim Post, saat kami berkunjung di Forbidden City.
Keluhan yang sama juga disampaikan peserta trip yang lain, di tempat yang berbeda selama 3 hari kami mengitari Beijing. Baik di Summer Palace, Temple of Heaven, hingga The Great Wall of China.
Fenomena ini mengingatkan saya akan materi salah satu pertunjukan Standup Comedy dari Pandji Pragiwaksono tentang Shanghai. Disebutkannya, di toilet umum Tiongkok seperti ada kebiasaan, bahkan aturan tak tertulis, kalau menyiram sisa buang hajat, adalah tugas pengguna berikutnya.
Untuk umat muslim, situasi soal sanitasi tentu berkaitan juga dengan kebutuhan beribadah. Sebab, bagi umat muslim, baik buang air besar maupun kecil, tak boleh menyisakan bekas. Harus bersih tuntas.
“Repot kalau nggak ada air, atau pas tisunya habis. Mau sholat harus bersih-bersih dulu. Jadinya orang malas sholat kan,” kata Abdurrahman Amin.
Selain sanitasi, tantangan melaksanakan salat juga pada tak tersedianya tempat. Baik tempat untuk salat maupun untuk tempat wudhu. Dalam beberapa momen, saya menggunakan air di spray bottle untuk berwudhu.
“Sudahlah tempatnya tidak ada, nanya juga susah. Harus pakai Google Translate dulu,” ujar saya ke rombongan.
Selama sepekan di Tiongkok, terhitung saya pernah salat di ruang makan restoran dan di atas bus. Dan yang paling tak lazim menurut saya adalah saat salat di lorong mal, yang lokasinya diapit oleh tempat karaoke dan salon anjing.
Tantangan bagi traveler muslim di Tiongkok tak berhenti di situ. Jangan lupakan bahwa di negara ini daging dan olahan babi adalah favorit banyak orang.
Pada malam terakhir di Beijing, Rabu (14/2), pemandu membawa kami ke Atlet Resto, di kawasan arena Asian Games. Lokasinya di basement sebuah gedung bertingkat.
“Nanti hidangannya prasmanan yah Bapak-Ibu. Jadi bebas pilih mau ambil apa,” kata Miss Yang, local guide kami.
Saat menyambangi meja lauk, saya terkaget dengan stiker bertuliskan fork, pada wadah berisi sosis dan bacon. Beberapa peserta bahkan spontan tak jadi mengambil hidangan berat malam itu.
“Memang tempat hidangannya terpisah. Tapi kan masaknya di dapur yang sama, Mas,” kata Denok Windari, salah satu staf dari Kaltim Post.
Perihal makanan mengandung babi ini sebenarnya menjadi pertimbangan saya untuk memilih Tiongkok sebagai destinasi lagi nantinya. Sebab, nyaris tidak ada kode apapun untuk makanan halal dan nonhalal di sana.
“Saya sedikit tahu restoran yang tidak menjual daging babi. Tapi saya bisa pastikan, produk-produk umum seperti mi instan, ataupun makanan cepat saji bermerek sekalipun, itu hampir dapat dipastikan mengandung babi,” ungkap Miss Yang.
Terkait hal ini, tim Radar Tarakan membagi 5 tips untuk traveler muslim yang sedang berlibur di Tiongkok:
1. Bawa makanan instan atau makanan tahan lama dari Indonesia
2. Riset lebih dulu tentang destinasi kuliner halal
3. Jika terpaksa beli makanan, utamakan real food dan non-hewani
4. Untuk bersuci, selalu sedia air dalam botol atau spray
5. Sediakan alat yang cukup untuk salat di tempat umum
6. Sedia tisu basah dan kering
Editor : Azwar Halim