TARAKAN - Kondisi udara yang memburuk akibat kabut asap menjadi perhatian orang tua siswa. Pembelajaran tatap muka memang dinilai penting, tetapi keselamatan anak perlu menjadi pertimbangan ketika kualitas udara tidak mendukung aktivitas di sekolah.
Jumain, salah seorang orang tua siswa, mendukung penerapan belajar dari rumah (BDR) dengan catatan kegiatan belajar mengajar tetap dilaksanakan secara daring. Menurutnya, anak-anak tetap harus mendapatkan pembelajaran meskipun tidak datang langsung ke sekolah.
“Pembelajaran tatap muka memang baik, tetapi tidak tepat kalau dipaksakan dalam kondisi udara buruk,” ujarnya, Senin (19/10).
Menurutnya, pembelajaran daring dapat menjadi pilihan agar siswa tetap mengikuti kegiatan belajar tanpa harus terpapar kondisi udara buruk saat berangkat maupun beraktivitas di sekolah. Dengan demikian, proses pendidikan tetap berjalan sembari memperhatikan kesehatan anak.
Di sisi lain orang tua siswa lainnya Endah mengatakan, penerapan BDR tidak bisa diputuskan secara seragam karena setiap sekolah memiliki karakteristik dan kondisi berbeda. Sekolah perlu mempertimbangkan tingkat paparan asap, kondisi siswa, serta kemampuan orang tua mendampingi anak selama berada di rumah.
“Sekolah pasti punya banyak pertimbangan. Apakah nanti ketika BDR, orang tua bisa menggantikan peran itu? Ataukah kalau tidak BDR, justru anak-anak dibiarkan berkeliaran, malah itu lebih berbahaya,” tuturnya.
Ia menjelaskan, pengalihan pembelajaran ke rumah juga memiliki tantangan, terutama bagi siswa yang orang tuanya bekerja. Tanpa pengawasan, anak-anak berpotensi bermain di luar rumah dan tetap terpapar kabut asap.
“Ketika BDR, anak-anak justru main di luar rumah tanpa kontrol karena orang tuanya bekerja. Kalau di sekolah, mereka bisa dimasukkan di ruang kelas. Di ruang kelas relatif lebih aman daripada mereka keliling,” jelasnya. (zac/jnr)
Editor : Januriansyah RT