Ongkos Logistik Tinggi, Petambak Udang Kaltara Terbebani Biaya Produksi

Zakaria RT • Dipublikasikan Sabtu, 17 Oktober 2026 | 19:31 WIB
ILUSTRASI GENERATE AI
ILUSTRASI GENERATE AI

TARAKAN - Tingginya biaya pengiriman dan terbatasnya akses pupuk bersubsidi menjadi tantangan bagi petambak udang di Kalimantan Utara (Kaltara). Di tengah biaya operasional yang terus berjalan, harga jual udang masih bergantung pada permintaan pasar ekspor.

Kepala Bidang Budidaya Perikanan, Pengolahan dan Pemasaran pada Dinas Perikanan Tarakan, Husna Ersant Dirgantara mengatakan, pemerintah daerah tidak bisa menetapkan harga udang karena mengikuti mekanisme pasar internasional.

“Penentuan harga sangat bergantung pada permintaan pembeli di luar negeri. Pemerintah daerah tidak bisa mengunci harga pasar karena semuanya mengikuti mekanisme permintaan dan penawaran,” ujarnya, Jumat (16/10).

Menurut Ersant, perbedaan harga udang antardaerah juga dipengaruhi biaya produksi dan distribusi. Pengiriman dari Tarakan harus melalui Surabaya sebelum menuju negara tujuan ekspor. “Biaya pengiriman dari Tarakan bisa dua kali lipat lebih tinggi karena barang harus dikirim dulu ke Surabaya. Biaya logistik ini ikut memengaruhi harga beli perusahaan di tingkat petambak,” jelasnya.

Selain harga, petambak menghadapi kendala memperoleh pupuk bersubsidi. Sebagian petambak ber-KTP Tarakan, tetapi lokasi tambaknya berada di luar wilayah kota, seperti Kabupaten Bulungan. Kondisi tersebut menyulitkan proses verifikasi penerima subsidi.

Persyaratan luas lahan maksimal dua hektare juga dinilai belum sesuai dengan kondisi pertambakan di Kaltara yang rata-rata mencapai lima hingga 10 hektare. “Banyak petambak tidak memenuhi kriteria karena luas tambaknya melebihi batas yang ditentukan. Padahal, pupuk tetap dibutuhkan untuk mendukung kegiatan budidaya,” katanya.

Persoalan tersebut telah disampaikan kepada kementerian terkait. Ersant berharap Pemprov Kaltara dapat menjembatani penyelesaian agar aturan pupuk bersubsidi lebih sesuai dengan kondisi petambak setempat.

Di sisi lain, harga udang mulai menunjukkan pemulihan dibandingkan periode penurunan tajam sebelumnya. Namun, tekanan ekonomi global dan persaingan dari negara produsen lain masih memengaruhi pasar ekspor.

“Pasar Jepang, misalnya, cenderung beralih ke udang yang lebih murah. Kita juga menghadapi persaingan dari negara produsen seperti India dan Amerika Selatan. Peningkatan kualitas dan volume produksi perlu dibarengi upaya mengatasi tingginya biaya logistik serta kendala pupuk bersubsidi agar usaha pertambakan tetap berkelanjutan," tukasnya. (zac/jnr)

Editor : Januriansyah RT
tambak tradisional udang kaltara petambak