Kasus ISPA di Tarakan Naik, Pekan Terakhir Capai 777 Kasus

Zakaria RT • Dipublikasikan Senin, 12 Oktober 2026 | 21:42 WIB
NAIK: Adanya kabut asap akibat karhutla meningkatkan kasus ISPA di Tarakan. JANURIANSYAH/RADAR TARAKAN
NAIK: Adanya kabut asap akibat karhutla meningkatkan kasus ISPA di Tarakan. JANURIANSYAH/RADAR TARAKAN

TARAKAN - Peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Tarakan terjadi bersamaan dengan kondisi kabut asap yang kembali memburuk. Dinas Kesehatan (Dinkes) Tarakan mencatat jumlah kasus ISPA terus bertambah dalam empat pekan pemantauan, dari 481 kasus pada minggu ke-36 menjadi 777 kasus pada minggu ke-39 tahun 2026.

Kepala Bidang Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (P2P) Dinkes Tarakan, Rinny Faulina, SKM., M.Kes., mengatakan, kenaikan tersebut tercatat dalam laporan mingguan kewaspadaan dini yang digunakan untuk memantau penyakit berpotensi menimbulkan kejadian luar biasa (KLB).

“Kalau untuk laporan ISPA, dari laporan W2 mingguannya memang dari minggu ke-36 sampai di minggu ke-39 itu terjadi peningkatan kasus ISPA,” ujarnya, Senin (12/10).

Berdasarkan data yang disampaikan, pada minggu ke-36 tercatat 481 kasus. Jumlah itu meningkat menjadi 609 kasus pada minggu ke-37, kemudian 619 kasus pada minggu ke-38, hingga mencapai 777 kasus pada minggu ke-39. “Dari angka 400-an terakhir ke minggu ke-39 itu jadi 777 tadi,” katanya.

Kendati demikian, Dinkes Tarakan belum merinci sebaran kasus berdasarkan wilayah kerja puskesmas. Data tersebut masih perlu dipilah untuk mengetahui wilayah dengan jumlah kasus tertinggi.

“Ini saya belum memilah per puskesmasnya, mana wilayah yang tertinggi kasusnya. Data ini baru masuk, jadi kami belum menyiapkan rinciannya,” jelasnya.

Ia mengatakan, peningkatan kasus ISPA dapat dipengaruhi sejumlah faktor, termasuk kondisi kesehatan masyarakat dan paparan lingkungan. Warga yang sebelumnya memiliki riwayat gangguan pernapasan juga berpotensi mengalami perburukan ketika terpapar kondisi udara yang kurang baik.

“Mungkin ada yang memang punya riwayat ISPA, ataupun ada batuk pilek. Dengan kondisi cuaca yang begini, akhirnya memperparah kondisi mereka sehingga mengarah ke ISPA,” tuturnya.

Di tengah peningkatan kasus tersebut, Rinny mengingatkan masyarakat agar mengurangi aktivitas di luar rumah, terutama ketika kualitas udara berada pada kategori tidak sehat. Imbauan itu juga mengacu pada edaran wali kota yang telah diterbitkan sebelumnya.

“Imbauan kami seperti biasa, sesuai dengan edaran wali kota sebelumnya, masyarakat harus membatasi kegiatan di luar rumah,” katanya.

Jika terpaksa beraktivitas di luar ruangan, masyarakat dianjurkan menggunakan masker untuk mengurangi paparan polusi. Perhatian khusus juga diminta kepada kelompok rentan, seperti penderita asma, lansia, dan ibu hamil.

“Kalaupun terpaksa beraktivitas di luar rumah, harus menggunakan masker. Bagi penderita asma, lansia, dan ibu hamil supaya lebih memperhatikan kesehatannya dan rutin kontrol ke puskesmas,” ujarnya.

Selain membatasi aktivitas luar ruangan, masyarakat diminta memperbanyak konsumsi air putih dan tetap menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Dinkes Tarakan juga terus menyampaikan imbauan melalui media sosial puskesmas, grup WhatsApp, serta edukasi kepada masyarakat yang datang berobat.

Rinny mengakui, penggunaan masker belum sepenuhnya menjadi kebiasaan masyarakat. Sebagian warga masih terlihat berolahraga di luar rumah pada sore hari. Padahal, dampak paparan asap dapat berbeda pada setiap orang, bergantung pada kondisi kesehatan masing-masing.

“Ada yang rentan, sedikit saja asap mungkin sudah merasa sesak. Tapi ada juga yang imunnya bagus sehingga tidak terlalu berpengaruh,” ungkapnya.

Meski dampak langsungnya tidak selalu dirasakan setiap orang, paparan polusi udara secara berulang tetap perlu diwaspadai. Rinny menyebut kualitas udara Tarakan berdasarkan pembaruan yang dipantaunya pada Senin pagi masih berada di atas angka 100. “Saya lihat update terakhir pagi tadi masih di atas 100. Masih kondisinya tidak sehat,” tegasnya. (zac/jnr)

Editor : Januriansyah RT
karhutla tarakan kabut asap ispa