TARAKAN – Kondisi kekeringan dan kabut asap yang berlangsung lebih dari dua bulan mulai berdampak terhadap vegetasi di Kota Tarakan. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tarakan harus meningkatkan intensitas penyiraman tanaman di sejumlah taman dan median jalan.
Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran, Kerusakan Lingkungan Hidup dan Pengelolaan Keanekaragaman Hayati DLH Tarakan, Chaizir Zain mengatakan, kondisi cuaca membuat banyak tanaman mengalami kekeringan.
“Akibat kekeringan itu banyak tanaman yang kering. Jadi kami harus kerja ekstra untuk melakukan penyiraman,” ujarnya, Selasa (6/10).
Selain penanganan vegetasi, DLH juga meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak karhutla, kabut asap dan kekeringan. Menurut Chaizir, langkah tersebut telah ditindaklanjuti melalui regulasi daerah.
“Dari sisi regulasi, kita juga sudah menetapkan Surat Edaran Wali Kota, menindaklanjuti dari Surat Edaran Menteri terkait waspada akibat karhutla, kabut asap, kemudian kekeringan,” jelasnya.
Chaizir menyebut, kondisi yang berlangsung selama lebih dari dua bulan tersebut menjadi salah satu periode kabut asap dan kekeringan yang cukup panjang bagi Tarakan. Minimnya hujan juga mulai berpengaruh terhadap ketersediaan air.
“Rata-rata sungai di Tarakan ini kan sungai tadah hujan. Debit airnya berpengaruh terhadap intensitas hujan,” katanya.
Karena itu, antisipasi terhadap kondisi serupa dinilai tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga perlu dilakukan masyarakat. Terlebih, kondisi kekeringan dapat berdampak lebih luas apabila berlangsung dalam waktu panjang.
“Jadi memang antisipasi jangka panjang perlu disadari dan dilakukan masing-masing warga,” pungkasnya. (zac/jnr)
Editor : Januriansyah RT