TARAKAN – Kebakaran lahan di Kota Tarakan kembali terjadi di tengah kondisi lahan yang masih kering. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tarakan mencatat tiga kejadian kebakaran lahan sejak pertengahan pekan lalu hingga awal pekan ini, dengan total luasan terdampak mencapai sekitar delapan hektare.
Kepala Pelaksana BPBD Tarakan, Yonsep mengatakan, seluruh kejadian tersebut berada di wilayah Kelurahan Amal. Lokasi kebakaran yang berada di kawasan perkebunan juga mulai mendekati permukiman warga.
“Dari pertengahan minggu yang lalu dan masuk minggu ini itu ada tiga titik kebakaran dan itu lahan,” katanya, Selasa (6/10).
Dikatakannya, kondisi tersebut membuat penanganan harus dilakukan lebih cepat, terlebih api di lahan semak dapat mudah menjalar ketika tertiup angin. Petugas juga kerap menghadapi kendala akses menuju titik api.
“Memang kalau kecepatan kita mematikan di semak itu berbeda dengan hutan. Karena semak itu disertai dengan angin. Apalagi yang kayak di Amal, agak sulit,” ujarnya.
Dalam penanganan kebakaran di Amal, BPBD mendapat dukungan personel TNI Angkatan Laut, TNI Angkatan Darat serta pemadam kebakaran. Upaya pemadaman dilakukan secara bersama-sama untuk mencegah api meluas ke area lainnya.
Yonsep mengatakan, kebakaran lahan di Tarakan cenderung terjadi di wilayah timur dan utara. Salah satu faktornya adalah aktivitas masyarakat yang cukup banyak berada di kawasan perkebunan.
“Kalau di Tarakan Timur itu aktivitas orang lebih banyak di kebun. Kalau di Utara, ya dua itu saja, antara Utara dengan Timur,” katanya.
Dampak kebakaran tidak hanya berupa lahan yang terbakar. Sejumlah tanaman produktif milik warga juga ikut terdampak. Di Amal, tanaman pepaya dan cabai dilaporkan mengalami kerusakan.
“Kalau yang di Amal kemarin itu sudah tumbuh kebun pepaya sama lombok. Iya, layu,” ungkapnya.
Kondisi serupa terjadi di kawasan Sungai Kuli. Tanaman tahunan yang telah tumbuh cukup besar ikut terdampak akibat api yang menjalar dari lahan yang dibersihkan.
Yonsep menjelaskan, praktik pembersihan lahan dengan membakar tumpukan vegetasi menjadi salah satu hal yang perlu diwaspadai. Material yang sudah kering dapat menjadi sumber api dan memungkinkan kobaran berpindah ketika tertiup angin.
“Kalau caranya kita itu tradisional kan menumpukkan itu menjadi humus. Akhirnya kering, itu menjalar ke situ. Api itu bisa loncat,” jelasnya.
Salah satu kejadian bahkan disebut berkaitan dengan kelalaian pemilik kebun sendiri. Kebakaran tersebut menghanguskan sekitar 1,5 hektare lahan yang terdapat tanaman cabai.
“Yang kebunnya terbakar kemarin yang 1 hektare setengah itu yang berkaitan dengan tanaman cabai, itu karena kelalaian sendiri juga,” katanya.
Karena itu, BPBD meminta masyarakat lebih berhati-hati ketika membersihkan lahan, terutama dengan cara menggunakan api. Jarak dengan kebun, permukiman dan kondisi angin perlu diperhatikan agar api tidak menjalar ke area lain.
Selain pencegahan, Yonsep menilai ketersediaan tampungan air di sekitar kawasan rawan kebakaran menjadi bagian penting dalam penanganan. Keberadaan sumber air dapat membantu petugas ketika harus melakukan pemadaman dengan cepat.
“Yang di Sungai Kuli kalau bukan karena ada tampungan air, kemarin itu selesai juga, habis. Pasti habis,” pungkasnya. (zac/jnr)
Editor : Januriansyah RT