Hingga 30 September, PMK Tarakan Sudah Laksanakan 356 Operasi Darurat Non-Kebakaran

Zakaria RT • Dipublikasikan Rabu, 30 September 2026 | 16:12 WIB
ILUSTRASI GENERATE AI
ILUSTRASI GENERATE AI

TARAKAN – Layanan pemadam kebakaran di Kota Tarakan tidak hanya berkutat pada penanganan kebakaran bangunan. Sepanjang Januari hingga 30 September 2026, Pemadam Kebakaran (PMK) Kota Tarakan mencatat telah menangani 356 Operasi Darurat Non-Kebakaran (ODNK).

Saat dikonfirmasi, Kepala Bidang Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan pada Satpol PP dan PMK Tarakan, Eko Supriyatnoko mengatakan, operasi darurat nonkebakaran merupakan bagian dari pelayanan Damkar kepada masyarakat.

“Data rekap per hari ini, kita total operasi darurat nonkebakaran itu ada 356. Layanan tersebut mencakup berbagai kejadian yang membutuhkan penanganan petugas. Mulai dari evakuasi ular dan tawon, penyelamatan warga, hingga penanganan kendaraan yang mengalami kondisi darurat," ujarnya, Rabu (30/9).

Bahkan, petugas Damkar sempat menerima laporan seorang warga yang tidak dapat turun setelah memanjat pohon kelapa. Kondisi tersebut kemudian ditangani melalui kemampuan vertical rescue yang dimiliki sejumlah personel.

“Itu baru kita alami. Teman-teman piket Regu C dapat laporan dari warga Kampung Satu, ‘Pak, ada warga naik pohon kelapa enggak bisa turun.’ Kejadian, Mas. Itu lucu tapi itu riil, itu nyata,” katanya.

Menurut Eko, penanganan seperti itu membutuhkan kemampuan khusus. Damkar Tarakan memiliki sejumlah personel yang memiliki kompetensi vertical rescue. Selain itu, terdapat pula anggota yang memiliki kemampuan khusus dalam menangani evakuasi satwa, termasuk buaya. Dari total 356 layanan tersebut, kasus yang paling banyak ditangani berkaitan dengan ular dan tawon. Eko menyebut laporan ular masuk ke permukiman warga bahkan hampir terjadi setiap hari.

“Mayoritas itu ular. Ular sama tawon sekitar 70 persen lah. Untuk ular, jenis yang paling sering dilaporkan antara lain kobra hitam, ular sawah dan piton. Penanganannya disesuaikan dengan karakteristik masing-masing jenis ular," terangnya.

Eko mengatakan, ular sawah umumnya cenderung tidak agresif setelah memangsa. Kondisinya berbeda dengan kobra yang lebih agresif sehingga membutuhkan respons petugas secara cepat.

“Kalau ular sawah itu habis makan. Habis makan maka dia cenderung tidak agresif. Tapi kalau kobra, kobra agresif. Jadi response time teman-teman ketika laporannya ular kobra, mereka akan bergerak cepat,” tuturnya.

Wilayah Tarakan Timur disebut menjadi salah satu kawasan yang cukup sering menerima laporan ular. Namun, laporan juga ditemukan di wilayah permukiman lainnya. Untuk wilayah barat, Eko menyebut kobra hitam juga kerap ditemukan, termasuk di kawasan Selumit dan Perumnas. Jenis ular tersebut dinilai berbahaya karena memiliki bisa dan dapat menyemburkan bisa ke arah sasaran.

“Kobra hitam itu kan berbahaya. Walaupun dia masih jauh di bawah king kobra. Nyembur dan nyemburnya pun juga bisa bikin buta. Kena patok pun berbahaya,” katanya.

Selain ular, evakuasi tawon jenis Vespa atau yang dikenal warga sebagai tawon ban kuning juga menjadi salah satu layanan yang ditangani Damkar. Penanganannya tidak dilakukan sembarangan karena tawon tersebut dapat menjadi agresif ketika sarangnya terganggu.

Eko menjelaskan, dalam kondisi normal, petugas tidak langsung mengevakuasi sarang tawon pada siang hari. Tim terlebih dahulu melakukan pemeriksaan kondisi di lapangan atau size up, kemudian tindakan dilakukan pada sore atau malam hari ketika kondisi dinilai lebih aman.

“Kalau tawon ban kuning atau Vespa, kita tidak berani eksekusi di siang hari. Agresif. Jadi begitu ada laporan masuk, anggota akan melakukan size up, nanti sore atau malam baru eksekusi,” terangnya.

Namun, prosedur tersebut dapat berubah apabila kondisi sudah darurat, terutama ketika terdapat warga yang terkena sengatan. Dalam kondisi demikian, petugas harus segera melakukan penanganan karena keberadaan sarang sudah menimbulkan ancaman langsung terhadap masyarakat.

“Kecuali kondisinya darurat, artinya sudah ada orang yang kena sengat. Artinya ini sudah ada yang ganggu, jadi sudah liar, mau enggak mau segera dievakuasi,” jelasnya. (zac/jnr)

Editor : Januriansyah RT
tarakan pmk Operasi Darurat Non Kebakaran pemadam kebakaran