TARAKAN - Persoalan ruang belajar masih menjadi salah satu pekerjaan rumah dalam penataan pendidikan di Kota Tarakan. Di sejumlah sekolah, keterbatasan ruang kelas membuat kegiatan belajar mengajar harus berlangsung dalam dua shift. Kondisi itu mendorong Dinas Pendidikan (Disdik) Tarakan melakukan pemetaan kebutuhan ruang belajar sebagai bagian dari persiapan menuju sistem satu shift pada 2028.
Kepala Disdik Tarakan Tamrin Toha mengatakan, persoalan yang dihadapi bukan terletak pada jumlah sekolah, melainkan daya tampung ruang kelas di sejumlah satuan pendidikan. “Kalau dari jumlah sekolah sebenarnya cukup. Yang menjadi persoalan itu kapasitas ruang kelasnya. Ada sekolah yang jumlah siswanya cukup banyak, tetapi ruang kelasnya belum mencukupi, sehingga pembelajarannya harus dibagi menjadi dua shift,” ujarnya, Jumat (25/9).
Kondisi tersebut membuat sebagian sekolah harus membagi waktu belajar antara pagi dan siang. Terutama sekolah yang berada di kawasan dengan pertumbuhan permukiman cukup pesat dan memiliki jumlah peserta didik relatif tinggi.
Untuk mengurangi penerapan dua shift, Disdik mulai memetakan kebutuhan tambahan ruang kelas di masing-masing sekolah. Pemetaan tersebut mempertimbangkan jumlah peserta didik, ketersediaan lahan, kondisi bangunan hingga perkembangan kebutuhan sekolah dalam beberapa tahun ke depan.
Sekolah yang masih memiliki lahan dapat dikembangkan secara horizontal melalui penambahan ruang kelas. Sementara sekolah dengan lahan terbatas harus mempertimbangkan pembangunan bertingkat.
“Kalau lahannya masih ada, tentu kita bisa menambah ruang kelas. Tetapi kalau lahannya sudah terbatas, kita harus melihat kemungkinan bangunan bertingkat. Bisa dua atau tiga lantai, tetapi tentu harus dilihat kondisi bangunannya dan kebutuhan anggarannya,” jelasnya.
Menurut Tamrin, pengembangan fasilitas pendidikan tidak bisa dilakukan secara seragam. Setiap sekolah memiliki kondisi lahan dan bangunan yang berbeda sehingga pola penanganannya juga harus disesuaikan.
Selain penambahan ruang kelas, kondisi struktur bangunan menjadi perhatian ketika sekolah diarahkan untuk dikembangkan secara vertikal. Perencanaan harus memastikan bangunan mampu menopang penambahan lantai dan tetap memenuhi aspek keamanan.
Target penerapan satu shift pada 2028 menjadi salah satu pertimbangan dalam penyusunan kebutuhan sarana pendidikan. Disdik tidak hanya menghitung kebutuhan ruang belajar saat ini, tetapi juga memperkirakan pertumbuhan jumlah peserta didik dan kebutuhan sekolah ke depan.
“Yang penting kebutuhan ruang belajar ini kita petakan supaya target satu shift itu bisa dicapai secara bertahap,” kata Tamrin.
Program revitalisasi satuan pendidikan juga menjadi salah satu opsi untuk menambah kapasitas sekolah. Usulan penanganan akan disesuaikan dengan kondisi dan tingkat kebutuhan masing-masing sekolah.
Tamrin menegaskan, penyelesaian sistem dua shift tidak bisa hanya mengandalkan penambahan ruang kelas. Pemerintah juga perlu memperhitungkan ketersediaan lahan, kondisi bangunan, kebutuhan peserta didik serta kemampuan anggaran.
“Harapan kita tentu anak-anak bisa belajar dengan waktu yang lebih ideal, tidak perlu dibagi pagi dan siang karena keterbatasan ruang. Jadi kebutuhan ruang kelas ini akan terus kita usulkan dan kita sesuaikan dengan kondisi sekolah masing-masing,” pungkasnya. (zac/jnr)
Editor : Januriansyah RT