TARAKAN - Risiko gempa tidak hanya menyangkut seberapa kuat guncangan terjadi, tetapi juga bagaimana kondisi bangunan saat menerima getaran. Karena itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tarakan melihat kondisi konstruksi sebagai salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam upaya mengurangi dampak bencana.
Saat dikonfirmasi, Kepala BPBD Tarakan, Yonsep, mengatakan bangunan di Tarakan memiliki karakter yang cukup beragam. Masih terdapat bangunan yang menggunakan material kayu, sedangkan pembangunan baru banyak memakai beton bertulang dan baja ringan. Kendati demikian, dikatakannya bangunan kontruksi kayu memiliki ketahanan lebih baik dari beton, lantaran konstruksi kayu memiliki sifat elastis terhadap getaran.
“Tentu semua berharap Tarakan aman dari musibah bencana alam. Tapi yang perlu diwaspadai adalah bangunan tua yang masih ditinggali masyarakat. Rata-rata dampak rumah yang hancur saat gempa adalah bangunan tua. Sehingga kami mengimbau kepada masyarakat yang meninggali bangunan tua dapat segera keluar rumah saat terjadi gempa," ujarnya, Jumat (25/9).
"Untungnya rata-rata bangunan tua di Kota Tarakan masih menggunakan kayu. Kayu itu cukup elastis dalam hal ketahanannya,” sambungnya.
Menurut Yonsep, kondisi bangunan lama perlu mendapat perhatian karena tidak seluruhnya dibangun dengan mempertimbangkan standar terhadap ancaman gempa. Berbeda dengan bangunan baru yangj dalam proses pembangunannya telah mengenal berbagai ketentuan konstruksi.
“Kalau gedung-gedung tua ini juga punya risiko besar karena mungkin pada saat dibangun belum mempertimbangkan standar terhadap potensi gempa. Tetapi gedung-gedung baru tentu sudah berbeda,” jelasnya.
Perkembangan pembangunan di Tarakan juga membuat penggunaan konstruksi beton bertulang semakin banyak. Struktur tersebut menggunakan tulangan sebagai bagian dari konstruksi untuk memperkuat bangunan.
“Kalau beton bertulang, tentu ada tulangannya. Jadi secara konstruksi pasti ada langkah-langkah untuk memperkuat bangunan,” jelasnya.
Namun, menurutnya, kekuatan bangunan hanya salah satu bagian dari mitigasi. Faktor kesiapan masyarakat juga memiliki peran penting ketika gempa benar-benar terjadi. Sehingga BPBD mengingatkan warga untuk mengenali jalur evakuasi dan titik kumpul. Pemahaman tersebut diperlukan agar masyarakat tidak kebingungan ketika harus meninggalkan bangunan dalam situasi darurat.
"Misalnya daerah pesisir, masyarakat juga perlu memahami langkah evakuasi apabila gempa yang terjadi memiliki potensi menimbulkan tsunami. Kami berharap masyarakat tidak panik ketika menghadapi bencana. Evakuasi yang dilakukan dengan tenang dan mengikuti jalur yang telah diketahui dapat membantu mengurangi risiko korban," tukasnya.
“Bencana memang tidak bisa kita cegah, tetapi bagaimana kita memitigasi agar jumlah korban semakin kecil. Itu yang paling utama. Oleh karena itu semua masyarakat perlu mendapatkan sosialisasi kebencanaan untuk meminimalisir korban jiwa saat terjadi gempa," pungkasnya. (zac/jnr)
Editor : Januriansyah RT