TARAKAN - Perluasan jaringan air bersih di kawasan Pantai Amal masih menghadapi persoalan di lapangan. Selain kondisi geografis dan biaya pembangunan, sejumlah wilayah juga belum dapat dijangkau jaringan perpipaan karena persoalan izin kawasan.
Direktur Utama Perumda Tirta Alam Tarakan, Iwan Setiawan mengatakan, persoalan tersebut tidak dapat hanya dibebankan kepada pihaknya. Diperlukan keterlibatan berbagai pihak agar masyarakat yang tinggal di kawasan tersebut tetap memperoleh akses pelayanan air bersih.
“Untuk wilayah-wilayah di RT yang masih bersengketa di Pantai Amal memang tidak mendapatkan izin dari TNI AL. untuk bisa merealisasikan pemasangan jaringan disana, butuh dorongan dari semua pihak, karena mereka juga warga negara Indonesia yang berhak mendapatkan pelayanan air bersih,” jelasnya, Minggu (20/9).
Selain persoalan izin kawasan, pengembangan jaringan juga menghadapi tantangan di wilayah perbukitan. Kondisi geografis dan jumlah rumah yang relatif sedikit menjadi pertimbangan Perumda Tirta Alam dalam menentukan prioritas pembangunan jaringan.
“Tetapi kalau misalnya jaraknya dari IPA induk sampai dua kilometer, tiga kilometer, sementara cuma satu rumah di situ, itu kan tidak potensial,” katanya.
Pembangunan jaringan menuju lokasi yang jauh dengan jumlah pelanggan yang sedikit membutuhkan biaya dan infrastruktur cukup besar. Karena itu, pengembangan jaringan diprioritaskan pada kawasan yang dapat memberikan manfaat kepada lebih banyak pelanggan.
Sementara itu, usulan pembangunan sumur umum atau fasilitas air bersama bagi warga yang belum terjangkau jaringan perpipaan dinilai berada di luar kewenangan Perumda Tirta Alam. “Kalau pembuatan sumur kan bukan ranahnya PDAM. Karena PDAM kan hanya operator penyediaan air baku menjadi air bersih yang bisa dialiri ke masyarakat,” terangnya.
Iwan menyebut, sebelumnya terdapat program Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) yang menyediakan sumur sekaligus tandon untuk kebutuhan masyarakat. Namun, program tersebut kini tidak lagi berjalan seperti sebelumnya.
Meski demikian, pemasangan jaringan di Pantai Amal tetap dilakukan pada kawasan yang tidak memiliki persoalan dengan wilayah TNI AL. “Bahkan kita di Amal itu sekarang lagi ada pemasangan juga, cuma untuk daerah-daerah yang tidak bersengketa dengan Angkatan Laut,” ujarnya.
Di sisi lain, Pantai Amal justru menjadi salah satu kawasan yang relatif aman dari gangguan pelayanan air bersih selama musim kemarau. Kondisi tersebut didukung keberadaan instalasi pengolahan air (IPA) berkapasitas tiga liter per detik di kawasan tersebut. “Nah, ini yang jadi masalah. Dan untuk wilayah Amal kita masih bisa memasangkan karena di sana kan ada IPA tiga liter per detik di Amal sana,” kata Iwan.
Menurutnya, ketika sebagian wilayah Tarakan mengalami keterbatasan air baku akibat kemarau, distribusi ke kawasan Amal dan Juata masih relatif lancar. Gangguan yang terjadi umumnya disebabkan persoalan teknis seperti kebocoran atau kerusakan pipa.
“Dengan kondisi kemarau ini justru Amal itu lancar saja, tidak pernah terkendala kecuali ada pipa bocor. Dan Amal yang paling aman dalam kondisi kemarau saat ini, yang paling aman itu adalah daerah Amal dan Juata,” pungkasnya. (zac/jnr)
Editor : Januriansyah RT