ORI Kaltara Soroti Adanya Material Berbahaya dalam Menu MBG di Tarakan

Zakaria RT • Dipublikasikan Minggu, 20 September 2026 | 19:13 WIB
Kepala ORI Kaltara, Maria Ulfah. AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN
Kepala ORI Kaltara, Maria Ulfah. AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN

TARAKAN - Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Tarakan kembali menjadi perhatian Ombudsman Republik Indonesia (ORI) Perwakilan Kalimantan Utara (Kaltara), pasca adanya  laporan masyarakat terkait adanya material yang diduga membahayakan dalam menu makanan. Laporan tersebut tidak hanya berkaitan dengan penerima MBG di lingkungan sekolah. ORI juga menerima informasi mengenai temuan serupa pada menu yang diperuntukkan bagi balita.

Saat dikonfirmasi, Kepala ORI Perwakilan Kaltara, Maria Ulfah mengatakan, informasi awal diterima pihaknya pada Kamis (17/9). Keluhan serupa kembali diterima pada Sabtu (19/9). Informasi tersebut disampaikan masyarakat melalui Hotline aduan WhatsApp. Setelah menerima laporan, ORI kemudian melakukan penelusuran awal dan berencana meminta konfirmasi kepada pihak-pihak terkait.

“Ini memang bukan keracunan, tetapi benda yang membahayakan itu ada dalam menu MBG. Bayangkan kalau material itu dikunyah, digigit, dimakan, dikonsumsi,” ujarnya, Minggu (20/9).

Maria mengatakan, material yang dilaporkan bukan merupakan bagian dari makanan. Material tersebut disebut memiliki karakter membahayakan dan tajam sehingga keberadaannya di dalam menu MBG perlu mendapatkan perhatian serius. Laporan untuk penerima manfaat di sekolah disebut berkaitan dengan salah satu Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMP) di Tarakan. Namun, ORI tidak mengungkap identitas sekolah maupun pelapor karena informasi tersebut masih dalam tahap pendalaman.

"Sementara untuk laporan yang berkaitan dengan balita, Maria mengaku belum memperoleh informasi secara lengkap mengenai lokasi penyaluran. Pihaknya belum dapat memastikan apakah menu tersebut disalurkan melalui posyandu atau PAUD," urainya.

Meski demikian, informasi awal yang diterima ORI menyebut material yang ditemukan pada menu untuk siswa dan balita memiliki kesamaan. Persoalan tersebut dinilai tidak dapat dipandang hanya dari perspektif kasus keracunan makanan. Menurut Maria, keamanan makanan juga mencakup kemungkinan adanya benda atau material asing yang masuk ke dalam makanan dan berpotensi melukai penerimanya.

“Iya, materialnya sama. Material membahayakan dan tajam. Karena itu, kami meminta persoalan tersebut menjadi perhatian berbagai pihak, mulai dari sekolah, Dinas Pendidikan, pemerintah daerah hingga Badan Gizi Nasional (BGN)," tukasnya. (zac/jnr)

Editor : Januriansyah RT
menu mbg tarakan ombudsman Mbg ori