TARAKAN - Kebutuhan sumber air untuk penanganan kebakaran di Tarakan menjadi perhatian Satuan Polisi Pamong Praja dan Pemadam Kebakaran (Satpol PP dan PMK) Tarakan. Tidak hanya untuk menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), keberadaan sumber air yang mudah dijangkau juga penting ketika kebakaran terjadi di kawasan permukiman.
Sejumlah kawasan seperti Persemaian dan Aki Balak sebelumnya sempat mengalami kebakaran. Bahkan, salah satu titik api disebut hanya berjarak sekitar 30 meter dari rumah warga. Kondisi ini membuat petugas harus mencegah api agar tidak semakin mendekati permukiman.
“Yang kita khawatirkan ketika api sudah mendekati permukiman. Karena kalau sudah masuk ke kawasan rumah warga, penanganannya tentu berbeda dan risikonya juga lebih besar,” ujarnya Kepala Satpol PP dan PMK Kota Tarakan, (18/9).
Persoalan tidak hanya berada pada kesiapan armada. Ketersediaan sumber air menjadi bagian penting karena armada harus segera kembali ke lokasi setelah tangki kosong. Saat musim kemarau, kondisi sumber air baku juga mengalami keterbatasan.
Saat ini, armada pemadam masih mengandalkan pasokan air dari Pertamina di Mako Kampung Satu. Pengisian tangki berkapasitas 10 ton di lokasi tersebut dapat dilakukan kurang dari tiga menit. “Kalau kita isi tangki 10 ton di Pertamina itu kurang dari tiga menit. Itu jauh lebih cepat dibandingkan kalau kita menggunakan sumur bor,” jelasnya.
Sementara pengisian menggunakan sumur bor membutuhkan waktu sekitar 15 menit. Dalam kondisi kebakaran, perbedaan waktu tersebut cukup berarti karena armada harus segera kembali ke titik api.
“Kalau pakai sumur bor sekitar 15 menit. Dalam kondisi kebakaran, waktu lima sampai sepuluh menit saja sangat berarti, karena armada harus segera kembali ke lokasi,” katanya.
Kondisi inilah yang membuat kebutuhan sumber air yang tersebar di kawasan rawan kebakaran menjadi penting. Hidran dapat menjadi salah satu fasilitas pendukung agar armada tidak selalu bergantung pada satu titik pengisian air.
Dengan sumber air yang lebih dekat, waktu perjalanan armada untuk mengisi ulang tangki dapat ditekan. Hal itu menjadi semakin penting ketika kebakaran terjadi di dekat permukiman dan membutuhkan pemadaman berulang.
Selain hidran, Satpol PP dan PMK juga berencana mengusulkan penambahan fasilitas penampungan air hujan sebagai cadangan. Upaya tersebut dinilai diperlukan untuk menghadapi keterbatasan sumber air selama musim kemarau.
“Kita ke depan akan mengusulkan juga penampungan air hujan. Jadi ketika ada sumber air yang bisa kita tampung, itu bisa menjadi cadangan untuk kebutuhan pemadaman,” urainya.
Sofyan menegaskan kesiapan menghadapi karhutla tidak cukup hanya dengan menambah armada. Ketersediaan sumber air, fasilitas pendukung, pemantauan kawasan rawan serta koordinasi antarinstansi harus berjalan bersamaan agar penanganan tidak terlambat.
“Jadi bukan hanya armada yang disiapkan. Koordinasi harus jelas, sumber air juga harus ada, dan ketika ada laporan semua sudah tahu harus bergerak ke mana dan melakukan apa,” pungkasnya. (zac/jnr)
Editor : Januriansyah RT