TARAKAN – Kabut asap kembali terlihat di Kota Tarakan hingga Jumat (18/9). Kondisi udara yang sempat membaik setelah hujan kembali berkabut, terutama ketika angin masih relatif tenang pada pagi hari.
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II Juwata Tarakan, Muhammad Sulam Khilmi menjelaskan, kondisi tersebut berkaitan dengan dinamika atmosfer dan pergerakan massa udara. Saat kecepatan angin rendah, partikel asap cenderung bertahan di lapisan udara dekat permukaan sehingga membuat pandangan terlihat lebih pekat.
“Kalau pagi terlihat lebih pekat, itu karena anginnya masih cenderung kalem. Ada proses pemanasan dan pergerakan udara, tetapi partikel asap tidak langsung naik tinggi sehingga masih berada di lapisan udara yang rendah. Setelah angin mulai menguat, asap ikut terbawa dan konsentrasinya bisa berubah,” jelas Sulam.
Sebelumnya, hujan yang mengguyur Tarakan dan sejumlah wilayah Kaltara sempat membuat kondisi udara lebih bersih. Jarak pandang di Tarakan bahkan mencapai sekitar 8 kilometer.
Namun, membaiknya kondisi udara tersebut belum sepenuhnya menghilangkan potensi kabut asap. Sebab, dari sisi regional masih terdapat aktivitas hotspot dalam jumlah tinggi di sejumlah wilayah Kalimantan.
Sulam menyebut hotspot di Kaltim, Kalteng dan Kalsel masih mencapai ratusan titik. Sementara di Kaltara, jumlah hotspot berada di kisaran 30 titik. “Di Kaltara jumlah hotspot kemarin mungkin sekitar 30, sementara di Kaltim, Kalsel dan Kalteng sudah ratusan,” katanya.
Pergerakan angin menjadi faktor penting dalam perubahan kondisi kabut asap di Tarakan. Saat angin dominan bergerak dari selatan ke utara, asap dari wilayah Kaltim, Kalteng dan Kalsel berpotensi terbawa menuju Kaltara.
“Tarakan dan beberapa wilayah Kaltara kemarin memang sudah hujan dan kondisinya sempat cukup bersih, jarak pandang mencapai 8 kilometer. Tetapi di Kalteng, Kaltim dan Kalsel hotspot masih tinggi. Angin dominan bergerak dari selatan ke utara, sehingga asap dari wilayah tersebut bisa terbawa ke Kaltara, termasuk Tarakan,” ujar Sulam.
Sementara itu, karhutla yang terjadi di Bulungan tidak disebut menjadi penyumbang utama kabut asap di Tarakan. Selain jumlah kejadiannya tidak signifikan, arah angin dari wilayah tersebut juga tidak langsung menuju Tarakan.
“Memang di Bulungan sampai kemarin ada peristiwa karhutla, tetapi tidak signifikan menyumbang asap. Arah anginnya juga lebih ke utara, bukan ke timur menuju Tarakan,” ungkapnya.
BMKG memperkirakan potensi asap kiriman masih dapat terjadi selama aktivitas karhutla dan hotspot di wilayah selatan Kalimantan masih tinggi. September juga menjadi periode puncak kemarau di sejumlah wilayah tersebut sehingga kondisi panas dan minim hujan masih berpotensi berlangsung hingga akhir bulan.
Meski angin menguat pada siang hari dan membuat konsentrasi asap berubah, kondisi udara tidak otomatis menjadi bersih. Perubahan massa udara tetap dipantau karena angin dapat kembali membawa asap dari wilayah sumber.
“Kami tetap pantau dari waktu ke waktu, dari jam ke jam, termasuk berapa jarak pandang di Tarakan. Kalau angin kembali membawa asap, kondisi bisa menjadi pekat lagi. Jadi perkembangannya tetap kami monitor,” pungkas Sulam. (zar/jnr)
Editor : Januriansyah RT