Hotspot Ratusan, Asap Pekat Kembali Menyelimuti Tarakan

Eliazar Simon • Dipublikasikan Jumat, 18 September 2026 | 21:35 WIB
KABUT : Kabut asap kembali menyelimuti Kota Tarakan akibat dipengaruhi asap kiriman dari wilayah selatan Kalimantan. ISTIMEWA
KABUT : Kabut asap kembali menyelimuti Kota Tarakan akibat dipengaruhi asap kiriman dari wilayah selatan Kalimantan. ISTIMEWA

TARAKAN – Kabut asap kembali menyelimuti Kota Tarakan hingga Jumat (18/9). Kondisi tersebut terjadi setelah udara sempat membaik akibat hujan yang turun dalam beberapa hari sebelumnya.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Tarakan menyebut kondisi tersebut berpotensi dipengaruhi asap kiriman dari wilayah selatan Kalimantan. Pasalnya, aktivitas titik panas (hotspot) di Kalimantan Timur (Kaltim), Kalimantan Tengah (Kalteng), dan Kalimantan Selatan (Kalsel) masih tergolong tinggi.

Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II Juwata Tarakan, Muhammad Sulam Khilmi mengatakan, hujan sebelumnya sempat membuat kondisi udara di Tarakan lebih bersih. Jarak pandang bahkan mencapai sekitar 8 kilometer.

Namun, kondisi tersebut dapat kembali berubah karena adanya pergerakan massa udara dari wilayah yang masih memiliki banyak hotspot.

“Tarakan dan beberapa wilayah Kaltara kemarin memang sudah hujan dan kondisinya sempat cukup bersih, jarak pandang mencapai 8 kilometer. Tetapi di Kalteng, Kaltim dan Kalsel hotspot masih tinggi. Angin dominan bergerak dari selatan ke utara, sehingga asap dari wilayah tersebut bisa terbawa ke Kaltara, termasuk Tarakan,” ujar Sulam.

Menurut Sulam, kondisi ini berbeda dengan asap yang bersumber dari karhutla di Bulungan. Kebakaran yang terjadi di wilayah tersebut dinilai tidak signifikan dalam menyumbang asap ke Tarakan.

“Memang di Bulungan sampai kemarin ada peristiwa karhutla, tetapi tidak signifikan menyumbang asap. Arah anginnya juga lebih ke utara, bukan ke timur menuju Tarakan,” katanya.

BMKG mencatat perbedaan jumlah hotspot cukup mencolok antara Kaltara dengan wilayah selatan Kalimantan. Di Kaltara, hotspot berada di kisaran 30 titik, sedangkan di Kaltim, Kalteng dan Kalsel jumlahnya telah mencapai ratusan.

“Di Kaltara jumlah hotspot kemarin mungkin sekitar 30, sementara di Kaltim, Kalsel dan Kalteng sudah ratusan. Puncak kemarau di tiga provinsi itu juga September, jadi sampai akhir September masih diprediksi panas dan hujan belum banyak,” ungkapnya.

Tingginya hotspot tersebut membuat potensi asap kiriman masih perlu diwaspadai. Terlebih, angin dominan bergerak dari selatan menuju utara sehingga massa udara dari wilayah tersebut berpotensi mencapai Kaltara.

Kondisi kabut asap pun sangat bergantung pada perubahan arah dan kecepatan angin. Apabila angin kembali membawa massa udara yang mengandung asap, konsentrasi partikel di Tarakan dapat meningkat.

BMKG Tarakan terus memantau perkembangan kondisi atmosfer, termasuk pergerakan angin dan jarak pandang. Pemantauan dilakukan secara berkala untuk mengetahui perubahan kondisi udara di Tarakan.

“Kami tetap pantau dari waktu ke waktu, dari jam ke jam, termasuk berapa jarak pandang di Tarakan. Kalau angin kembali membawa asap, kondisi bisa menjadi pekat lagi. Jadi perkembangannya tetap kami monitor,” pungkas Sulam. (zar/jnr)

Editor : Januriansyah RT
karhutla tarakan kabut asap