TARAKAN - Peluang pasar kepiting hidup Indonesia ke Tiongkok dinilai perlu dibarengi dengan pembenahan tata kelola perdagangan di daerah. Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kalimantan Utara (Kaltara) mendorong proses ekspor dibuat lebih sederhana, namun tetap disertai pengawasan ketat sejak komoditas dikumpulkan hingga dikirim ke negara tujuan.
Ketua DPD HNSI Kaltara, Muhammad Nurhasan mengatakan, penerapan sistem satu pintu atau single window dalam proses ekspor kepiting menjadi langkah yang dapat memberikan kepastian bagi nelayan dan pelaku usaha. Sistem tersebut merupakan hasil kolaborasi antara Bareskrim Polri dan Badan Karantina Indonesia.
Menurutnya, kepiting hidup membutuhkan penanganan cepat karena kualitas komoditas sangat bergantung pada waktu dan proses pengiriman. Ketidakpastian dalam tahapan administrasi maupun logistik dapat berdampak terhadap biaya yang harus ditanggung pelaku usaha.
“Sistem satu pintu ini menjawab ketidakpastian waktu dan efisiensi biaya yang selama ini dialami nelayan. Kepiting hidup punya nilai jual tinggi tetapi sangat bergantung pada kecepatan proses logistik agar kualitasnya tetap terjaga,” ujar Nurhasan dalam keterangan tertulisnya, Kamis (17/9).
Namun, kemudahan proses ekspor menurutnya tidak boleh mengesampingkan aspek keberlanjutan. Pengawasan terhadap komoditas yang diperdagangkan perlu diperketat untuk mencegah kepiting yang bertelur maupun kepiting berukuran di bawah ketentuan masuk dalam rantai ekspor.
HNSI Kaltara juga menyoroti dugaan masih adanya perdagangan kepiting melalui jalur tidak resmi di kawasan perbatasan Tarakan menuju Tawau, Malaysia. Kondisi tersebut dinilai perlu menjadi perhatian aparat karena dapat memengaruhi tata niaga kepiting di tingkat nelayan.
“Aparat harus menindak tegas jalur-jalur penyelundupan perbatasan. Kita ingin ekspor dipercepat, pengawasan diperkuat, dan ekosistem laut tetap terjaga,” tegasnya.
Nurhasan berharap sistem satu pintu dapat sekaligus memperkuat penelusuran asal-usul kepiting yang dikirim ke luar negeri. Dengan demikian, komoditas yang masuk ke jalur ekspor dapat diketahui sumbernya dan proses perdagangannya lebih mudah diawasi.
"Peluang pasar Tiongkok dapat menjadi ruang bagi peningkatan nilai ekonomi komoditas kepiting. Tapi, pemanfaatan pasar tersebut tetap perlu diimbangi dengan pengawasan agar aktivitas perdagangan tidak mengorbankan keberlanjutan sumber daya laut maupun kepentingan nelayan lokal," pungkasnya. (zac/jnr)
Editor : Januriansyah RT