Uji Keselamatan Pelayaran di Tarakan, Tangga Darurat Jadi Catatan Evaluasi

Eliazar Simon • Dipublikasikan Rabu, 16 September 2026 | 20:21 WIB
EVALUASI : Salah satu evaluasi dari simulasi keselamatan pelayaran yang dilakukan di Pelabuhan Tengkayu I Tarakan yaitu harusnya adanya tangga darurat. ISTIMEWA
EVALUASI : Salah satu evaluasi dari simulasi keselamatan pelayaran yang dilakukan di Pelabuhan Tengkayu I Tarakan yaitu harusnya adanya tangga darurat. ISTIMEWA

TARAKAN – Simulasi keselamatan pelayaran di perairan Pelabuhan Tengkayu I Tarakan tidak hanya menguji kemampuan awak kapal menghadapi kebakaran dan orang jatuh ke laut. Latihan tersebut juga menemukan kebutuhan sarana pendukung evakuasi, salah satunya tangga darurat.

Kepala KSOP Tarakan Stanislaus Wembly Wetik melalui Kepala Pos Pelabuhan Tengkayu I Tarakan, Abdul Rahman mengatakan, secara umum awak kapal telah memahami peran masing-masing ketika menghadapi kondisi darurat. Namun, hasil simulasi menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan kesiapan keselamatan.

“Pelaksanaan simulasi cukup baik. Mereka sudah memahami siapa yang berbuat dan bertugas apa ketika menghadapi insiden. Namun ada beberapa evaluasi, salah satunya mungkin dibutuhkan tangga darurat sehingga saat evakuasi di laut bisa menggunakan tangga monyet,” ujar Rahman, Selasa (15/9).

Simulasi fire drill dan man overboard tersebut digelar dalam rangkaian peringatan Hari Perhubungan Nasional 2026. Kegiatan melibatkan tim gabungan KSOP Tarakan, pengelola Pelabuhan Tengkayu I, Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara, Jasa Raharja Tarakan, Dinas Perhubungan Kaltara, Satpol PP Kaltara dan awak kapal.

Sebelum latihan dimulai, Kantor Kesehatan Pelabuhan melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap awak kapal. Hal tersebut dilakukan untuk memastikan seluruh peserta siap mengikuti latihan.

Dalam skenario pertama, kapal yang sedang berlayar mengalami kebakaran ketika sebagian awak kapal sedang beristirahat. Kejadian kemudian dilaporkan kepada nakhoda dan diteruskan kepada pengelola serta pihak terkait.

Awak kapal kemudian melakukan tindakan pemadaman menggunakan APAR dan berkomunikasi melalui radio. Skenario berkembang ketika salah satu awak kapal dinyatakan jatuh ke laut. Pada kondisi tersebut, awak kapal dituntut segera merespons dan melakukan proses penyelamatan terhadap korban.

Rahman mengatakan latihan tersebut sekaligus menjadi penyegaran bagi awak kapal perairan rakyat. Sebab, kemampuan menghadapi keadaan darurat tidak cukup hanya mengandalkan sertifikat kompetensi.

“Untuk kegiatan hari ini, kita mengisi rangkaian Hari Perhubungan Nasional dengan melaksanakan simulasi fire drill dan man overboard di wilayah perairan Tengkayu I,” katanya.

Ia menjelaskan, sebagian awak kapal telah memiliki kompetensi keselamatan seperti BST, SKK maupun MPR. Namun, kemampuan tersebut perlu terus dipraktikkan agar awak tidak hanya memahami prosedur secara teori.

“Kecelakaan kapal tidak bisa kita prediksi kapan dan di mana terjadi. Makanya dengan kegiatan seperti ini kita memberikan edukasi supaya hal-hal yang lebih besar tidak terjadi,” jelasnya.

Menurut Rahman, simulasi juga memberikan gambaran mengenai kondisi nyata yang mungkin dihadapi kapal-kapal rakyat dalam pelayaran lokal. Dengan latihan, awak kapal dapat mengetahui respons yang harus dilakukan ketika menghadapi kebakaran maupun kejadian orang jatuh ke laut.

Temuan mengenai kebutuhan tangga darurat menjadi salah satu catatan penting dari latihan tersebut. Sarana tersebut dinilai dapat membantu proses evakuasi ketika korban atau awak kapal harus keluar dari air dan kembali ke kapal.

Rahman berharap evaluasi yang muncul dalam simulasi tidak berhenti sebagai catatan, tetapi dapat menjadi bahan perbaikan keselamatan bagi kapal-kapal rakyat yang beroperasi di wilayah Tarakan.

“Kita berharap pemahaman yang diperoleh dari simulasi ini bisa diterapkan apabila terjadi kondisi sebenarnya, sehingga penanganan dapat dilakukan dengan cepat dan tepat,” pungkasnya. (zar/jnr)

Editor : Januriansyah RT
keselamatan pelayaran tarakan pelayaran